Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Undangan kelulusan


__ADS_3

Hari berganti hari. Tak terasa ujian telah selesai. Sembari menunggu kelulusan, Ais pun mulai untuk memilih jurusan kuliah yang akan Ia masuki.


"Gue, ngga tahu kuliah apa engga." ucap Nisa.


"Lah, kenapa?"


"Ibu ngga ada biaya. Mau kerja, kerja apa? Tamatan SMA sekarang ngga ada yang mau nampung. Paling, jadi buruh."


"Gimana kalau kerja dikantor Kak Lim? Kan Loe pengen kesana."


"Ngga enak ah, takut nanti dibilang memanfaatkan." jawab Nisa.


"Lah, hidup memang harus saling memanfaatkan, Nisa. Aneh Loe." sergah Aiswa.


Mereka duduk santai dibawah pepohonan rimbun. Itu ada di dekat kelas mereka. Nisa sengaja membawa bekal, agar mereka dapat merasakan seolah tengah piknik berdua.


"Gue malah bingung, mau kuliah dimana. Banyak banget pilihan. Apa gue kasih Loe satu?"


"Aneh Loe." cibir Nisa.


"Mama minta gue kuliah di luar negri. Eh, di Acc pula sama Kakak suami. Baru aja mau akur, masa iya disuruh LDR."


"Yang begitu, Loe bilang akur? Astaga, kalian."


"Ya, setidaknya  ngga galak banget seperti kemarin." jawab Ais, diselingi tawa puasnya.


Mereka asyik bersenda gurau, tanpa ada siapapun yang dapat mengganggu. Zia dalam pengawasan saat ini, Ia pun berencana akan pindah keluar kota demi dapat melanjutkan hidupnya yang tetap dalam ketenangan.

__ADS_1


Hp Ais berbunyi. Seperti biasa, itu jadwal Lim menelponnya.


"Ya Kakak?"


"Belum pulang? Bukankah tak ada pelajaran?"


"Main dulu lah. Bentar aja, please."


"Jam Dua belas, harus sudah di rumah."


"Ini lagi nunggu undangan kelulusan loh Kak. Protektif banget lah." keluh Ais.


"Aku... Rindu." ucap Lim.


Meski nadanya datar, tapi begitu menyentuh. Atau mungkin akan aneh, ketika Lim mengucapkan nya dengan nada yang manis mendayu-dayu.


"Aaaaaah, Kakak suami. Jadi pengen cepet-cepet pulang deh."


Ais tampak begitu semringah. Wajah nya merah merona, bagaikan kepiting rebus yang baru dimasak.


"Ais, sadar! Loe kesambet hantu pohon?"


"Hah, mana hantu?" kagetnya.


"Lah itu? Kira gue kesamber memedi." cebik Nisa.


Ia kemudian berdiri, dan menyambut Ais dalam gandengannya. Berjalan menuju ruangan kepala sekolah untuk mengambil surat undangan kelulusan.

__ADS_1


"Gue deg-degan..." ucap Nisa.


"Ngapain? Kalau Loe pasti lulus."


"Takut aja, nilai ngga sesuai kemauan. Ibu." jawabnya murung.


Ais merangkulnya. Dan membawanya duduk mengantri bersama demi selembar undangan.


"Eh, preman. Emangnya, Loe dapet undangan? Lulus aja ngga tahu." cibir Zia.


Rupanya masih dengan sifat lamanya yang suka membully, meski tak lagi memiliki teman seperti saat itu.


"Masih penasaran ama gue rupanya. Udah lah ya... Yang mau pergi itu prepare aja, ngga usah gangguin gue lagi. Capek." balas Ais..


"Gue besok yang dateng Mami dong. Ngga kayak Loe. Ditinggal Mama Loe pergi jauh, setelah dipaksa nikah sama Aki-aki. Papa udah mati, kasihan."


Perih di dengar, tapi Ais berusaha tak ambil pusing dengan ucapannya.


"Selamat, ya. Karena setidaknya Mami Loe masih sempet ambil hasil ujian Loe kesekolah."


"Loe! Kenapa malah kasih selamat ke gue?"


"Gue emang udah ngga ada Papa. Tapi, setidaknya gue sekarang punya banyak temen. Ngga kayak Loe. Punya Papa, tapi bahkan ngga bisa Loe temuin."


Zia mencebik bibir. Ucapan kegembiraan, seketika dipatahkan Ais. Ia menghentakkan kakinya, lalu pergi meninggalkan mereka semua.


Ais menunggu, dan terus menunggu. Semua orang mendapat undangan, sedang Ia begitu lama menunggu di luar dan belum juga di panggil.

__ADS_1


"Mana punya Loe?" tanya Nisa, yang telah menyandang tasnya.


"Tanya deh, sama Pak Bowo. Kesel lama-lama." kesalnya, lalu memaksa untuk masuk ke dalam ruangan gurunya.


__ADS_2