
"Iya, Bu. Naya teh sudah menikah sama Mas Kivan," jawab Naya dengan wajah yang merona.
"Kenapa tidak menikah di kampung saja? Oh iya, Usia Neng Naya 'kan masih sangat muda ... kenapa memutuskan untuk menikah? Neng Naya tidak hamil di luar nikah 'kan?" celetuk Ibu berdaster.
"Astaghfirullah ... ya tidak atuh, Bu. Naya menikah dengan Mas Kivan bukan karena hamil. Kami menikah karena--"
"Kami saling mencintai," sela Kivandra seraya memegang tangan istrinya.
Sontak Naya sedikit terkejut, dia menatap ke arah suaminya. "Syukurlah kalau kalian menikah atas dasar sama-sama cinta. Kami hanya takut kalian menikah karena hamil di luar nikah,"
"Hehe tidak, Bu. Naya tidak mungkin melewati batasan yang sudah Nenek kasih untuk Naya." Naya tersenyum ke arah ibu-ibu itu.
"Kalau begitu kami pamit ya, Ibu-ibu. Ayo, Sayang." Kivandra membukakan pintu mobil untuk Naya.
"Iya silakan, Ujang kasep," jawab ibu-ibu.
"Iya, Mas." Naya masuk mobil.
Kivandra menutup pintunya setelah Naya masuk mobil. Kemudian dia berjalan mengitari mobilnya dan masuk lewat pintu kemudi. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Kivandra langsung melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Naya memikirkan ucapan suaminya. Ingin rasanya dia menanyakan tentang ucapannya. Benarkah dia mulai memiliki perasaan kepadanya? Atau dia hanya sedang berakting saja.
__ADS_1
Namun, melihat suaminya yang tengah fokus menyetir. Dia pun memutuskan untuk tidak menanyakan hal itu. Dia memilih untuk diam dan tidak terlalu berharap dengan ucapan suaminya.
"Kenapa diam saja?" tanya Kivandra pada saat melihat istrinya terlihat sedikit gelisah.
"Aku ingin bertanya tapi, Mas 'kan lagi nyetir. Aku takut membuat konsentrasi Mas pecah," jawab Naya.
"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan. Jangan pernah merasa sungkan padaku, Nay. Lagian aku sudah terbiasa menyetir. Mau aku menyetir sambil mengobrol pun itu akan tetap aman," timpal Kivandra tanpa menoleh ke samping.
"Apa yang Mas katakan tadi hanyalah akting atau Mas memang sudah mulai mencintaiku?" tanya Naya dengan wajahnya yang polos.
Ckiitt!
Kivandra terkejut sampai menginjak rem secara mendadak. Mobil pun berhenti secara mendadak membuat Naya hampir terjedag. Namun, itu tidak terjadi karena tangan Kivandra menahan tubuh istrinya agar kening Naya tidak terbentur.
"Pertanyaanmu membuatku hilang fokus. Apa kamu yakin ingin mendengar jawabannya sekarang?" Kivandra menatap tajam istrinya.
Naya mengangguk dengan cepat serta membalas tatapan suaminya. "Baiklah, akan kujawab setelah kita sampai di kebun teh. Kebetulan aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu," jelas Kivandra.
"Iya, Mas. Kebun teh tidak jauh dari sini. Tinggal beberapa meter lagi," ujar Naya.
Mendengar jika jarak menuju kebun teh sudah tidak jauh lagi, Kivandra langsung menancap gas dan melajukan mobilnya dengn cepat. Dia sudah tidak sabar ingin mengatakan sesuatu pada istrinya. Begitupun dengan Naya. Dia tidak sabar ingin mengetahui jawaban Kivandra tentang perasaannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kebun teh. Kivandra memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tidak jauh dari kebun teh. Mereka turun secara bersamaan dan berjalan menelusuri kebun teh.
Kebun teh yang luasnya berhektar-hektar itu menunjukkan keindahan alamnya dengan dedaunan yang tumbuh dan berwarna hijau segar itu. Naya sudah lama tidak melihat kebun teh semenjak dia tinggal di kota J.
Naya berjalan lebih dulu, sedangkan Kivandra, dia berjalan di belakang istrinya. Dia memperhatikan istrinya yang sedang berjalan dengan tangannya menyentuh daun-daun. Menurutnya ini adalah moment langka. Kapan lagi dia akan berduaan dengan istrinya di tempat yang indah ini.
Kivandra segera mengambil ponsel di dalam saku. Dia langsung memotret bahkan merekamnya sebagai kenang-kenangan. Begitu Naya membalikkan badannya, Kivandra dengan cerdasnya mengarahkan ponsel ke arah lain. Seakan-akan dia sedang merekam suasana di kebun teh.
"Mas, di depan sana ada rumah pohon. Bagaimana jika kita ke sana? Kita bicara di rumah pohon itu saja," ajak Naya dengan matanya yang berbinar.
Kivandra mengangguk. "Ide bagus, ayo."
Mereka pun berjalan cepat menuju rumah pohon. Setelah sampai di depan rumah pohon itu, Kivandra cukup dibuat takjub dengan rumah pohon yang ada di hadapannya. Ternyata bukan hanya di film-film saja, di kampung istrinya pun ada.
Kivandra sudah tidak sabar ingin menaiki rumah pohon itu. Begitu Naya sudah naik, kini giliran Kivandra yang naik. Kivandra duduk di sebelah Naya.
Ukuran rumah pohon itu tidak terlalu besar dan hanya muat untuk 4 orang. Mereka sama-sama menikmati pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari atas. Hembusan angin membuat keduanya memejamkan mata merasakan kesegaran yang menyelusup masuk ke dalam kulitnya.
Kivandra membuka matanya dan menoleh ke arah istrinya. Sementara itu, Naya baru saja membuka mata. Pada saat Naya menoleh ke samping, dia dikejutkan oleh suaminya.
Cup!
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di bibir ranum Naya. Matanya membelalak, tubuhnya kaku bak kaneno. "Aku mencintaimu, Kanaya!"
****