
Ting!
Pintu elevator terbuka. Kivandra keluar dari elevator. Rupanya Kivandra berusaha menghindari Tuan Liam dengan pergi lewat belakang. Namun, begitu Kivandra keluar dan berjalan menuju basement khusus mobilnya, dia kejutkan oleh Tuan Liam yang sudah berdiri di sebelah mobil-mobilnya.
"Sudah Grandpa duga, kalau kau akan berusaha menghindari Grandpa." Tuan Liam berkaca pinggang dengan tatapan yang cukup tajam.
Kivandra tertegun dan berhenti tepat di hadapan kakeknya. "Hehe, Grandpa. Sejak kapan Grandpa ada di basement Kivan?" Kivandra cengengesan seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sejak kau keluar dari kamar. Dengar Kivan! Grandpa tidak main-main, jangan membuat Grandpa marah! Katakan yang sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi selama kau di sana?" desak Tuan Liam.
"Kita bicara di dalam mobil, Grandpa. Akan Kivan ceritakan," ajak Kivandra.
Tanpa banyak bicara, Tuan Liam masuk mobil dan dalam hitungan detik Kivandra memasuki mobil yang berbeda tepatnya di depan mobil yang Tuan Liam masuki. Tak membuang-buang waktu lagi, Kivan menginjak gas dan pergi meninggalkan basement.
"Dasar anak nakal! Berani-beraninya kau menipu Grandpa seperti ini!" pekik Tuan Liam yang langsung keluar dari mobil.
Namun, Kivandra tidak mendengarnya karena mobilnya sudah jauh meninggalkan basement. Sementara itu, Tuan Liam hanya bisa mendengus kesal seraya menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir jika cucunya itu masih suka bertingkah layaknya anak kecil yang selalu saja membuat kakeknya kesal. Sikap nakalnya tidak pernah bisa pergi dari dirinya seakan sudah menyatu dengan dirinya.
***
"Alhamdulillah, sarapan buatan suamiku itu ternyata sangat enak. Apakah di dalamnya ada cinta?" gumam Naya sembari senyum-senyum kecil.
"Enggak! Enggak mungkin! Eh, kenapa aku berpikir sejauh itu. Bodoh sekali!" Naya menepuk bibirnya sendiri.
Naya segera keluar dari kamarnya dengan membawa piring dan gelas bekas dia sarapan. Pada saat Naya hendak menuruni anak tangga, Naya berpapasan dengan ibu mertuanya. "Ekhem, masih pagi sudah senyum-senyum begitu? Ada apa? Apa anakku telah menggodamu?" goda Thalia sembari menaik-turunkan alisnya.
Wajah Naya langsung berubah merah jambu bak kepiting rebus. Dia sangat malu karena ibu mertuanya telah memergokinya sedang tersenyum. "Hehe, selamat pagi, Mami. Naya memang selalu ceria saat bangun pagi. Tuan muda sudah berangkat kerja," jawab Naya, salah tingkah.
"Heii, Mami tidak menanyakan Kivan. Kenapa kau mengatakan jika suamimu sudah berangkat? Mami tidak bertanya tentang suamimu. Karena Mami sudah tahu anak Mami sudah berangkat. Oh iya, tadi Mami tidak sengaja melihat suamimu pagi ini membuat sarapan dan membawanya ke kamar. Eum ... Suamimu membuatkan sarapan untukmu?" skak Thalia.
"Naya permisi, Mami. Naya mau menyimpan ini." Naya menatap pring dan gelas yang sedang dia bawa. Kemudian dia pergi ke dapur. Naya benar-benar salah tingkah di depan ibu mertuanya.
Thalia hanya tertawa gemas melihat tingkah menantunya yang sangat menggemaskan. "Ternyata dia pemalu juga," kekeh Thalia.
Thalia berjalan menuju kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, Thalia menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, teleponnya dijawab oleh orang tersebut.
Telepon terhubung!
__ADS_1
"Hallo, saya ada tugas untukmu! Ikuti Kivan ke mana dia pergi dan kirimkan fotonya padaku. Dan satu lagi, jika ada gerak-gerik anakku yang sedikit mencurigakan, kau hubungi aku segera, paham?"
"Paham, Bu."
"Bagus, lakukan tugasmu! Tutt!" Thalia menutup teleponnya.
Telepon terputus!
Setelah bicara di telepon, Thalia memilih pakaiannya untuk pergi hari ini. Dia ingin mengajak menantunya untuk jalan-jalan sekaligus belajar menyetir.
***
Sesampainya di dapur, Naya langsung membersihkan piring dan gelas bekas sarapannya. Namun, belum sempat dia memakai sarung tangan khusus mencuci piring datang seorang pelayan. "Apa yang Nona muda lakukan? Biarkan saya saja yang melakukan ini." Pelayan itu mengambil piring kotor yang tengah di pegang oleh Naya.
"Loh, memangnya kenapa? Naya sudah terbiasa melakukan ini."
