Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Dimas dan Nisa


__ADS_3

"Mau kemana kalian?"


"Kamu, siapa?" tanya Ais. Ia menggenggam tangan Nisa, dan membawanya kebekang tubuhnya untuk di lindungi.


"Ais, hati-hati." bisik Nisa padanya.


"Kamu, siapa? Apa hubungan dengan Almira?" tanya Ais.


"Aku? Aku tak ada hubungan dengan Al, atau siapapun itu. Urusanku, hanya dengan Lim. Si pria dingin dan arogan, yang bisa seenaknya menyingkirkan orang lain. Aku, dendam kesumat padanya."


Dia lah Ronald. Dia adalah salah seorang mantan kolega Lim, yang dibuat bangkrut karena satu kesalahan. Tapi, kesalahan itu memang fatal.


" Lalu, apa hubunganmu dengan Wanita palsu itu?" tanya Nisa.


" Kau suda tahu dia palsu? Baiklah, berarti kau sudah pantas ku singkirkan."


Ronald bergerak, menyerang Ais dan AisĀ  segera melawannya. Pukulan demi pukulan Ia tangkis dengan aman, membuat pria itu terheran padanya.


" Jadi, tadi kau hanya pura-pura lemah?


"Ya, kenapa, heran?"


"Berarti, gue ngga perlu lembut sama Loe." seranganya semakin brutal, tak segan menedang dan menyerang bagian kepala yang vital.


Ais mulai lemah, biar bagaimanapun Ia wanita.


"Capek? Makanya, nyerah aja." ledeknya.

__ADS_1


Ais terjatuh, tapi Nisa tetap di sampingnya. Menggenggam tangannya dengan begitu erat dan terus memberinya kekuatan.


"Ais, ayo lari. Gue takut, loe kenapa-napa."


"Loe, masih ragu sama gue?" senyumnya pada Nisa.


Ronald mengambil tongkat itu ditangannya. Ia mulai bergerak kembali setelah melemaskan otot-ototnya. Menghampiri Ais yang tergolek lemah di sana. Tapi, Ronald terlebih dulu di pukul oleh seseorang dan tersungkur ke lantai..


" Aaarrrggghh! Siapa yang berani...."


"Aku.... Kau ingat aku?" Dimas datang.


"Kak Dim?" lirih Ais disambung Nisa.


"Maat telat."


Pertarungan digantikan oleh Dimas. Ais dan Nisa hanya memojok dan menatap pertarungan sengit, antara pria yang sama kuatnya itu. Hingga, Ronald kalah dan tersungkur kembali dengan wajah memar penuh darah.


" Kakak..." Ais dan Nisa menghampirinya. "Ngga papa?"


"Engga, hanya sedikit memar, mungkin." jawab Dimas, santai.


"Ais, ayo kita ke hotel. Lim, sedang disana bersama Al palsu." ajak Dimas.


"Iya. Meski Kak Lim ngga akan menanggapi, tapi mustahil jika tak tergoda. Karena...."


"Apa?" tanya Ais dan Dimas.

__ADS_1


"Wanita itu, menggunakan pakaian sangat seksi. Jiwa lelaki, pasti terpancing." jawab Nisa.


Muka Ais memerah. Amarahnya seketika memuncah. Apalagi, fikirannya sudah menerawang kemana-mana.


"Kak Dim, ayo kesana! Jangan pernah kasih kesempatan sedikitpun, untuk Dia menyentuh Kakak suami."


Ais melangkah cepat, meninggalkan mereka menuju motornya.


"Baik...." Dimas akan menyusu, tapi lengan kemejanya ditarik Nisa.


"Kakak kesini, demi Ais atau demi Nisa?"


"Jangan bertanya itu dulu, Nisa. Sekarang, kita fokus saja pada Lim. Bisa?" Dimas memegang bahu Nisa, dan menatapnya tajam penuh keseriusan.


Nisa hanya mengangguk. Perasaan bahagia menggelayut, karena tatapan Dimas sedikit berbeda padanya. Dimas pun menggenggam tangannya, membawanya menuju mobil untuk menghampiri Lim disana.


**


Lim tiba di kamar itu. Masuk dengan kaki yang gemetar dengan hebatnya. Tapi, disana belum juga ada orang yang datang.


"Mana dia?" fikirnya, memegangi jantungnya yang mulai terasa nyeri.


Ia bahkan belum mengetahui bagaimana Ais disana. Karena Hp telah Ia serahkan padan Dimas. Ia pun kini hanya bisa menunggu, merenung didepan jendela kamar itu dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Kau, menungguku, sayang?" seorang wanita mengalungkan lengan di pinggang Lim. Tangannya pun nakal, menelusup kemeja dan naik meraba dadanya yang bidang.


"Suaranya, wangi parfumnya, lengannya. Semua persis seperti Almira. Sesempurna itukah, sebuah tiruan?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2