Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 25 > Kemarahan Alice


__ADS_3

Naya terlonjak kaget, dia langsung berdiri begitu wajahnya disiram oleh Alice. "Kenapa Nona menyiram saya? Apa salah saya?" tanya Naya seraya mengelap wajahnya dengan kedua tangannya.


Kivandra menyorotkan matanya yang sangat tajam. Dia menunjukkan kemarahan pada Alice. Kivandra hendak menghampiri Alice dan membuat pelajaran namun, Naya memegang lengannya. Kivandra menoleh ke arah Naya dan Naya memberikan kode dengan menggelengkan kepala.


"Mas, sebaiknya kita pulang dari sini. Aku sudah kenyang," ajak Naya.


"Tapi, Sayang. Aku harus memberi pelajaran pada Nona tak beretika ini."


"Tidak perlu, Mas. Nanti Nona ini akan mendapatkan karmanya suatu saat nanti. Biar Tuhan yang membalasnya," ujar Naya.


"Baiklah. Kau beruntung karena istriku ini tidak menyimpan dendam padamu!" tegas Kivandra pada Alice.


"Oh iya, Farel bayar semua tagihan ini. Aku pulang lebih dulu," ujar Kivandra seraya pergi bersama Naya.


"Baik, Tuan muda." Farel segera membayar pesanannya.


Sementara itu, Alice benar-benar dibuat malu oleh Kivandra. Dia benar-benar malu tujuh turunan, apalagi sekarang dia menjadi pusat perhatian. Tanpa membuang waktu lagi Alice segera pergi dari restoran itu dengan wajah yang merah padam serta kedua tangan mengepal.


***


Di perjalanan ...


Ponsel Naya tiba-tiba berdering. Begitu dia melihat layar ponselnya, terlihat jelas nama Grandpa. Sebelum menjawabnya, Naya menatap Kivandra meminta jawaban apakah dia harus mengangkat teleponnya atau tidak.


"Siapa?" tanya Kivandra seraya menatap ke arah ponsel Naya.


"Grandpa video call, haruskah Naya mengangkatnya?"


"Angkat saja, sedari tadi Grandpa menanyakan dirimu terus."


"Baiklah, aku akan menjawabnya." Naya langsung mengangkatnya.


Telepon terhubung!


"Assalamu'alaikum, Grandpa," sapa Naya dengan senyuman manis ke arah kamera ponselnya.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu sedang apa di jalan sendirian? Di mana suamimu?" tanya Tuan Liam dari seberang telepon. Terlihat jelas wajah Tuan Liam sedikit cemas.


"Grandpa jangan khawatir, Mas Kivan ada bersama Naya. Kami sedang berjalan-jalan," jawab Naya dengan wajah yang ceria.


"Benarkah, kalau begitu arahkan ponselnya pada Kivan, Grandpa ingin melihat suamimu!"


"Baik, Grandpa." Naya mengarahkan kameranya ada Kivandra.


Wajah Kivandra terlihat begitu bete. Namun, begitu kamera mengarah padanya, dia mencoba ceria di hadapan Tuan Liam. Naya tersenyum melihat wajah Kivandra yang ceria, walaupun itu keceriaan yang palsu. Naya pertama kalinya melihat seorang Kivandra tampak ceria.


"Cucuku, Kivan. Bagaimana bulan madunya? Apakah lancar?"


Uhuk! Uhuk!


Naya dan Kivandra terbatuk-batuk begitu mendengar kata honeymoon. Mau tidak mau, mereka berdua pun harus berpura-pura jika hubungan mereka itu murni suami dan istri. Kivandra menarik Naya ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Bulan madunya berjalan lancar, Grandpa. Naya ini sangat agresif jika di ranjang. Aku kewalahan melayaninya," ucap Kivandra dengan penuh kebohongan.


Naya membulatkan matanya dengan sempurna. Dia begitu terkejut dengan ucapan suaminya. Naya mencubit perut sixpack suaminya, sedangkan Kivandra, dia sedikit meringis begitu tangan Naya mencubit perutnya.


"Grandpa lihat sendiri 'kan, bagaimana istri kecilku ini. Dia ini sangat galak," rengek Kivandra bak bocil yang mengadu pada orang tuanya.


"Kau memang pantas mendapatkan itu, Nak. Lagian, istrimu pasti malu jika kau membicarakan malam pertama kalian apalagi kalian sedang di tempat umum. Tidakkah kamu malu?"


"Ya, bukan salah Kivan. 'Kan Grandpa sendiri yang bertanya, makanya Kivan jawab dengan jujur," jawab Kivandra tidak mau kalah.


"Kau ini selalu saja tidak mau kalah. Grandpa akui, Grandpa yang salah. Seharusnya Grandpa tidak menanyakan hal itu. Grandpa tutup teleponnya, have fun. Tutt!" Tuan Liam mengakhiri video call-nya.


