
Lim dan Almira.
"Mau kemana lagi, Lim?" tanya Papi Tama pada anak semata wayangnya.
"Kerumah Al."
"Sudah mau menikah, haruskah terus mendatanginya? Dia tak akan pergi kemana-mana."
"Ya, dia tak akan pergi. Papi seperti orang yang tak pernah jatuh cinta saja." ledek Lim.
Papi Tama bukan tak mengerti. Hanya saja Ia masih berpegang dengan perkataan orang tua, atau sering di sebut pamali. Tapi, semua bertentangan dengan Lim yang semuanya serba modern. Ia tak pernah percaya, dengan apa yang Papinya katakan.
" Jangan terlalu mengekang, Dia punya dunianya sendiri." Pak Wil datang untuk memberi nasehat, dan beberapa obat untuknya.
"Bagaimana, dengan anak Udin?"
"Ya, hari ini resmi pindah sekolah lagi. Entahlah, sifat Papanya begitu kental dalam diri gadis itu." Pak Wil menggelengkan kepalanya.
"Dia, telah memberikan hidupnya padaku. Tinggal aku, yang harus menjaga keluarganya. Dimas, apakah mau di jodohkan dengan Aishwa?" tanya Papi Tama padanya.
"Jika Papi berkehendak, Dia menurut. Meski, sebenarnya Ais akan di jodohkan dengan Lim."
"Tapi pandangan Lim berbeda. Dia memilih gadis dokter itu, dan begitu yakin menikahinya. Biar saja, asal Dia bahagia." Papi Tama menghela nafas panjang.
__ADS_1
Begitulah, jika Ia terlalu banyak bicara. Jantung nya akan berdetak begitu cepat, dan butuh waktu menormalkannya kembali. Maklum saja, pendonor itu seusia dengannya, hingga jantung itu pun harus di jaga sesuai usianya.
***
"Lim, mau kemana?" sapa Ayu. Al dan Ayu memang bersahabat baik. Satu lagi Aura, tapi mereka tak tinggal bersama.
"Jemput calon istri, mau jalan bentar." jawab Lim, dengan riang gembira.
"Bukannya, pamali? Kan, kalian bentar lagi nikah."
"Gue ngga percaya begituan. Kalaupun ada, ya udah takdir dari yang maha kuasa."
"Yaudah, masuk dulu. Al, lagi beberes. Gue mau jemur pakaian."
Lim mengangguk. Ia pun masuk dan duduk santai di dalam.
"Lumayan. Udah siap?"
"Ya, tinggal pergi." ucapnya sembari mengalungkan tas di lehernya.
Lim pun menggandeng tangan Al, lalu mengajak nya pergi keluar. Dengan motor kesayangannya, berdua saling menggenggam tangan dengan erat.
Sepanjang hari mereka habiskan bersama. Apalagi, beberapa hari mereka akan dipisah menjelang pesta pernikahan. Hingga mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
__ADS_1
"Tetap seperti ini, dan jangan pernah pergi." dekap Lim dengan begitu hangat.
"Kata orang, jika irama jantung kita sama, maka kita berjodoh."
"Ya, kau berjodoh denganku. Sebentar lagi, kau akan jadi Nyonya Lim."
Tawa Al saat itu begitu renyah. Membuat hati Lim semakin berdebar melihatnya. Segala rasa, segala kasih dan sayang hanya untuk Al saat itu. Bahkan Lim tak pernah melirik wanita lain, meski Ia telah dijodohkan oleh Papi Tama.
" Ayo pulang, mendung." ajak Al, menggandeng tangan Lim berlari keluar taman.
Mereka kembali mengendari motor ditengah hujan. Menerobos tanpa mantel ditengah keramaian kota.
"Dingin, sayang?"
"Iya, dingin banget."
"Maaf, aku lupa bawa mantel." Lim menarik tangan Al, untuk memeluknya lebih erat.
Namun, kemesraan itu usai. Sebuah mobil mendadak menyerempet mereka, hingga motor Lim oleng. Sudah berusaha meminimalisir keadaan, tapi tetap saja mereka jatuh.
Braaakkk!
Al terpental hingga beberapa meter dari Lim. Helmnya terlepas langsung meringkuk lemah disana. Begitu juga Lim, Ia terseret motornya hingga beberapa meter dan bagian dadanya terkena stang motor.
__ADS_1
"Almiraaaaa!" pekiknya.
Namun Almira sama sekali tak menjawab. Hanya diam disudut jalan, dengan kucuran darah segar mengalir dari tubuhnya.mk