
Setelah menikmati pemandangan dari kereta gantung, Kivandra, Naya dan Farel pun turun dari kereta gantung. Karena jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, Kivandra memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang tidak jauh dari desa indah itu. Mereka masuk secara bersama-sama.
Naya berjalan agak pelan karena perutnya terasa sangat mual setelah naik kereta gantung. Untuk orang yang belum pernah menaiki kereta gantung mungkin akan merasakan hal yang sama seperti Naya. Namun, ada juga orang yang belum pernah menaikinya tahan dan tidak merasakan mual.
Kivandra yang menyadari jika langkah Naya sangat lambat langsung menoleh ke arah istri kecilnya itu. "Kamu itu manusia atau kura-kura sih? Lambat sekali jalanmu!" celetuk Kivandra.
"Ih, dasar suami tidak peka! Sudah tahu perutku mual, kepalaku pusing. Aku tidak bisa jalan cepat," timpal Naya dengan sedikit kesal.
"Naik mobil mual, naik pesawat mual, naik kereta gantung pun kau mual juga. Lalu kita harus naik apa agar kamu tidak merasa mual lagi, eoh?" Kivandra menatap lekat Naya.
"NAIK DELMAN!" celetuk Naya dengan tegas seraya berjalan lebih dulu.
"Wah, Gadis Kocak! Di sini mana ada delman!" Kivandra menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan konyol Naya.
Sementara itu, Farel hanya menertawakan tuannya. "Diam kau, Farel! Mau aku potong gajimu?" ancam Kivandra.
"Tidak, Tuan muda. Maafkan saya," jawab Farel dengan menahan tawanya.
Kivandra pun menyusul Naya yang sudah duduk lebih dulu. Naya memilih meja paling pojok karena menurutnya, duduk di pojok tidak akan ada orang lain yang melewatinya. Setelah Kivandra dan Farel duduk, datanglah sebuah pelayan restoran yang membawa daftar menu makanan yang ada di restorannya.
Kivandra langsung memilih makanan yang akan menjadi makan siangnya. Begitupun dengan Naya dan Farel. Farel mungkin sudah terbiasa melihat makanan mewah dari luar negeri. Berbeda dengan Naya, dia tidak begitu paham nama-nama makanan yang ada di daftar itu.
Kivandra yang paham akan hal itu, langsung mengambil daftar menunya dan memberikan pada pelayan itu. "Kamu diam saja, aku akan memerankan makanan yang spesial untukmu," ucap Kivandra pada Naya.
Naya hanya bisa mengangguk. Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa memilih makanannya apalagi membaca nama makanannya. "Kau sendiri mau pesan apa, Farel?" tanya Kivandra pada Farel.
"Saya ingin Birchel muesli, Tuan muda," jawab Farel.
__ADS_1
"Baiklah. Kami pesan Birchel muesli 3, Tartiflette 1 dan bawakan minuman terenak di restoran ini!" perintah Kivandra kepala pelayan itu dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Baik, Tuan. Makanan akan segera datang, mohon ditunggu." pelayan itu menjawabnya dengan ramah, lalu dia pergi untuk menyiapkan makanannya.
Naya terlihat kebingungan. Dia melihat ke sana ke mari mencari sesuatu. "Woiiyy! Kamu cari apa?" tanya Kivandra.
"Euh ... aku bingung, kenapa Tuan muda memesan 4 makanan sedangkan kita hanya bertiga," jawab Naya.
"Tentu saja aku memesannya untuk--"
"Untukku. Kivan memesan makanan itu untukku," sahut seorang wanita yang berpakaian sedikit terbuka dan tengah berjalan ke meja Kivandra.
Naya menoleh ke belakang, begitu melihatnya Naya merasa tidak asing. 'Sepertinya aku pernah melihat wanita ini. Tapi, di mana?'
Kivandra dan Farel saling melempar tatapan satu sama lain. Dia takut jika Naya mengetahui tentang mantan tunangannya dan melaporkan pada Tuan Liam. Ternyata wanita yang saat ini berada di hadapan mereka bertiga tidak lain adalah Alice, mantan tunangan Kivandra.
"Hai, Nona manis. Kita bertemu lagi." Alice tersenyum pada Naya.