"Iya, Nona muda. Saya tahu, tapi sekarang Nona muda tidak perlu melakukannya lagi, apa kata orang nanti jika menantu Buana melakukan ini di istananya sendiri? Biarkan saya yang melakukannya, Nona muda."
"Baiklah, Terima kasih."
"Nona muda," panggil seorang pelayan yang baru saja datang.
"Nyonya Thalia menyuruh Nona muda untuk datang ke kamarnya sekarang," jelas pelayan itu.
"Baiklah, terima kasih." Naya tersenyum seraya berjalan melewati pelayan itu.
Kedua pelayan yang berada di dapur hanya menatap kepergian Naya dengan tatapan yang kagum. "Nona muda baik banget ya, mbak. Dia selalu saja ingin melakukan pekerjaan rumah padahal Tuan Liam melarangnya untuk tidak melakukan itu tapi Nona muda tetap saja melakukannya. Aku kagum sama kebaikan hatinya Nona muda. Pantas saja Tuan Liam ingin menjadikannya sebagai menantu Buana," puji salah satu pelayan.
"Benar banget, aku pun sangat mengaguminya. Awalnya aku tidak menyukainya karena penampilannya yang begitu norak. Tapi, setelah melihat penampilannya sekarang dan kebaikan hatinya, aku menjadi sangat mengaguminya."
"Hayo, pada nge-ghibah bukannya kerja," sindir Farel pada kedua pelayan itu.
"Eh, ada Tuan tampan di sini. Tuan tampan mau apa datang ke dapur? Jangan-jangan Tuan tampan ditugaskan untuk bekerja di dapur?" ledek salah satu pelayan.
"Sembarangan! Aku datang ke mari ingin meminum kopi," jawab Farel dengan ketus.
"Mau saya buatkan, Tuan tampan?" pelayan yang bertubuh pendek itu mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Jangan genit! Saya bisa membuatnya sendiri. Lanjutkan pekerjaanmu!"
"Yee, gitu aja sewot. Santai aja kali, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau sama seorang supir," celetuk pelayan itu seraya pergi dengan langkah yang terburu-buru.
"Heii! Supir juga banyak duitnya kali, dari pada kalian. Huft!" Farel mendengus kesal.
"Lama-lama para pelayan itu mulai berani, menyebalkan!"
***
Tok! Tok! Tok!
Naya mengetuk pintu kamar ibu mertuanya. "Assalamu'alaikum," ucap Naya.
Thalia membuka pintunya. "Wa'alaikumsalam," jawab Thalia. "Masuklah, Nak." Thalia mengajak menantunya masuk.
Naya mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia masuk ke kamar ibu mertuanya. "Kemarilah, Nak. Bantu pilihkan pakaian yang cocok untuk Mami," ucap Thalia pada menantunya.
"Baik, Mami."
Naya dan Thalia pun berjalan ke sebuah ruangan yang di mana tersimpan pakaian dan barang-barang branded lainnya. Naya asyik melihat-melihat koleksi ibu mertuanya yang begitu banyak dan mewah. "Wah, Mami. Apakah Mami membuka butik di kamar? Banyak sekali pakaian dan barang-barang branded," ucap Naya terkagum-kagum.
"Oho, sekarang menantuku ini sudah tahu tentang barang-barang branded. Siapa yang mengajarimu, Sayang?" Thalia menaik-turunkan alisnya.
"Tentunya Mami dong," kekeh Naya.
"Oh iya, Sayang. Bagaimana bulan madumu di sana?" tanya Thalia dengan tatapan yang penasaran.
"Enggak gimana-gimana, Mami. Kami menghabiskan waktu dengan di kamar, jalan-jalan, makan. Begitu aja tiap hari, sampai Naya bosen. Oh iya Mami, Mami tahu ... apa yang Tuan muda lakukan pada Naya?" Naya menatap serius ibu mertuanya.
"Apa? Apa yang anak Mami lakukan kepadamu? Apa dia menyakitimu? Katakan pada Mami, biar Mami hukum dia,"
"Naya hampir mati, Mami. Mami tau, Naya dipaksa untuk naik kereta gantung. Rasanya Naya mau mati, Naya benar-benar takut saat itu. Naya enggak bisa bayangin jika talinya putus, ih mengerikan. Apakah tidak ada transportasi yang lain selain kereta-kereta maut itu," jelas Naya.
"Haha, kau ini polos sekali, Nak." kekeh Thalia.
"Kau tenang aja, kereta gantung itu sangat aman. Untuk yang pertama kalinya memang sedikit menakutkan tapi jika sudah terbiasa, kamu akan sangat merindukan dan ingin menaiki kereta gantungnya lagi. Percayalah. Kau tidak perlu mengatakan kereta maut. Kau sangat menggemaskan, Naya." Thalia tertawa gemas dengan mengelus lembut kepala menantunya.
__ADS_1
***