Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 10 > Taktik Ibu Thalia


__ADS_3

"Naya ... kenapa berdiri di situ? Kemarilah dan duduk di sini. Biar Tante yang akan merias wajahmu dengan kekuatan magic Tante." Refina tersenyum seraya menaik-turunkan alisnya.


Naya membalas senyuman Tante Refina dan berjalan menuju kursi yang menghadap ke arah cermin besar. "Duduklah, Tante akan merias rambutmu terlebih dahulu. Setelah itu baru wajahmu yang cantik alami ini." Tante Refina mempersilakan Naya untuk duduk.


Tanpa berlama-lama lagi, Naya langsung duduk. Naya meremas jemarinya, dia merasa gugup karena jujur ini pertama kali dalam hidupnya menginjakkan kaki di butik dan salon. Di kampungnya kalau mau memotong rambut ke salon biasa dengan alat yang sederhana. Refina yang melihat Naya tengah meremas jemarinya langsung memegang bahu Naya serta menatapnya dari pantulan cermin.


"Naya, Tante minta maaf ya. Tante tidak tau kalau Naya adalah istri Tuan Kivan, karena setau Tante selera Tuan Kivan itu tinggi makanya Tante kaget saat Bestie Tante, Thalia memperkenalkanmu sebegai istri Tuan Kivan. Tapi, Naya jangan khawatir ... sebentar lagi penampilan Naya akan jauh lebih mempesona dan bisa memikat Tuan Kivan," ujar Refina. Dia merasa tidak enak karena pada awalnya dia mengira Naya adalah seorang pelayan.


"Tidak apa-apa, Tante. Naya juga berpikir kalau Naya memang cocoknya menjadi pelayan Tuan Kivan. Naya teh tidak tau kalau Tuan Liam menyuruh Naya datang itu untuk menjadi menantunya, Naya kira Naya akan menggantikan pekerjaan Nenek Naya," jawab Naya dengan wajahnya yang menunjukkan kesedihan.


"Ya sudah, sekarang Naya tidak perlu sedih lagi. Tante akan menyulap penampilanmu agar Naya bisa lebih PD, okay." Tante Refina mengedipkan sebelah matanya.


Naya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


***


Di sebuah kamar yang besar, Kivandra Galaxy Dharmendra sedang kesal. Dia melemparkan bantal serta guling. Bukan hanya itu, Kivan juga melemparkan buku-bukunya yang selalu dia baca diwaktu luang sehingga keadaan kamar begitu berantakan karena semua barang berserakan di mana-mana. Kivandra mengacak-acak rambutnya disertai dengusan.


"Aaarrgghh!" Kivandra berteriak karena frustasi.


"Bisa-bisanya gue menikahi gadis kampung yang tidak tahu diri itu? Bisa malu tujuh turunan gue kalau sampai teman-teman gue tau. Aaarrgghh, sial!" umpat Kivandra.


DRRTT!


DRRTT!


Sebuah panggilan masuk yang terlihat jelas dengan nama Mami Thalia di layar ponsel Kivandra. Dengan cepat, Kivandra meraih ponselnya dan mengangkat telepon dari Mami Thalia.


Telepon Terhubung!


"Iya, Mami. Ada apa?" tanya Kivandra yang tidak suka berbasa-basi.


"Kamu ini, Main nyerocos aja. Mami mau minta tolong sama kamu," terdengar suara Mami Thalia dari seberang telepon.


"Minta tolong apa, Mi? Jangan aneh-aneh ya, Kivan sedang badmood ini," tanya Kivandra yang saat ini punya firasat buruk kalau Maminya akan meminta tolong hal yang lain yang tidak Kivandra sukai.


"Tolong jemput Naya di Arelia Boutique!" pinta Mami Thalia.


"Loh, kenapa harus Kivan sih, Mi? Bukannya gadis itu pergi bareng Mami tadi? Kenapa tidak pulang bareng Mami aja?" tolak Kivandra dengan halus.

__ADS_1


"Mami ada urusan mendadak, Sayang. Jadi, Mami harus segera pergi. Sementara itu kamu yang jemput Naya, Mami tidak mau Daddy marah kalau Mami meninggalkan Naya di butik sendirian. Kamu mau 'kan tolongin Mami?" pinta Mami Thalia.


"Aaah, Mami. Kenapa harus Kivan yang jemput, Farel aja lah yang jemput Naya. Kivan malas keluar," tolak Kivandra lagi.


"Tidak bisa, Sayang. Farel sedang mengurus serta mempersiapkan untuk keberangkatanmu nanti malam. Ayolah, bantu Mami."


"Ya udah iya. Kivan jemput Naya sekarang. Naya ada di butik teman Mami itu 'kan?" tanya Kivandra.


"Iya, Sayang. Buruan ya! Mami akan pergi sekarang, kamu jangan lama-lama nanti istrimu ada yang godain," goda Mami Thalia.


"Idih, emangnya siapa yang mau godain gadis kampung kek gitu," celetuk Kivandra dengan memutar bola matanya malas.


"Jangan bicara seperti itu, nanti saat kamu melihat penampilan Naya justru kamu yang akan terpesona dan godain Naya, hayo ... apalagi kamu itu 'kan badboynya Mami," ledek Mami Thalia.


