
"Kivan, apa yang kau lakukan? Tanganku sakit, lepaskan!" Alice memberontak dengan berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Kivandra.
Begitu sampai di luar rumah, Kivandra melepaskan tangan Alice dengan kasar. "Pergi dari sini! Jangan pernah temui aku lagi!" Kivandra mengusir Alice secara mentah-mentah.
"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini. Susah payah aku datang ke tempat kumuh ini hanya untuk menemuimu! Dan kau ... kau dengan teganya mengusir aku seperti ini," timpal Alice.
"Aku tidak peduli! Jangan menguji kesabaranku. Sekarang juga, kau pergi dari sini atau--"
"Atau apa? Apa yang akan kau lakukan, hah?" sela Alice.
"Aku akan menyuruh orang untuk membawamu secara paksa dari tempat ini, bahkan aku tidak akan segan-segan untuk menyuruh orang melukaimu," ancam Kivandra.
"Oh iya? Aku tidak takut! Aku yakin jika kau tidak akan mungkin tega melakukan itu padaku. Karena aku tahu jika kau masih menyukaiku, kau masih memiliki perasaan untukku 'kan," ucap Alice dengan percaya diri.
"Itu tidak benar! Jangan menantangku dengan mengatakan itu. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, aku beri kau satu kesempatan untuk menjawab. Pergi sekarang juga atau aku akan melakukan hal nekat?" Kivandra menyorotkan tatapannya yang tajam. Dari menunjukkan api kemarahan di matanya.
Kali ini Alice melihat ada kemarahan di mata Kivandra. Dia pun percaya jika ucapannya tidak main-main. Dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung Naya dan kembali ke kotanya. Dia tidak ingin disakiti oleh Kivandra.
Namun, meskipun dia mengalah untuk pergi bukan berarti dia akan menyerah begitu saja. Dia tidak akan pernah menyerah sebelum dia mendapatkan Kivandra kembali. Dia akan menghalalkan secara cara agar pernikahan Kivandra dan Naya berakhir.
****
__ADS_1
Kivandra kembali memasuki rumahnya, dia kembali ke kamarnya dengan wajah yang merah padam karena amarahnya. Saat ini, Naya baru selesai mandi, dia pun terkejut begitu melihat suaminya tiba-tiba masuk kamar. Naya dengan cepat mengambil pakaiannya di lemari dan hendak pergi ke kamar mandi lagi.
Namun, sebelum itu Kivandra sudah menarik lengan istri kecilnya itu. "Kenapa kau selalu menghindariku, Nay?" tanya Kivandra dengan tatapan yang tajam.
Naya tertunduk, dia tidak berani mengangkat wajahnya apalagi menatap mata Kivandra. "Aku tidak menghindarimu, Mas. Aku hanya ingin memakai pakaianku saja, aku merasa risih jika memakai pakaianku di sini," jawab Naya, polos.
"Risih? Apa kau lupa, jika aku ini suamimu? Aku berhak atas dirimu sepenuhnya termasuk melihat tubuhmu ini," skak Kivandra.
"Aku tahu, Mas. Kau tidak perlu mengingatkan aku akan hal itu. Aku akan selalu ingat itu, aku tahu jika Mas berhak atas tubuhku tapi--"
"Tapi apa? Apa yang membuatmu selalu menolakku? Apa kau meragukan cintaku lagi? Bukankah kau baru saja mengatakan tentang perasaanmu padaku? Lalu, apa lagi yang membuatmu belum siap? Apa semua ini karena Alice?" Kivandra memegang bahu istri kecilnya.
Glek!
Mendengar ucapan itu dari bibir mungil istri kecilnya, mata Kivandra berbinar. Dia sangat senang mendengar jawaban Naya jika dia sudah berencana akan melakukan malam pertama pada malam ini. "Benarkah? Jadi, kau sudah siap? Dan malam ini kita akan melakukan malam pertama?" Kivandra mengangkup kedua pipi Naya.
Naya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya. "Terima kasih, Sayang."
Muach! Muach!
Saking merasa senangnya, Kivandra menghujani Naya dengan ciuman ciumaan lembut di wajah istri kecilnya. "Mas, sudah cukup. Nanti saja malam, sekarang Mas mandi dulu gih. Aku sudah siapin air hangat untukmu. Oh iya, Mas pakai pakaian yang sudah aku siapkan di lemari. Mas harus ikut pengajian juga," ucap Naya.
__ADS_1
"Wah, Gadis kocakku ini sudah mulai menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Rupanya kau sudah dewasa. Aku mencintaimu, Gadis kocak." Kivandra memeluk istri kecilnya dengan hangat.
"Aku juga mencintaimu, Tuan Alien." Naya membalas pelukan suaminya.
"Pelukannya sudah dulu, Mas mandi dulu gih. Aku akan menunggumu di bawah," ucap Naya.
"Okay." Kivandra pun pergi mandi.
Sementara itu, Naya memakai pakaiannya sebelum akhirnya dia turun ke dapur untuk membantu Nek Aminah memasak.
****
Selesai acara pengajian dalam rangka syukuran rumah barunya Nek Aminah, Kivandra berpamitan pada Nek Aminah untuk pergi ke kamar bersama cucunya. Sedangkan Farel, dia berpamitan untuk pulang ke Buana Home. Karena semuanya sudah selesai, Nek Aminah pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena hari ini tubuhnya benar-benar lelah.
Di kamar Naya ....
Saat ini, Naya dan Kivandra sudah mengenakan pakaian tempurnya. Benar, Naya memakai lingerie yang cukup seksi dan membuat suaminya tertegun beberapa kali melihatnya. Mereka terdiam tanpa kata, hanya mata mereka yang berbicara disertai debaran jantungnya.
Bohong jika Naya tidak takut, sejujurnya dia sangat takut untuk mulai melakukan hubungan suami istri. Namun, dia sudah berjanji jika malam ini dia akan memberikan hak suaminya. Kivandra menggenggam tangan Naya dan menciuumnya dengan lembut.
'Ya Tuhan, aku benar-benar gugup. Apa yang harus aku lakukan?'
__ADS_1
****