
Di dalam mobil ....
Naya berangkat dengan mobil suaminya, sedangkan Nenek Aminah berangkat dengan mobil Farel. Mereka berangkat dengan mobil yang berbeda. Naya merasa senang karena Kivandra mau ikut ke kampung halamannya.
Naya diam-diam menatap suaminya sembari tersenyum. Dia merasa hatinya seperti berbunga-bunga pada saat dia melihat wajah suaminya yang begitu tampan. "Aku tahu aku tampan jadi, berhentilah menatapku seperti itu, istri kecilku," ucap Kivandra yang membuat Naya sedikit terkejut.
Naya telah tercyduk oleh suaminya sendiri. Dia pun mengalihkan pandangannya dengan menatap ke sembarang arah. Dia malu karena tatapannya diketahui oleh suaminya.
"Terlalu percaya diri itu tidak baik, Mas," timpal Naya.
"I know. Lalu kenapa kamu terus menatapku seperti itu? Apa kamu sudah mulai ada rasa padaku?" tanya Kivandra dengan matanya yang fokus menatap jalanan.
"Apa seorang istri tidak boleh menatap suaminya sendiri? Apakah itu dosa?" celetuk Naya. Alih-alih menjawab, Naya malah balik bertanya.
Kivandra yang mendengar ucapan Naya langsung menepikan dan menghentikan mobilnya. Dia membuka sabuk pengamannya dan mendekati wajah Naya. "Eh, Mas mau ngapain?" Naya ketar-ketir saat Kivandra mendekatinya.
"Loh, tadi katanya mau menatapku tapi giliran aku yang mendekati dan menatapmu malah kamu yang ketakutan seperti ini? Kenapa takut? Aku tidak akan menerkammu, Sayang." Kivandra membelai Wajah istrinya.
Wajah Naya berubah pucat dan sedikit berkeringat. Dia benar-benar sangat gugup jika Kivandra mendekatinya seperti ini. "Mas, kita akan ketinggalan mobilnya Kak Farel. Ayo jalankan mobilnya," ucap Naya dengan menghindari tatapan suaminya.
"Aneh, tadi katanya ingin menatapku tapi giliran ditatap malah menghindar seperti ini." Kivandra membenarkan posisi duduknya.
Kemudian dia memakai seat belt serta melajukan mobilnya. Jarak antara kota J ke kampung T membutuhkan waktu 5 jam 20 menit. Cukup jauh, tapi itu tidak terasa karena di sepanjang jalan para pengemudi disuguhkan pemandangan yang begitu indah, segar dan nyaman ketika dilihat.
__ADS_1
Banyak hal-hal yang tidak pernah Kivandra lihat sebelumnya selama di kota. Inilah yang ingin Kivandra lihat dan pelajari kehidupan yang baru. Dia ingin berubah menjadi orang yang lebih baik lagi agar dia bisa menghargai orang kecil.
Tak lama kemudian, setelah mereka menghabiskan waktu berjam-jam di dalam mobil. Kini mereka telah sampai di kampung T. Kampung halaman Naya dan Nek Aminah. Mereka keluar dari mobil dan memasuki rumah yang cukup besar.
"Nak Farel, kenapa berhenti di rumah ini? Ini bukan rumah kami," tanya Nek Aminah seraya melihat ke arah rumah besar.
"Sekarang rumah ini milik Nek Aminah. Rumah ini adalah rumah yang dibeli Tuan Liam untuk Nek Aminah. Oh iya, Tuan Liam sengaja membeli rumah yang bertingkat seperti ini agar lantai dasar bisa digunakan untuk usaha kecil-kecilan semacam grosir. Mari," ajak Farel pada Nek Aminah untuk memasuki rumah barunya.
"Iya, Nak Farel." Nek Aminah mengikuti Farel.
Sementara Kivandra dan Naya, mereka masih berdiam diri di luar dengan koper di tangan Kivandra. "Mas, ayo kita masuk," ajak Naya.
"Nay, tunggu!"
"Iya, Mas."
"Iya, ayo. Tapi, Naya bilang dulu sama Nenek sekalian masukin koper Mas dulu. Mas mau masuk dulu atau tunggu di sini?" tanya Naya.
"Aku tunggu di sini saja. Cepatlah!" perintah Kivandra.
"Iya, Mas. Berikan kopernya, biar Naya bawa masuk," pinta Naya.
Kivandra memberikan kopernya pada Naya dan Naya pun membawa koper itu ke dalam rumah. Sambil menunggu istrinya, Kivandra duduk di body depan mobil sportnya. Dia memainkan ponsel serta memotret beberapa pohon yang ada di sekitar rumah Naya.
__ADS_1
Tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri Kivandra. "Euleuh euleuh, aya lalaki kasep geuning di sini teh {aduh aduh, ada laki-laki tampan ternyata di sini}," ucap seorang wanita.
Kivandra menoleh dan menyimpan ponselnya. Dia melemparkan senyuman pada ibu-ibu yang berada di hadapannya. "Ujang kasep teh siapa? Ujang kasep yang punya rumah ini?" tanya wanita yang memakai daster.
"Bukan. Rumah ini milik Nek Aminah, neneknya istriku," jawab Kivandra.
"Nek Aminah? Neneknya Neng Kanaya?" Semua ibu-ibu itu membelalakkan matanya.
Kivandra mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan ibu-ibu itu. "Ujang kasep teh suaminya Kanaya?" tanya ibu berdaster lagi.
"Benar, Bu. Saya suami Kanaya," jawab Kivandra.
Tak lama kemudian Naya keluar dari rumah dan menghampiri suaminya yang tengah dikepung ibu-ibu rempong. "Mas, ada apa?" tanya Naya pada Kivandra.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Mereka hanya menyapaku saja," jawab Kivandra.
"Oh begitu. Ya udah, ayo kita oergi," ajak Naya.
"Neng Naya," panggil ibu-ibu.
"Iya, Bu."
"Neng Naya teh sudah menikah sama ujang kasep ini? Kenapa Neng Naya tidak mengundang kami?"
__ADS_1
Naya membulatkan matanya dengan sempurna. Kemudian dia menatap suaminya. 'Kenapa dia mengatakan jika dia suamiku? Bisa gawat, nanti mereka akan berpikiran jika aku menikah karena hamil duluan.'
****