Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 38 > Apa Yang Akan Kivandra Lakukan?


__ADS_3

Buana Home ....


Kini Kivandra sedang berada di ruang tengah. dia tengah menunggu Naya yang tak kunjung datang. "Sebenarnya ke mana perginya Gadis kocak itu?"


Kivandra memijat kepalanya yang terasa sedikit pusing karena seharian ini dia sudah mencari Naya. Namun, dia tidak menemukan Naya. Tiba-tiba Kivandra melihat Farel berjalan menuju dapur. "Farel!" panggil Kivandra.


Farel menghentikan langkahnya, lalu dia menoleh ke arah Tuan muda Kivandra yang tengah duduk di sofa ruang tengah. "Iya, Tuan muda." Farel berjalan menghampiri Kivandra.


"Maukah kau membantuku?"


"Iya Tuan muda, tentu saja. Apa yang harus saya bantu?" tanya Farel.


"Kamu cari Naya sampai ketemu, aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi Naya tidak berhasil aku temukan. Aku sudah lelah, seharian mencarinya. Aku tidak mau Grandpa marah jika tahu kalau Naya hilang," jelas Kivandra.


"Naya hilang?" Farel membelalakkan matanya. "Bagaimana bisa, Tuan muda?"


"Ceritanya panjang, jangan bertanya itu dulu. Sebaiknya kau cari Naya dulu, setelah itu baru bertanya."


"Baik, Tuan muda. Saya akan mencari Nona muda, saya permisi." Farel menundukkan kepalanya. Setelah itu dia pergi dengan senyuman di bibirnya.


Belum sampai di keluar, Farel sudah berpapasan dengan Naya yang baru saja datang dengan seorang pria. "Nona muda, Tuan muda sedari tadi mencari Nona muda."


"Mencariku? Kenapa mencariku?" Naya mengerutkan keningnya.


Farel menggelengkan kepalanya. "Lebih baik, Nona muda tanyakan langsung saja pada Tuan muda. Saat ini Tuan muda berada di ruang tengah," ucap Farel.


"Baiklah, Naya akan menemuinya." Naya pergi menemui suaminya.

__ADS_1


Chiko mengikuti Naya yang sedang menyusul suaminya. Begitu sampai di ruang tengah, alangkah terkejutnya Tuan muda Kivandra pada saat melihat Naya pulang bersama seorang pria yang tidak lain adalah Chiko, temannya sendiri.


"Naya, ngapain kamu bawa pria ini ke rumah? Bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Kivandra dengan tatapannya yang sinis.


"Kivan, lo ini gimana sih? Istrimu baru pulang bukannya disuruh duduk malah diinterogasi kek gini," timpal Chiko.


"Diam lo, Ko! Gue lagi nanya sama Naya bukan sama lo!" tegas Kivandra dengan ketus.


"Pusing kalau udah liat kalian ribut, Naya teh lebih baik pergi aja." Naya enggan melihat pertengkaran suaminya dan Chiko. Naya pergi menuju kamarnya.


"Tuh 'kan gara-gara lo sih, Naya jadi pergi." Kivandra memicingkan matanya ke arah Chiko.


"Bukannya terima kasih karena gue udah anterin istri lo malah nyalahin gue. Bete gue punya solid kek lo. Gue cabut," ucap Chiko seraya berjalan menuju pintu keluar.


"Ko, tunggu!"


"Okay." Chiko mengikuti Kivandra.


Kivandra mengajak Chiko ke balkon untuk membicarakan sesuatu. Tak lama kemudian mereka sampai di balkon. "Ko, di mana kau bertemu dengan Naya?" tanya Kivandra dengan wajah yang penasaran.


"Gue enggak sengaja ketemu Naya di jalan. Lo tahu apa yang terjadi sama Naya?" Chiko menatap serius pada Kivandra.


"Apa yang terjadi pada Naya?"


"Naya dikejar 3 preman. Naya tiba-tiba masuk mobil gue gitu aja, untung gue kenal jadi gue anterin dia pulang. Bukan hanya itu, istri lo itu benar-benar bikin kepala gue rasanya mau pecah. Gue serasa lagi ngajak main bocil tau enggak sih. Tingkah konyolnya itu yang bikin gue angkat tangan," keluh Chiko.


"Tingkah konyol gimana maksud lo?"

__ADS_1


"Masa eskalator disebut tangga berjalan, terus import dikira airport. Gila, istri lo bikin gue pusing sampe sekarang. Kalau bukan istri lo udah gue tinggal aja dia di mall," jelas Chiko.


"Kalian pergi ke mall?"


'waduh, gawat! Gue kelepasan.'


Seharusnya Chiko memberi tahu Kivandra jika dia mengajak Naya ke mall, tapi mulutnya malah kelepasan. Nasi sudah menjadi bubur. Chiko mau tidak mau harus menjawabnya dengan jujur jika dia memang mengajak Naya ke mall.


***


Di kamar ...


Naya sedang duduk di hadapan cermin meja rias. Dia baru selesai mandi. Kini Naya mulai membiasakan diri melakukan rutinitas malam yang biasa dilakukan para wanita pada umumnya. Selesai itu, Naya menyemprotkan parfum pada tubuhnya agar tidurnya nyenyak dan mimpi indah.


Naya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sofa. Dalam hitungan detik, Naya sudah membaringkan tubuh di sofa panjang. Pada saat Naya memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Otomatis Naya yang baru saja memejamkan matanya, langsung membuka mata dan menoleh ke arah suaminya yang baru saja masuk.


Naya melihat ada kekesalan di mata suaminya. Entah apa lagi yang terjadi pada suaminya. Kenapa suaminya selalu saja menunjukkan kekesalan pada saat bersamanya.


"Kenapa tatapan Tuan muda seperti itu? Apakah Naya membuat kesalahan?" tanya Naya seraya duduk.


Kivandra tidak menjawab, dia hanya berjalan ke arah Naya dengan tatapan yang sama. Kemudian Kivandra duduk di sebelah Naya. "Kenapa kau lebih memilih pulang dengan Chiko dari pada pulang bersama suamimu sendiri?"


"Naya hanya kebetulan aja pulang sama Kak Chiko. Lagian, aku 'kan sudah bilang, jika aku tidak ingin mengganggu Tuan muda bersama Nona Alice. Naya sadar diri, makanya Naya lebih memilih untuk mengalah saja. Ini sudah malam, sebaiknya Tuan muda tidur. Naya udah ngantuk, Naya tidur duluan. Selamat malam." Naya mendorong tubuh Kivandra untuk pergi ke ranjang.


Semantara Naya, dia hendak merebahkan tubuhnya di sofa tapi, Kivandra malah menggendong tubuh Naya dan menidurkannya di ranjang. Naya terdiam bagaikan patung. Matanya membelalak menatap mata suaminya.


'Kenapa Tuan muda menidurkanku di ranjang? Apa yang akan Tuan muda lakukan padaku?'

__ADS_1


***


__ADS_2