Telepon terputus!


"Ih, dasar alien mesum! Kenapa mengatakan itu pada Grandpa?" protes Naya pada Kivandra.


"Lalu, aku harus jawab apa? Haruskah aku jawab jika istri tak tahu diri ini telah melukai kembaranku? Haruskah aku mengatakannya?" skak Kivandra.


Naya tertegun. "Hehe, jangan. Aku 'kan tidak sengaja menendangnya, lagian salah Tuan muda sendiri karena mau macem-macemin Naya," timpal Naya.


"Macem-macemin kamu? Enggak salah dengar aku? Ih, wanita cantik masih banyak di luaran sana. Ngapain harus macem-macemin kamu, malesin banget!" Kivandra nyelonong pergi meninggalkan Naya.


"Kebiasaan banget! Tuan muda tunggu!" Naya berlari mengejar Kivandra.


***


Buana Home ....


"Dad, gimana kabar putra dan menantuku?" tanya Thalia.


"Apa itu, Dad?"


"Yang pertama, mereka berdua terlihat sangat akur dan ceria. Yang kedua mereka berdua sudah melakukan malam pertama,"


"Apa?" Thalia terperanjat dari duduknya. "Daddy serius? Mereka sudah melakukan malam pertama?"


"Iya, Daddy mendengarnya dari bibir Kivan, dan konyolnya Kivan menjelaskan malam pertamanya pada Daddy. Bukankah putramu itu terlalu polos, haha. Tingkah mereka itu lucu sekali, Daddy tidak menyangka jika Kivan adalah pria yang polos." Tuan Liam tertawa terbahak-bahak.


"Haha, astaga anak itu. Apakah dia tidak malu menceritakan saat malam pertamanya, haha Kivan." Thalia ikut tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari ayahnya.


***


Bugh!


Alice membanting pintu kamar hotelnya. Dia benar-benar sangat marah, dia tidak rela jika Kivandra mempermalukan dirinya seperti tadi. Dia juga tidak bisa terima kalau Kivandra lebih memilih Naya si gadis kampung itu dari pada dirinya.


Dia yang saat ini sedang duduk di sofanya langsung menghubungi Denison. Tak lama kemudian, Denison pun menjawab teleponnya. Alice menempelkan ponselnya di telinga.


Telepon terhubung!


"Datanglah ke kamarku! Ada pekerjaan penting yang harus kau lakukan!"

__ADS_1


"Baik, Nona Alice. Saya akan datang."


"Cepatlah! Tutt!" Alice menutup teleponnya.


Telepon terputus!


Setelah beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar. "Masuklah!" ujar Alice. Dia tahu jika yang datang adalah Denison.


Pintu terbuka dan masuklah seorang pria bernama Denison. Denison menutup pintu dan berjalan menuju Alice di sofa. "Duduklah!" perintah Alice seraya mempersilakan Denison untuk duduk.


Denison mengangguk cepat. Kemudian dia duduk berhadapan dengan Alice. "Nona Alice, apakah Nona baik-baik saja?"


"Aku tidak baik-baik saja. Aku ingin kau menyewa seseorang untuk mencelakai seseorang untukku!" perintah Alice.


"Kali ini, siapa yang ingin Nona Alice celakai?"


"Akan kuberi tahu nanti. Sekarang siapkan orangnya dulu, setelah itu akan kutunjukkan fotonya."


"Baik, Nona. Saya akan menyiapkan orangnya."


"Ya sudah, kau boleh Pergi!"


"Saya permisi, Nona."


Alice hanya menanggapinya dengan anggukan kepalanya.


***


Denison yang saat ini sedang berada di luar kamar Alice, dia mencoba menghubungi rekannya. Tanpa membuang waktu lebih banyak, Denison memakai earphone seraya berjalan menuju kamar hotelnya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Jack!"


"Hallo, Denison. Ada apa menghubungiku?"


"Aku ada kerjaan untukmu!"


"Apa itu?"


"Datanglah ke negara S! Untuk tiketnya, akan aku pesanan dan kau jangan khawatir, aku akan mentransfer uang padamu asalkan kau bersedia bertemu di negara S."


"Katakan dulu, kali ini apa kerjaanku? Apakah aku harus membunuuh seseorang?"


"Kau harus mencelakai seseorang! Aku akan menceritakan lebih detail setelah kau berada si negara S! Bagaimana? Apakah kau akan mengambil pekerjaan ini?"


"Tentu saja, aku aman mengambilnya. Aku akan bersiap-siap."


"Aku tunggu! Tutt!"


Telepon terputus!

__ADS_1


"Misi selesai!" Denison menyimpan ponselnya di saku.


***


__ADS_2