
"Ada apa, Pak Wil?" tanya Lim, yang turun dengan pakaian berbeda.
Entah, bayangan apa yang muncul di fikiran pria itu. Andai Papi Tama ada, pasti isi fikiran mereka akan sama.
"Ini, kerja sama dengan Aron grup. Tinggal tanda tangan, karena semua data sudah diperbaiki." Pak Wil menyerahkan dokumennya.
"Ya, terimakasih. Ini, yang kita pertemuan kemarin?"
"Ya... Semua sudah deal disana. Sebentar lagi Tuan pulang, dan...."
"Bentar lagi, Kak Dim pulang dong?" Nisa memotong ucapan Pak Wil. Ia pun segera membereskan laptop dan semua pekerjaannya..
"Nisa kenapa?" Pak Wil memicingkan mata.
"Mau nyambut Ayang." jawabnya menggemaskan.
"Hah? Maksud....."
"Pak Wil, biarkan. Dia memang seperti itu jika mendengar tentang Dimas." lerai Lim pada nya.
"Hanya saja, Dimas tampaknya tak terlalu merespon. Hanya mencegah saja."
"Terima atau tidak, itu urusan mereka. Jika pun sakit, itu akan jadi pembelajaran hidup buat keduanya."
"Baiklah." Pak Wil mundur, dan masuk ke kamarnya.
Biasanya, sepulang Papi Tama akan mengumpulkan semua penghuni rumah. Apalagi, Dimas pun tinggal disana sekarang. Papi diam-diam, memang ingin Dimas dengan Nisa, meski Dimas masih saja diam seribu bahasa.
__ADS_1
" Tak usah memikirkan masa lalu. Kalian berdua, bahkan tak ada yang mendapatkannya." Papi Tama memberi nasehat pada anak keduanya itu.
"Jika bisa memilih, aku lebih baik melihatnya bersama Lim. Daripada dia pergi selamanya." jawab Dimas.
"Ya, Papi tahu jika kalian berdua sama-sama kehilangan. Dan kalian juga, bisa saling menguatkan."
Dimas hanya mengangguk. Ia melepas kaca mata tipisnya dan mengusap netranya yang sedikit menetes. Begitu berat saat Ia berusaha mengikhlaskan Al untuk Lim, tapi ternyata mereka berdua pun tak dapat bersatu.
" Dim, Papi haus. Tolong belikan minum."
"Tapi Papa tak boleh minum di luar?"
"Sesekali, Dimas. Perjalanan masih jauh, daripada Papi dehidrasi."
"Baiklah," Dimas turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam sebuah minimarket terdekat.
Dimas hanya membeli air mineral, tak ada yang lain. Itu pun, bukan yang berasal dari kulkas besar disana. Ia pun segera membayarnya dengan cepat.
"Sepuluh ribu." jawab sang kasir.
Dimas mengeluarkan uangnya. Tapi antrian di serobot oleh seorang gadis.
"Saya duluan, Mba. Makasih." ucapnya, dan langsung pergi tanpa menoleh.
"Al? Al.... Almira! Tunggu....!" pekik Dimas, langsung berlari setelah mengejarnya..
Namun, wanita itu tak menghiraukannya. Ia masuk kedalam mobil dan melaju dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Dimas, kenapa?" Papi Tama mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
"Eng-engga, ngga papa." Dimas pun kembali pada Papi Tama.
"Siapa yang kamu lihat?" Papi Tama meneguk air putihnya.
"Hanya mirip, seperti teman lama. Tapi, orangnya sudah meninggal." jawab Dimas.
Papi hanya mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya di bahu kursi. Sedangkan Dimas, kembali fokus untuk menyetir.
*
"Nisa, masak banyak banget?" tanya Ais yang menghampirinya.
"Papi 'kan, sore ini pulang. Sambutlah. Kayak ngga tahu aja."
"Ya elah. Papi, apa Kak Dim? Itu isinya makanan kesukaan Kak Dim loh."
"Hehe, iya. Kan sekalian..." senyum Nisa pada Ais.
"Sa ae Loe..." ledek Ais. Ia pun segera membantu Nisa, agar Ia dapat segera membersihkan diri.
Tepat sebelum maghrib, mobil Papi Tama datang. Ais langsung menyambut Papi mertuanya dengan mesra. Menggandeng tangannya untuk masuk kedalam. Begitu juga dengan Lim. Hanya saja, Dimas menarik tangannya untuk pergi ke tempat yang sepi.
"Ada apa?" tanya Lim.
"Tadi, aku melihat sosok wanita. Persis dengan Al."
__ADS_1
Lim pun terbelalak. Ternyata Dimas pun melihatnya, dan mengakui kemiripan itu.
"Dimana? Karena, aku juga sempat melihatnya. Hanya saja, dia pakai masker kala itu."