Gadis Kecil Sang Tuan Muda

Gadis Kecil Sang Tuan Muda
Hilangnya Nisa


__ADS_3

"Hallo, selamat siang, apakah ini Bapak Dimas?"


"Ya, saya sendiri, ada apa?"


"Pak Dimas, Nisa mana ya? Kok, daritadi ngga bisa ditelepon? Katanya, mau pulang."


Pertanyaan yang memunculkan pertanyaan lain di benak Dimas. Padahal, mereka sama-sama keluar dari rumah pagi. Tapi, kenapa Nisa tak juga sampai di rumahnya.


"Oke, nanti akan saya bantu cek dirumah. Atau bahkan ke kampusnya. Karena memang, Nisa banyak tugas belakangan ini." ujar Dimas. Berusaha menenangkan, meski dirinya ikut cemas.


"Baik, terimakasih." Ibu Nisa menutup teleponnya.


Dimas bergegas keluar. Memakai jas dengan setengah berlari, meninggalkan ruangannya.


"Dim, kemana?" Dimas berpas-pasan dengan Lim dan Ais yang masuk ke area kantor.


"Cari Nisa. Katanya, belum sampai." jawabnya singkat.


"Lah, kok bisa? Harusnya sudah sampai daritadi. Ais pesen sesuai alamat rumahnya loh."


Ais kembali membuka Hpnya, mencari bukti pemesanan. Dan rupanya, memang sudah sampai sejak satu jam yang lalu.


"Nih," tunjuk Ais.

__ADS_1


"Menurut rute, Nisa tak berputar kemanapun. Ia sudah sampai, tapi...."


"Dimas, jemput Ibu Nisa di rumahnya. Bawa ke rumah utama. Dan Ais, jangan pergi kemanapun dariku." genggam Lim dengan begitu erat.


Dimas mengangguk, dan segera berlari keluar. Sedangkan Lim masuk, menuju ruangannya dan menyalakan Hp yang sempat Ia matikan.


" Kenapa malah bawa Ais ke ruangan? Ais mau ikut cari Nisa."


"Ais, patuh. Jangan kemana-mana, tanpa pengawalanku. Bahkan aku akan memberikan pengawal pribadi untukmu." ucap Lim.


Wajahnya semakin tegang, pucat, dan begitu serius kali ini. Ais merasakan, ada yang tengah Ia fikirkan dan begitu berat.


"Ada apa?" Ais menghampiri dan memeluknya.


"Apa ada kemungkinan, jika dia menculik Nisa?"


"Ya, sangat mungkin. Apalagi, yang memesan taxi itu adalah kamu."


Air muka Ais tampak begitu sedih. Hatinya berkecamuk, merasa bersalah seolah Ia yang telah melibatkan Nisa dalam masalah ini. Ia memilih diam dan menurut pada sang suami, demi tak menambah permasalahan semakin pelik. Apalagi, Ia memang tak mengerti apa-apa dalam hal ini.


*


Suara langkah kaki mendekat. Terdengar begitu anggun, dengan wangi yang semerbak begitu feminim. Mata Nisa di tutup, mulut nya pun di bungkam. Hanya hatinya yang terus bertanya-tanya akan sosok yang datang.

__ADS_1


"Dia wanita?" fikirnya.


Langkah itu terhenti, tepat di hadapannya. Disusul semua orang yang sedaritadi mengawasinya dengan ketat.


"Buka penutup matanya." pinta wanita itu.


Semua dituruti, dan Nisa pun perlahan melihat semua yang ada di hadapannya. Masih buram, hingga tampaklah sosok wanita yang ada di hadapannya itu.


"Dia? Bukankah, dia sudah meninggal?" Nisa memicingkan mata ketika melihat Almira di hadapannya.


Almira mendekati, menatap Nisa bahkan menyentuh pipinya. Memperhatikan dengan begitu detail hingga Ia menyadari sesuatu.


"Bodoh! Bukan dia yang harus kalian tangkap! Dia bukan Istri Lim." bentaknya, dengan menghempas wajah Nisa dari gengggaman.


"Ini sesuai yang kami amati. Ketika dia memesan taxi, dan atas nama Aishwa. Jadi, dia yang kami bawa." lapornya.


Almira tampak cemas dan marah. Ia telah salah tangkap, hingga membuyarkan semua rencana yang ada.


"Harusnya dia, kenapa salah? Aku tak bisa kembali jika gadis itu masih di dekatnya. Tapi, jika aku lepas gadis yang ini, dia akan menghancurkan rencanaku. Bagaimana seharusnya?"


Ia tampak berfikir begitu keras. Mengatur ulang rencana yang telah tersusun rapi. Nisa hanya bisa memperhatikan, sembari terus diam membaca gelagatnya.


"Bagaimana caraku menghalau rencananya?" fikir Nisa.

__ADS_1


__ADS_2