Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 21 > Pemandangan Langka


__ADS_3

"Maaf, Nona cari siapa ya?" tanya Naya dengan menatap seorang wanita yang tengah berdiri di depan pintu hotelnya.


"Eum ... apa kau istrinya Kivan?" tebak wanita itu.


"Euh ... bb-bukan, Nona. Saya hanya pelayan Tuan muda," jawab Naya yang membuat mata seorang Kivandra membulat dengan sempurna.


Kivandra menarik lembut lengan Naya dan memeluknya dari belakang. "Hei, Sayang. Apa yang kamu katakan? Jika kamu marah padaku kamu bisa memukulku kenapa bilang seperti itu, eoh?" Kivandra bertutur kata lembut di sebelah telinga Naya.


Naya hanya tertegun seraya diam mematung. 'Kenapa sikap Tuan muda begitu berbeda dengan Tuan muda beberapa jam yang lalu? Siapakah wanita ini?' Naya menatap lekat ke arah wanita yang ada di hadapannya.


Sementara itu, wanita yang ada di hadapan Naya dan Kivandra hanya mengepalkan kedua tangannya. "KIVAN!" pekik wanita itu.


"Sttt! Jangan berteriak di sini, Nona! Jangan membuat keributan di sini! Pergilah!" Kivandra tersenyum kecut ada wanita itu.


"KIVANDRA!" bentak wanita itu dengan mata yang memerah.


"Ahh, ****! Wanita ini ... huft!" Kivandra mendengus kesal.


"Sayang, tolong ambilkan ponselku di meja nakas." Kivandra mengelus lembut wajah Naya.


Naya mengangguk dengan cepat dan pergi untuk mengambil ponsel suaminya. Sementara itu, Kivandra menarik kasar tangan wanita itu yang tidak lain adalah Alice, mantan tunangannya. Kivandra membawa Alice ke dalam elevator. Begitu dia berada di dalam elevator, Kivandra langsung menekan tombol untuk ke lantai dasar.


"Sayang, kenapa menekan tombol itu? Kamarku 'kan ada di sebelah kamarmu." Alice menyunggingkan senyumannya.


Kivandra membulatkan matanya. "Apa maksudmu? Apa kau mengikutiku?" Kivandra menyorotkan tatapannya yang sangat tajam.


"Aku kemari untuk liburan, kenapa kau selalu berburuk sangka padaku, Sayang? Untuk apa aku mengikutimu, itu hanya akan membuat hatiku hancur saja melihat kalian bermesraan di depanku." Alice membalas tatapan Kivandra.


"Ck. Bohong!" Kivandra berdecak kesal. "Lanjutkan drama murahanmu itu! Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk jauhi Naya! Jauhi rumah tanggaku! Jangan pernah ikut campur kehidupanku!" tegas Kivandra dengan wajah yang kesal.


Namun, hal tak terduga terjadi. Alice menarik jas Kivandra dah menciuumnya. Kini tangan Alice melingkar di leher Kivandra agar Kivandra tidak bisa menolaknya. Kivandra tentu saja menolak, dia mendorong keras tubuh Alice agar menjauh dari dirinya.


"DASAR WANITA MURAHAN! Menjijikkan!" cibir Kivandra seraya mengusap bibirnya.

__ADS_1


Ting!


Pintu elevator terbuka, Kivandra keluar dengan cepat dan meninggalkan Alice yang masih di dalam elevator. 'Kau lihat saja! Ini baru permulaan, Kivan! Kau telah mengubah hidupku menjadi seperti ini! Akan kubuat hidup kalian menderita satu sama lain!'


***


Kini Kivandra sudah sampai di depan kamarnya. Dia menutup keras pintu dengan keras membuat Naya berlarian menghampiri Kivandra. "Tuan muda, apa yang terjad--" pertanyaan Naya terhenti karena Kivandra tidak melihat ke arah Naya dan hanya melewatinya dengan wajah yang penuh dengan kekesalan.


'Apa yang terjadi pada Tuan muda? Siapakah wanita itu? Apakah Tuan muda mengenalnya? Sepertinya aku harus menanyakan masalah ini pada Kak Farel. Eh, tapi ... untuk apa aku ikut campur? Sebaiknya aku tidak mencari tahu apa-apa, pernikahan ini palsu. Aku tidak boleh ikut campur tentang kehidupan Tuan muda. Lebih baik aku mandi saja setelah itu aku istirahat.'


Naya pun mengambil pakaiannya untuk dia pakai setelah mandi. Setelah itu Naya pergi ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun pada Kivandra. Kivandra hanya memicingkan matanya ke arah kamar mandi. "Konyol!" Kivandra tersenyum tipis.


