Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 9 > Kepolosan Naya


__ADS_3

"Kenapa diam aja sambil melihat pintu masuknya? Ada apa? Apa Naya sakit? Kenapa wajahmu keringetan seperti ini, Nak?" tanya Thalia dengan lembut dan menempelkan telapak tangannya di kening Naya.


"Euh, Naya enggak sakit kok, Mami. Naya hanya takut dan tidak tau cara masuknya seperti apa? jujur Naya baru pertama kali melihat pintu yang bisa berputar seperti ini, Naya takut terjepit," jelas Naya dengan jujur.


"Ya ampun, Sayang. Jadi, kamu diam aja itu karena takut dan tidak tau cara masuknya?" Thalia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum gemas melihat menantunya yang begitu polos.


Naya mengangguk pelan, dia sedikit malu dan merasa jadi menantu yang tidak tahu apa-apa. Thalia yang melihat raut wajah Naya yang bersedih langsung mengelus kepalanya. "Sayang, tidak apa-apa jika Naya tidak tau caranya dan takut. Wajar saja jika Naya takut, ini 'kan pertama kalinya Naya melihat pintu seperti ini. Mami juga dulu pertama kali melihat ini, Mami juga sama ketakutan dan bingung cara masuknya tapi setelah Mami coba masuk Mami tidak takut lagi. Naya juga harus seperti Mami ya, Naya pasti bisa. Jangan takut! Ada Mami yang akan mengajari Naya, Naya lihat Mami ya, bagaimana cara masuknya. Perhatikan baik-baik." Thalia mulai berjalan memasuki pintu berputar itu.


Naya memperhatikan dengan baik cara ibu mertuanya masuk. Setelah ibu mertuanya masuk, Naya melihat lambaian tangan ibu mertuanya yang merupakan sebuah kode untuk Naya mencobanya. Naya pun menanggapinya dengan senyuman serta deg-degan.


"Bismillah, semoga Naya tidak terjepit. Ya Allah, kenapa pintu ini begitu ribet sekali. Naya teh kalau punya rumah, enggak akan mau pake pintu yang seperti ini." Naya bermonolog dalam lamunannya.


Perlahan Naya melangkahkan kakinya dan berjalan mengikuti putaran pintunya, begitu berada di hadapan ibu mertuanya Naya pun langsung melompat dan berhasil. Naya berhasil melewati rintangannya. Ya, bagi Naya ini adalah sebuah rintangan yang belum pernah dia lewati sebelumnya.


Thalia menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya yang polos. Inilah alasan kenapa Thalia memilihkan istri untuk anaknya Kivandra yang masih polos, agar dia bisa medidiknya menjadi istri yang patuh. Naya memang berbeda dari gadis kota yang sekarang, sangat jauh berbeda. Dari segitu penampilan, bahasa dan tingkah laku sangat jauh berbeda.


"Sayang, jika nanti kamu melihat pintu berputar seperti ini ... usahakan kamu tetap rileks. Jangan panik, dan satu lagi ... jangan melompat seperti itu, karena nanyo Naya bisa saja terjatuh. Mami harap Naya mengingat semua pesan Mami ya," tutur Thalia. Dia pelan-pelan menasehati menantunya.


"Baik, Mami. Naya akan inget terus pesan Mami, maafin Naya ya ... karena Naya sudah membuat Mami malu," ucap Naya. Dia menyadari tingkahnya yang membuat ibu mertuanya malu walaupun pada kenyataannya Thalia tidak pernah merasa malu dengan tingkah laku Naya yang bisa dikatakan kampungan.


"Hei, Sayang. Kenapa bicaramu seperti itu? Mami tidak pernah malu punya menantu setulus dirimu, Mami justru bersyukur punya menantu seperti Naya." Thalia tersenyum manis.


"Beneran, Mami?" mata Naya berbinar mendengar jawaban ibu mertuanya.


"Iya, Sayang. Ya udah, ayo kita cari pakaian yang cocok untukmu." Thalia menarik lembut tangan menantunya dan membawanya menemui temannya.

__ADS_1


"Thalia Valeska Norabel, Bestie aku!" panggil seorang wanita yang seumuran sama Thalia. Wanita itu tidak lain adalah temannya bernama Refina.


