
"Dengan menikahinya saya bisa membalaskan penghinaan ini, saya akan membuatnya menderita. Bahkan saya akan melakukan sesuatu yang menjadi kelemahannya dia saat ini," Kivandra tersenyum licik.
"Kelemahan Naya? Apa Tuan muda sudah tahu apa kelemahannya? Apa yang akan Tuan muda lakukan?" tanya Farel, penasaran.
"Kau akan segera tahu." Kivandra menaik-turunkan alisnya. Dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Farel.
***
TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum," ucap Naya sembari mengetuk pintu kamar Tuan Liam.
"Wa'alaikumsalam. Masuklah, Nak Naya," ucap Tuan Liam dari dalam.
Naya langsung masuk setelah mendapat izin dari Tuan Liam. "Naya, duduklah. Granpa mau bicara denganmu," ujar Tuan Liam.
"Baik, Tuan Liam." Naya duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah Tuan Liam.
"Apa Nak Naya sudah memikirkan jawabannya? Apakah Nak Naya bersedia menikah dengan cucuku, Kivandra?" Tuan Liam menatap Zoya.
Naya langsung diam membisu, dia meremas jemarinya. Keringat dingin langsung bercucuran serta wajahnya yang memucat. "Nak, apakah kamu sakit?" tanya Tuan Liam.
"Tidak, Tuan Liam," jawab Naya gelagapan karena gugup.
"Dia baik-baik aja, Grandpa. Dia hanya gugup karena sebentar lagi kami akan menikah dan hidup bersama." celetuk Kivandra yang tiba-tiba masuk.
Naya dan Tuan Liam sontak menoleh ke belakang. "Apa benar yang Grandpa dengar ini, Nak Naya?" Tuan Liam tersenyum seraya menatap Naya.
Kivandra mengerti dengan sikap Naya yang gugup. "Jawab aja, Sayang. Tidak perlu gugup, kita akan menikah. Kenapa masih canggung." Kivandra menggenggam tangan Naya seraya duduk di sebelahnya.
Naya menoleh ke arah Kivandra dengan tatapan yang menyeramkan. "Jika di sini tidak ada Tuan Liam, mungkin aku sudah menghajarmu. Tuan muda mesum!" celetuk Naya.
"Benarkah? Coba saja," tantang Kivandra seraya menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
Naya yang merasa tertantang pun langsung memiliki cara yang usil. Dia tersenyum penuh arti kepada Tuan Kivandra. "Baiklah, lihat apa yang akan aku lakukan," ucap Naya.
BUGHH!
"Ah, ya ampun. Tuan muda maafkan Naya, ya. Kaki Naya rasanya gatal. Naya teh tidak tau jika Naya menginjak kaki Tuan muda," ucap Naya yang sedang berpura-pura.
"Ikut denganku!" Kivandra menarik kasar tangan Naya di hadapan Grandpa.
Tuan Liam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan cucu dan calon menantunya yang tidak bisa akur sejak kedatangan Naya. "Sepertinya mereka memang berjodoh," kekeh Tuan Liam.
***
"Tuan muda, lepasin tangan Naya! Sakit tau!" rengek Naya seraya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Tuan muda.
"Tidak akan! Kali ini saya tidak akan membiarkanmu lepas lagi, kamu harus di beri pelajaran!" Kivandra menarik kasar Naya dan membawanya ke sebuah ruangan persegi yang cukup luas.
Kivandra mendorong tubuh Naya ke sebuah ranjang. Dengan cepat Kivandra mengunci pintu kamar itu dari dalam. "A-apa yang akan Tuan muda lakukan? Jj-jangan macam-macam!" ancam Naya sedikit gelagapan karena takut. Dia menjauhi Kivandra yang saat ini sedang mendekati Naya.
"Jangan macam-macam! Atau--"
"Atau apa? Kamu akan mengahajarku? Atau kamu akan menamparku lagi?" sela Kivandra.
Kivandra berniat untuk menakutinya dengan membuka pakaiannya. "Tuan muda! Apa yang kamu lakukan? Apa Tuan muda sudah gila? Ngapain pake di buka segala itu baju, malu atuh. Meuni siga budak leutik wae! (Sudah kek bocil aja)," teriak Naya seraya menutup mata dengan kedua tangannya.
"Kenapa menutup matamu? Bukankah tadi kamu sendiri yang memanggilku Tuan muda mesum? Jadi, saya hanya mewujudkan kemauanmu, gadis kasar!" Kivandra berniat membuka sabuknya tapi tiba-tiba mati lampu dan membuatnya melompat ke arah Naya karena terkejut.