Setelah beberapa menit kemudian, ponsel Kivandra berdering tanda ada yang meneleponnya. Tanpa berlama-lama lagi, Kivandra mengambil ponsel dan mengangkat telepon yang tidak lain adalah telepon dari Tuan Liam. "Huft, sudah kuduga. Grandpa akan menghubungiku lagi. Grandpa pasti akan menanyakan gadis kocak itu," guman Kivandra seraya menempelkan ponsel di telinganya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Grandpa."


"Hehe, maafkan Kivan. Kivan lupa," timpal Kivandra disertai cengengesan.


"Ya udah, tidak apa-apa. Sekarang, berikan ponselnya pada Naya!"


"Baik, sebentar." Kivandra menaruh ponselnya di meja.


Kivandra berjalan menuju kamar mandi dan mengetuknya. "Nay--" Kivandra tidak meneruskan panggilannya karena pintu kamar mandi tidak terkunci.


"Naya, apa kau tidak mengunci pintunya?" tanya Kivandra dengan memegang handle pintu.


Namun, tidak ada jawaban dari Naya. Kivandra takut terjadi sesuatu pada Naya, dia pun memutuskan untuk masuk kek kamar mandi. Dia tidak berpikiran yang aneh-aneh. Yang dia pikirkan hanyalah keselamatan Naya.


Begitu pintunya dibuka, Kivandra dikejutkan dengan pemandangan yang luar biasa. Langkahnya terhenti, dia diam mematung tepat di belakang tubuh Naya yang hanya terbalut handuk mini dengan panjang di atas lutut. Saat ini Naya tengah mengeringkan rambutnya yang panjang, hitam dan lebat.


Kivandra menelan salivanya serta membulatkan matanya. Bagaimana tidak, Kivandra adalah seorang pria yang normal. Tentu saja dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya setelah melihat sesuatu yang tidak boleh dia lihat.

__ADS_1


"Aarrgghh!" teriak Naya pada saat melihat Kivandra ada di belakangnya.


Naya hendak melangkah namun, karena lantainya yang licin membuatnya terpeleset. Kivandra tak tinggal diam, dia dengan sigap menarik tangan Naya agar tidak jatuh. Kaki Kivandra kesulitan menahan tubuhnya karena lantainya yang licin membuat mereka berdua pun terjatuh.


Mereka jatuh dengan posisi yang membuat jantung mereka merasa tidak aman. Naya memejamkan matanya karena wajah beserta tubuh Kivandra berada di atas tubuhnya. Sementara itu, Kivandra asyik memandangi wajah istri kecilnya itu.


'Kamu cantik juga, Gadis kocak.' Kivandra mengulum senyumnya dengan hidung yang kembang kempis.


***


Farel mengetuk pintu kamar tuannya. Namun, karena tidak ada jawaban sama sekali, dia pun memutuskan untuk masuk. Begitu dia masuk, dia tidak melihat Tuan muda Kivandra begitupun dengan Naya. Farel hanya melihat ponsel yang tergeletak di atas meja nakas dengan suara Tuan Liam terus memanggil-manggil cucunya. Farel berjalan mendekati meja nakas dan mengambil ponsel milik tuannya.


"Hallo, Tuan Liam," ucap Farel setelah ponselnya dia tempelkan di telinganya.


"Astaga, Farel. Di mana Kivandra? Kenapa dia membuatku menunggu lama? Coba kau cari di mana Kivandra dan Naya berada! Setelah itu kau hubungi saya kembali!"


"Baik, Tuan Liam," jawab Farel.


"Tutt!" Tuan Liam memutuskan sambungan teleponnya.


Telepon terputus!


Setelah itu, dia pun mencari Tuan muda Kivandra dan Naya ke kamar mandi. Begitu sampai di kamar mandi, betapa terkejutnya Farel melihat pemandangan langka yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia membungkam mulutnya seraya mata yang membola dengan sempurna. Perlahan dia melangkah ke dalam kamar mandi dan berhenti di dekat pintu kamar mandi.


Farel tidak mengatakan apapun, dia hanya asyik melihat pemandangan itu. Naya dan Kivandra tidak menyadari jika Farel sudah ada di kamar mandi dan menyaksikan mereka. "Ekhem ekhem!" Farel berdehem membuat Kivandra terkejut dan jatuh menimpa Naya.


Bibir Kivandra jatuh tepat di bibir Naya membuat Naya mengerjapkan matanya dan berkedip-kedip beberapa kali.


"Baiklah, baiklah. Seharusnya aku tidak melihat adegan ini." gumam Farel seraya keluar dari kamar mandinya.


Dia menunggu Tuan muda Kivandra dan Naya di sofa dengan tangannya mengipas-ngipasi wajahnya karena terasa gerah setelah apa yang dia lihat barusan. 'Woah, pertama kalinya aku melihat Tuan muda seperti ini. Ah, rasanya gerah sekali. Gini amat nasib jomblo yang satu ini.'


***

__ADS_1


__ADS_2