
Saat ini Kivandra tengah menggendong Naya seraya menaiki anak tangga. Tangan Naya melingkar di leher Kivandra dengan matanya yang menatap lekat suaminya. Sementara itu, Kivandra hanya fokus menatap ke depan. Dia tidak tahu jika saat ini Naya sedang memandangnya.
"Mas," panggil Naya.
"Eumm,"
"Kaki Naya baik-baik aja, tanganku saja yang terluka. Kenapa Mas menggendongku?" tanya Naya dengan wajah yang kebingungan.
Deg!
Jantung Kivandra terasa tiba-tiba berhenti. Dia menghentikan langkahnya. Matanya langsung menatap mata Naya. Entah apa yang terjadi pada Kivandra sehingga dia menjadi salah tingkah seperti ini.
Karena malu, Kivandra langsung menurunkan Naya dan berlari ke kamarnya. Dia meninggalkan istrinya di tangga. "Eh, Mas Kivan kenapa?" tanya Naya dengan wajah yanh terheran-heran.
****
"Bodoh! Kenapa aku bersikap seperti ini? Kenapa aku malah menggendong istri kecilku padahal sudah jelas yang terluka itu tangan bukan kakinya? Wah, sepertinya aku sudah tidak waras." Kivandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba Kivandra mendengar suara langkah menuju kamarnya. Tanpa berlama-lama, Kivandra merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya terutama wajah dengan selimut. Malam ini dia benar-benar malu tingkat dewa. Ini pertama kalinya dia salah tingkah di hadapan seorang wanita. Padahal sebelumnya dia tidak pernah salah tingkah.
'Sepertinya ini karna untukku karena dulu aku selalu membuat wanita baper dan salting di depanku.'
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan masuklah Naya. Melihat suaminya yang sudah tertidur, Naya menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati dan pelan. Dia tidak ingin suaminya terbangun karena suara pintu itu. Dia tidak tahu jika Kivandra hanya berpura-pura tidur dan bersembunyi di balik selimut.
"Kok bisa Mas Kivan tidur secepat ini? Ah mungkin, dia merasa sangat lelah. Lebih baik aku obati tanganku lalu pergi tidur."
__ADS_1
Naya berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air hangat dan juga handuk mini untuk membersihkan tangannya yang terluka. Setelah itu, dia mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya. Beberapa menit setelah itu, dia berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya.
Naya meletakkan lengan di atas keningnya. Tak lama kemudian dia pun mulai tertidur. Sementara itu, Kivandra keluar dari tempat sembunyinya yaitu selimut. Dia berjalan pelan menuju Naya dengan membawa selimut tebal.
Kivandra dengan sangat hati-hati menyelimuti istrinya dan menciuum kening istri kecilnya. 'Good night, sweet dream my little wife.'
****
Pagi hari ....
Saat ini Nek Aminah dan Farel sudah siap untuk berangkat ke kampung T. Nek Aminah masih menunggu Naya turun. Sementara di kamar Kivandra, Naya masih menunggu suaminya bangun. Dia sudah siap untuk pergi tapi, dia tidak bisa pergi jika belum meminta izin pada suaminya.
Setelah menunggu beberapa menit, kini akhirnya Kivandra bangun. Naya langsung mendekati suaminya. "Selamat pagi, Mas. Ini teh hangat untukmu." Naya mengambil secangkit teh yang ada di atas meja nakas.
Naya sudah membuat teh hangat setelah dia selesai bersiap-siap. Kivandra bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia menerima teh buatan istri kecilnya dan menyeruput teh hangat itu.
Naya menyimpan kembali cangkirnya. Kemudian Kivandra memperhatikan pakaian Naya yang sudah rapi. "Sayang, kamu mau pergi ke mana? Masih pagi sudah rapi aja," tanya Kivandra.
"Ini jam 10, Mas. Ini udah siang, pagi dari mana." Naya menggelengkan kepalanya.
"Apa? Jam 10?" Kivandra terperanjat dari tempat ranjangnya.
"Mas, Naya mau minta izin. Naya ingin ikut mengantar Nenek Aminah ke kampung. Boleh ya, Mas." Naya membujuk suaminya.
"Ya boleh, tapi--"
"Tapi apa, Mas?" sela Naya.
__ADS_1
"Kamu perginya sama aku. Aku akan mandi dan bersiap-siap. Tunggulah di bawah dan katakan pada yang lain kalau aku akan ikut mengantar nenekmu." Kivandra bergegas ke kamar mandi.
Sementara itu, Naya hanya terdiam menatap punggung suaminya yang telah dilahap oleh pintu. "Ini teh beneran Mas Kivan mau ikut nganterin Nenek? Mas Kivan akan berangkat sama Naya? Sulit dipercaya!" Kivandra menggelengkan kepalanya.
Kemudian Naya membawa tasnya dan keluar dari kamarnya. Naya berjalan menuruni anak tangga. Setelah sampai di ruang tengah, dia menghampiri neneknya yang tengah duduk sofa.
"Naya, di mana suamimu?" tanya Mami Thalia.
"Mas Kivan sedang bersiap-siap, Mami. Mas Kivan akan ikut mengantar nenek bersamaku," jawab Naya.
"Wah, benarkah itu, Nak?" Mami Thalia membelalakkan matanya.
Naya mengangguk dengan cepat. "Iya, Mami. Naya juga sempat tidak percaya tapi mendengar ucapan Mas Kivan, Naya percaya." Naya tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, Mami senang mendengarnya. Rupanya kau telah berhasil merubah sikap putraku," timpal Mami Thalia.
"Naya tidak melakukan apapun pada Mas Kivan, Mami. Mas Kivan yang tiba-tiba berubah," ucap Naya.
Tak lama kemudian, Kivandra datang dengan koper. Semua orang menatap ke arah Kivandra dengan heran. Mereka heran, kenapa Kivandra membawa koper, seakan dia akan tinggal lama saja di kampungnya Nek Aminah.
"Mas, kenapa bawa koper? Apa Mas mau tinggal lama di sana?" tanya Naya.
"Ya, aku ingin mempelajari sesuatu yang tidak aku ketahui di kampung," jawab Kivandra.
Semua orang tentunya terkejut dengan jawaban Kivandra. Sejak kapan seorang Kivan mau berpergian ke kampung? Kalaupun diajak dia selalu menolaknya. Tapi, hari ini tanpa diajak pun dia mengatakan dan memutuskan untuk pergi.
****
__ADS_1