"Tuan muda! Apa-apaan ini? menjauhlah! Jangan deket-deket! Apa-apaan sih? Awas! kaditu! (sana!)." Naya mendorong tubuh Kivandra. Namun, Kivandra memeluk Naya dengan erat.
"Tolong jangan tinggalkan saya di sini. Saya takut gelap," ucap Kivandra terdengar seperti memohon.
Naya tertawa. "Yang benar aja atuh, masa Tuan muda teh takut sama gelap? Apa yang harus ditakuti sih Tuan muda. Aya-aya wae (ada-ada aja)," kekeh Naya. Dia tidak percaya dengan ucapan Kivandra.
"Saya serius, saya takut gelap. Saya mohon, saya mohon."
__ADS_1
Naya terdiam saat mendengar Kivandra memohon kepadanya. "Ini teh beneran, Tuan muda takut gelap?" tanya Naya.
Namun, tidak ada jawaban. Rupanya Kivandra pingsan karena ketakutannya itu. Memang benar jika Tuan muda Kivandra itu takut kegelapan. Dia memiliki sebuah trauma masa kecil yang membuatnya ketakutan sampai sekarang. Naya mulai panik karena tidak mendengar suara Tuan Kivandra.
"Aaahh! Naon eta? Zoya teh megang apaan itu?" teriak Zoya saat memegang sesuatu yang kenyal. Entah benda apa itu.
"Aduh di mana pakaian Tuan muda tadi? Naya harus mencari pakaiannya sebelum ada orang yang masuk, bisa salah paham jika melihat Tuan muda seperti ini. Nanti Naya yang akan disalahkan, enggak ... itu enggak boleh terjadi," ucap Naya seraya merangkak dan meraba mencari pakaian Tuan Muda.
Seteleh beberapa detik kemudian, Naya menyentuh sebuah kain yang tergeletak di lantai. "Alhamdulillah ketemu juga pakaian Tuan muda." Naya segera memakaikan pakaiannya di tubuh Tuan muda.
"Tuan muda, yang benar aja masa udah besar takut gelap? Apa Tuan muda punya trauma?" Naya bingung dengan tingkah Kivandra hari ini.
Tak terasa sudah satu jam lamanya mereka terkurung di kamar tanpa adanya cahaya. "Ya ampun, mau sampai kapan Naya akan terkurung di sini bersama Tuan muda? Naya teh ngantuk, hoaam." Naya menguap, dia menutup mulutnya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Naya tidur. Dia pun sudah tertidur di sebelah Tuan muda Kivandra, sementara Kivandra sadar bersamaan dengan lampu yang menyala. Begitu Kivandra menoleh ke samping, dia begitu terkejut saat melihat Naya tertidur dengan posisi duduk.
Kivandra tersenyum melihat wajah Naya yang sedang tertidur pulas. "Gadis ini," Kivandra menggeleng-gelangkan kepalanya. Lalu dia bangkit dan meninggalkan Naya di kamar itu.
***
3 jam kemudian ...
"Hooaam," Naya menguap, dia baru bangun dari tidurnya.
Begitu dia melihat sekelilingnya dia baru menyadari jika Tuan muda tidak ada bersamanya. Dia langsung berlari keluar kamar itu untuk mencari Tuan muda Kivandra. Dia takut Tuan muda kenapa-kenapa. "Ke mana perginya, Tuan muda arrogant itu?"
Naya mencari ke setiap sudut ruangan yang ada di rumah Tuan Liam. Naya merasa kelelahan karena berlari. "Ke mana lagi aku harus mencarinya?" Naya berjongkok karena merasa dadanya sesak. Keringat pun bercucuran.
"Apa kau mencariku?" tanya seseorang dari belakang Naya. Naya pun bangkit dan menoleh ke belakang.
Naya menabrak dada bidang pria yang berada di hadapannya. Dia tidak tahu jika jarak pria itu sangat dekat dengannya. Dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga dia pun akan terjatuh namun, sebelum hal itu terjadi tangan pria itu dengan sigap menangkap tubuh Naya dan menopangnya. Kedua bola mata mereka pun saling bertemu dan menatap satu sama lain dengan posisi tangan Naya melingkar di leher pria itu. Sementara tangan pria itu menahan pinggang ramping Naya agar tidak jatuh.
***
__ADS_1