Naya membalasnya dengan senyuman kecutnya. Kali ini Naya tidak begitu menanggapi wanita yang ada di hadapannya. Dia fokus memainkan ponsel pemberian Tuan Liam sebelum dia pergi ke Negara S.
Kivandra terperanjat melihat Naya mengeluarkan ponselnya. Kivandra tidak tahu jika Naya memiliki ponsel karena sebelumnya dia tidak pernah melihat Naya bermain ponsel. Sambil menunggu makanan, Naya bermain game yang ada di ponselnya tanpa memperhatikan Alice dan suaminya.
Kivandra, Alice dan Farel terasa canggung dan Kivandra hanya asyik memperhatikan istri kecilnya itu. "Kenapa menatapku sepertinya itu? Kenapa kalian terlihat canggung? Mengobrollah, jangan pedulikan aku ada di sini. Anggap aku tidak ada di sini," ujar Naya tanpa menoleh.
"Tentu saja aku mengagumi kecantikan istri kecilku ini. Aku semakin jatuh cinta melihat kecantikan alamimu. Aku tidak pernah menyesal menikahi gadis murni dan suci sepertimu." Kivandra menatap lekat Naya. Ucapannya sedikit menyindir Alice.
Mendengar itu, jantung Naya kembali berdegup kencang. Dia menaruh ponselnya di atas meja. Pandangannya beralih ke mata suaminya. 'Hmmm ... Sepertinya dia sedang berakting lagi.'
__ADS_1
Kivandra memberikan sebuah kode pada Farel melalui matanya. Farel pun mengerti maksud Kivandra. Kivandra dan Farel pun berdiri dan berpindah posisi. Kali ini Kivandra duduk di sebelah Naya dan Farel duduk di sebelah Alice.
Alice hanya menyunggingkan senyuman dengan memutar bola matanya malas. Tak lama kemudian, pesanan Kivandra telah siap. Pelayan itu segera menyajikan di meja Kivandra.
Begitu makanan siap, tanpa Kivandra duga, Alice mengambil satu makanan yang seharusnya menjadi makanan untuk Naya. "Sayang, kamu tahu? Makanan yang Nona itu ambil ... seharusnya itu adalah makananmu. Aku sengaja memesan makanan itu khusus untukmu tapi sepertinya Nona ini sangat kelaparan sampai mengambil makananmu. Aku akan memesan kembali makanan itu, kamu tidak keberatan, 'kan?" Kivandra menangkup lembut kedua pipi Naya.
Naya mengangguk dengan senyuman yang manis dan menggemaskan. "Tidak perlu memesannya lagi, Mas. Satu makanan ini saja sudah cukup, kebetulan aku sedang diet. Aku mau badanku tetap seksi, agar Mas selalu puas dan ketagihan." Naya mengedipkan sebelah matanya. Kemudian dia mendekatkan bibirnya di telinga suaminya.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya hanya menyempurnakan akting Tuan muda, agar kita terlihat murni pasangan suami istri," bisik Naya.
Kivandra menarik pelan pinggang istri kecilnya itu dan mengecup bibirnya secara singkat. Hal itu membuat Naya membulatkan matanya dengan sempurna. Ingin rasanya dia marah tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat karena ada Alice.
'Dasar Alien mesum!'
Alice yang melihat adegan itu hatinya mulai panas, kedua tangannya mengepal tanda amarahnya sudah berada di puncak. Melihat itu, Naya ingin segera menyudahi aktingnya dengan melakukan hal yang sama seperti yang Kivandra lakukan. Naya mencium lembut pipi Kivandra di hadapan Alice dan Farel.
"Aku mencintaimu, Mas." Naya memasang wajah yang menggoda membuat Kivandra tertegun.
'Ngapain sih pasang wajah seperti itu! Jika kembaranku tahu, bisa bangun dia.'
"Aku juga," jawab Kivandra dengan mencium tangan istri kecilnya.
Alice tidak tahan lagi menyaksikan adegan romantis mantan tunangannya bersama Naya. Dia mengambil segelas orange jus dan menyiramkannya pada wajah Naya.
Byurr!
***
__ADS_1