"Hai, Bestie." Thalia balik menyapa temannya.


Lalu mereka berpelukan dan cipika cipiki. "Ya ampun, Bestie. Kamu ini semakin hari semakin cantik aja, dari dulu sampai sekarang masih aja cantik. Aku yakin deh, mantan suami kamu pasti nyesel udah ninggalin kamu demi kerikil murahan itu," celetuk Refina.


"Ekhem, ekhem." Thalia memberi kode lewat matanya kepada temannya untuk tidak membahas masalah kehidupan pribadinya di hadapan Naya.


"Aku hampir lupa, siapa yang kamu bawa ini, Bestie? Apa ini pelayan baru di rumahmu?" tanya Refina.


Naya membelalakkan matanya saat dirinya dikira pelayan ibu mertuanya. "Ya ampun, Bestie! Mulutmu ini memang mulut toren ya. Perkenalkan ... ini menantuku, Naya." Thalia memperkenalkan Naya kepada temannya.


"Apa? Menantu?" Refina terkejut dengan membulatkan matanya dengan sempurna.


"Hallo, Tante Refina. Saya Asti Kanaya." Naya mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Hehe, saya refina." Refina bersalaman dengan Naya hanya sekejap. Dia merasa anti bersalaman dengan orang kampung.


"Bestie, tolong carikan pakaian yang model terbaru. Saya tidak peduli dengan harganya yang penting kualitas barangnya bagus dan dandani menantuku secantik mungkin, pakai magic yang sering kau gunakan," pinta Thalia kepada sahabatnya.


"Okay, Bestie. Sebelum aku menyiapkan pakaiannya, pegawaiku akan membawa Naya untuk merias rambut dan wajahnya. Sementara kamu ikut denganku untuk memilih pakaiannya," jelas Refina.


"Okay, atur-atur aja gimana baiknya. Naya enggak apa-apa 'kan Mami tinggal bentar? Naya akan ditemani sama karyawan sahabat tante," tanya Thalia pada menantunya.


"Iya, Mami. Naya enggak apa-apa kok." Naya tersenyum ramah.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu ikuti pegawaiku," ujar Refina kepada Naya sembari menunjuk ke arah karyawannya.


"Baik, Mami. Naya ke sana dulu ya," pamit Naya.


"Iya, Sayang," jawab Thalia. Lalu Naya pun pergi mengikuti karyawan Refina.


Sepanjang jalan, semua mata memandang sinis ke arah Naya yang berjalan di belakang pegawai Refina. Naya hanya menundukkan kepalanya karena merasa malu jika ditatap seperti itu oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Siapa dia?" tanya seorang wanita kepada rekannya dengan tatapan mengarah pada Naya.


"Gue dengar sih, dia itu istrinya Tuan muda Kivan," jawab rekannya.


"Apa?" Semua pegawai yang sedang melakukan pekerjaan sontak membulatkan matanya dan menatap tajam pada rekannya.


"Gila lo ya! Mana mungkin Tuan muda Kivan mau sama gadis kampungan kek gini. Lo liat aja tuh penampilannya." celetuk wanita yang mengenakan jeans pendek dengan rambutnya yang pirang.


"Ya, tapi ... gue denger sendiri dari Tante Thalia. Justru Tante Thalia yang memperkenalkan gadis kampung itu pada Bos kita," timpal yang lain.


"Gue enggak habis pikir kok Tante Thalia bisa-bisanya menikahkan putranya yang penuh pesona itu dengan gadis kampung ini. Gue yakin deh kalau Tuan Kivan juga ilfeel lihat gadis ini," celetuk wanita berambut pirang.


"BAGUS! BUKANNYA KERJA MALAH GHIBAH! APA SAYA MENGGAJI KALIAN HANYA UNTUK GHIBAH?" Pekik seorang wanita yang tidak lain adalah Bosnya, Refina Arelia.


Semua pegawai yang sedang asyik membicarakan pernikahan Naya langsung terburu-buru ke tempatnya semula serta menundukkan kepalanya. Sementara Naya masih tetap berdiri dengan menahan rasa sakit hatinya mendengar ucapan buruk dari para pegawai Arelia Boutique.


***

__ADS_1


__ADS_2