Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Nisa tersesat


__ADS_3

Nisa berjalan-jalan menyusuri setiap ruangan. Entah apa yang Ia cari, tapi terbesit cita-cita untuk dapat bekerja di perusahaan besar itu.


"Apakah, kali ini aku bisa menggunakan kekuatan orang dalam?" fikirnya.


Ia terus berjalan dan berjalan hingga jauh. Hingga Ia tersesat dan lupa jalan awal.


"Nisa dimana?" lirihnya dengan segala rasa takut.


Ruangan itu luas, dan begitu sepi. Bahkan, seperti kedap udara, dan semakin mengerikan ketika suara Nisa sendiri memantul disana.


"Kak Dimas... Nisa nyasar." rengeknya.


Ia berusaha keras menghubungi Dimas dan yang lain, tapi gagal. Agaknya, itu ruangan paling atas dekat dengan gudang yang jarang diawasi oleh yang lain.


Nisa terduduk lesu disana. Baru terasa lelah, ketika Ia mulai merasa takut sendirian.


" Kamu sama siapa?" tanya Lim.


"Sama Nisa. Eh, Nisa mana?" tanya Ais.


"Mana ku tahu. Kenapa tak ikut masuk tadi?"


"Dia ngga mau. Ayo, bantuin cari." tarik Ais pada lengan Lim.


Ia mencari kemana-mana, hingga keluar. Tapi tak juga ditemukan. Ais berkali-kali menghubungi pun, tak tersambung ke ponsel sahabatnya itu.


"Kak Dim, ada ketemu Nisa, ngga?" telefonnya.


"Dia dimana?"

__ADS_1


"Iiih, kok nanya?" kesal Ais. Lim merebut Hp itu, dan menjawab pertanyaan Dimas.


"Dim? Nisa berkeliling kantor sendirian. Dan mungkin, saat ini tersesat. Sinyal hilang, kemungkinan ditempat yang tinggi. Aku dibawah, kau pergilah dulu. Ku periksa CCTV." ucap Lim.


"Baik..." Dimas pun bergegas keluar ruangan, dan mulai menelusuri setiap kemungkinan keberadaan Nisa.


"Kehilangan sinyal? Dimana dia?" ucapnya, sembari berfikir keras.


Sementara itu, Lim dan Ais tengah berada di ruang kendali CCTV saat ini. Lim sendiri yang turun tangan memeriksa semuanya dengan teliti.


"Kemungkinan, kalau sinyal sampai hilang itu, ada di dekat gudang. Coba saja. Atau, saya lari kesana sekarang?" tawar sang satpam..


Lim menggeleng, dan Ia kembali menghubungi Dimas untuk memberitahu posisi Nisa saat ini.


"Ya, aku didekat sana sekarang."


"Baiklah." jawab Lim, sedikit lega.


"Nisa?"


"Kak Dim... Untung Kakak dateng. Nisa coba telepon, tapi ngga bisa. Nisa nyasar, ngga tahu jalan pulang."


"Ya, untung segera ketemu." ucap Dimas, memasangkan jas ditubuh Nisa.


"Ayo pulang, Ais sudah menunggumu." ucap Dimas, berdiri dan ingin mendahului.


"Kakak..." panggil Nisa, yang masih diam di tempat.


Dimas pun membalik badan, dan menatapnya lagi, "Ya?"

__ADS_1


"Gemeteran.." ucap Nisa.


Dimas pun menggaruk dahinya. Ia kemudian mengeluarkan jari kelingkingmya, dan memberikannya pada Nisa.


"Di genggam, woy. Masa cuma kelingking. Tapi, ngga papa lah. Ada kemajuan." batin Nisa.


Ia pun menggandeng kelingking Dimas dengan kelingkingnya. Mereka berjalan berdua, keluar dari ruangan yang pengap itu. Menghampiri Ais dan Lim yang sudah menunggunya lama.


" Nisa!" pekik Ais lalu memeluknya.


" Loe darimana aja sih? Pake acara ngilang?"


"Maaf, sangking gedenya kantor ini, gue nyasar." sesal Nisa, menangis tersedu-sedu dalam pelukan sahabatnya itu.


"Yaudah, jangan nangis. Malu di lihatin Kak Dim."


"Tapi sediiiiih."


Ais justru ikut menangis meraung dengannya, membuat kedua pria itu melotot kebingungan.


"Eh, kenapa nangis?" tegur Lim pada istrinya.


"Nisa nangis, jadi kebawa suasana." jawab Ais.


"Maaf, Nisa trauma masalah nyasar begini. Dulu pernah nyasar, gelap, kehujanan, besoknya baru ketemu Ibu." sahut Nisa.


"Udah, malu di lihat orang." Lim menarik tubuh Ais, dan mengusap air matanya.


"Nisa gimana?" tanya Nisa, menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Dimas perlahan mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya. Kemudian, mengusap air mata Nisa. Meski tak semesra Lim pada Ais, tapi Nisa begitu bahagia saat ini.


"Jantung ini... Debarannya begitu kuat.. Aaaaakkhhh! Kak Dim..." gumam Nisa dalam hati.


__ADS_2