"MAMI! Kivan punya selera juga kali, enggak mungkin godain Naya si gadis tidak tau diri itu. Kivan akan berangkat sekarang, Mami hati-hati. Tutt!" Kivandra mematikan teleponnya tanpa mendengar ucapan Mami Thalia terlebih dahulu.


Telepon terputus!


"Gadis itu selalu saja membuatku repot! Kalau bukan permintaan Mami, mana mau aku jemput gadis kampung kek gitu," gerutu Kivandra seraya merapikan rambutnya.


Setelah itu, dia mengenakan sepatu, hoddie dan menyambar kunci mobil yang berada di meja nakasnya. Kivandra keluar kamarnya dengan langkah yang terburu-buru.


***


Keadaan di butik berbanding terbalik pada saat awal Naya datang bersama ibu mertuanya, Thalia. Naya yang awalnya mendapat hinaan, cibiran secara terang-terangan oleh para pegawai butik kini berubah menjadi tatapan takjub setelah melihat penampilan Naya yang sekarang. Saat ini penampilan Naya benar-benar berbeda, kali ini dia terlihat seperti wanita yang berkelas dan elegant plus dengan wajah natural yang sedikit di make up membuatnya bersinar layaknya seorang bintang.


Tentu saja yang membantu Naya adalah Refina, sahabat ibu mertuanya. Ada rasa bangga pada diri Refina karena telah menyulap penampilan Naya menjadi wanita yang sangat cantik dan berbeda dengan Naya yang pada awalnya. Tidak terlalu WAH namun, pakaiannya saat ini hanya mengenakan dress diatas lutut dengan bahu yang sedikit terbuka membuat tulang kecantikannya terekspost. Sedangkan rambut Naya tidak dibuat macam-macam hanya dibuat curly saja di bagian ujung rambutnya membuatnya terlihat sangat cantik.


"Tunggu, sepertinya ada yang kurang." Thalia melihat penampilan Naya dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah.


"Apalagi sih, Bestie? Menantumu ini sudah sangat cantik, apalagi yang kurang?" tanya Refina dengan melipat kedua tangan di dada.


"Astaga, Bestie! Kau lihat itu!" Thalia menunjuk ke arah kaki Naya yang masih mengenakan sandal biasa yang kucel.


"Ya ampun, aku lupa. Sebentar pegawaiku akan membawakannya heels yang cocok untuk menantumu ini," ucap Refina sembari cengengesan. "Anggi! Kemarilah!" Refina memanggil pegawainya.


Dengan cepat, Anggi datang menghampiri bosnya. "Iya, Bu."


"Kamu ambilkan heels yang yang cocok dengan dress Naya, cepat!" perintah Refina.

__ADS_1


"Baik, Bu." Anggi bergegas mengambil heels permintaan Bu Refina.


Sambil berjalan menuju tempat heels tersimpan, Anggi terus menggerutu karena tidak suka melihat kecantikan Naya. "Gila, gue enggak nyangka kalau gadis kampung itu akan secantik ini. Kalau seperti ini pujaan hati gue, Tuan muda Kivan akan menyukainya," gerutu Anggi seraya menghentak-hentakkan kakinya.


"Yang sabar ya, Anggi. Hidup itu memang kejam," ledek temannya.


"Diam, Lo!" timpal Anggi dengan ketus.


"Idih, gitu aja marah," kekeh yang lain.


"Biasa lah, dia kalau lagi jealous memang suka marah-marah sama orang lain,"


"Rese banget lo pada." Anggi memutar bola matanya dengan malas.


"ANGGI! BURUAN!" teriak Bu Refina.


Mendengar teriakan bosnya membuatnya langsung berlari dengan menenteng sepasang heels. "Ini, Bu." Anggi menyerahkan heels pada bosnya.


"Kau boleh pergi."


"Saya permisi, Bu." Anggi langsung pergi.


"Naya, lepaskan sandalmu dan pakailah ini." Refina menaruh heels di depan kaki Naya.


"Tante, tidak perlu seperti ini. Naya bisa memakainya sendiri." Naya melangkah mundur.


"Tidak apa-apa, pelanggan adalah ratu. Ayo lepaskan sandalmu." Refina tersenyum ramah.


"Bestie, terima kasih sudah memperlakukan menantuku seperti ini. Kau memang Bos yang baik hati dan tidak sombong," goda Thalia disertai tawa kecilnya.


"Jangan memujiku seperti itu, Bu Thalia Valeska Norabel." Refina memicingkan matanya ke arah Thalia.


"Haha, baiklah, baiklah."


Sementara Naya mulai melepas sandalnya dan memakai heels. Terlihat dengan jelas jika Zoya sedikit takut pada saat mengenakan heels yang cukup tinggi. Lututnya gemetar, rasanya sulit untuk menyeimbangkan tubuhnya. Rasa malu, takut menjadi satu pada saat ibu mertuanya memperhatikan ketakutan di mata Naya.


"Sayang, apa kau takut?" skak Thalia.


GLEUK!

__ADS_1


***


__ADS_2