
Malam Hari ....
Saat ini Naya, Kivandra, Farel Dan Nenek Aminah sedang makan malam. Mereka tampak asyik dan lahapnya menikmati makanan khas sunda yang begitu menggugah selera. Terutama Kivandra, dia sebelumnya tidak pernah makan makanan khas sunda. Namun, kali ini dia makan makanan khas sunda.
Ada sedikit keraguan di wajah Kivandra, tapi setelah melihat istrinya yang makan begitu lahap dan membuatnya ngiler. Sehingga akhirnya, dia pun mencoba makan satu suapan. Dia mencoba beradaptasi dengan makanan itu. Setelah di rasa-rasa, makanan khas sunda cukup enak sampai membuatnya ingin sekali tambah porsi makannya.
Saat ini Kivandra tengah memakan ikan gurame, sambal jeletot, tempe, tahu, kerupuk udang serta selada sebagai lalapnya. Sambal jeletot itu cukup membuat seorang Kivandra kewalahan karena rasanya yang pedas. Keringat mulai Bercucuran disertai bibir dan kedua pipinya yang memerah akibat kepedasan.
Mengetahui hal itu, Naya segera mencabut beberapa lembar tisue yang ada di atas meja. Kemudian dia menggeser kursinya ke sebelah suaminya. Tanpa rasa malu ataupun canggung, dia mulai mengusap keringat suaminya yang terus bercucuran.
"Mas, tidak kuat makan pedas kah? Padahal Naya membuat sambal ini tidak terlalu pedas kok." Naya menatap suaminya.
"Tidak pedas apanya, ini sambal terpedas yang pernah aku makan selama ini. Aku yakin, setelah ini aku akan sakit perut," timpal Kivandra.
Mendengar itu Naya terkekeh. "Mas tidak akan sakit perut. Naya sudah siapin teh hangat agar rasa pedasnya hilang dan tidak akan membuat Mas sakit perut." Naya mengambil teh hangat itu dan memberikan pada suaminya.
"Saya tidak bisa minum air teh ini, Nay. Rasanya pasti tidak enak." Kivandra menatap ke arah teh hangat yang di dalamnya ada beberapa teh yang mengambang.
"Mas, minumlah sedikit. Cobain dulu, baru beranggapan teh ini tidak enak," Naya memaksa suaminya untuk minum.
"Berikan, aku akan mencoba meminumnya."
Naya tersenyum dan langsung memberikan teh hangatnya. "Habiskan ya, Mas."
Kivandra perlahan mulai meminum teh hangat buatan istrinya. Pertama di minum rasanya sedikit pahit. Namun, walaupun pahit justru rasa itu begitu membuat lidah Kivandra candu. Rasa pahit dan hangat terasa enak di tenggorokannya. Sehingga Kivandra menghabiskan teh hangat buatan Naya.
__ADS_1
"Bagaimana, Mas. Apakah tehnya tidak enak?" sindir Naya.
"Tehnya pahit tapi enak," timpal Kivandra tanpa berekspresi.
"Syukurlah."
"Tuan muda, besok saya akan kembali ke Buana Home. Tuan muda mau tetap di sini atau pulang bareng?" tanya Farel setelah dia meneguk segelas air hangat.
Kenapa mereka meminun air hangat, karena di kampung Naya suhunya sangat dingin. Kampung Naya dekat sekali dengan gunung, dan banyak sekali pepohonan tinggi yang membuat kampung itu selalu sejuk namun, sangat dingin ketika malam hari.
"Kau pulang duluan saja, aku akan tetap di sini bersama istri kecilku selama beberapa hari. Aku ingin mengetahui banyak hal di sini," jawab Kivandra.
"Baik, Tuan muda."
"Sebentar, Mas. Naya mau beresin ini dulu." Naya melihat ke arah piring-piring kotor habis mereka makan.
"Kalian beristirahatlah, biar Nenek saja yang membersihkan ini. Naya, temani suamimu. Tidak baik menolaknya seperti itu!" tegur Nek Aminah.
"Iya, Nona muda. Temani Tuan muda, jangan cemaskan ini. Ada aku di sini, aku akan membantu Nek Aminah. Benar 'kan, Nek." Farel mengedipkan sebelah matanya pada Nek Aminah.
"Iya, Nenek akan dibantu sama Nak Farel. Kalian beristirahatlah!"
Deg!
Jantung Naya langsung berdetak tak beraturan. Degupannya begitu cepat dari biasanya. 'Nenek sama Kak Farel itu kenapa sih? Sudah tahu Naya teh takut. Naya belum siap jika Mas Kivandra meminta haknya malam ini. Sekarang matilah aku, aku akan diterkam oleh Mas Kivan malam ini.'
__ADS_1
"Ayo, Sayang." Kivandra menarik tangan istrinya dan membawanya ke kamar.
Sementara itu, Naya menatap ke arah Farel. "Semangat, Nona muda," ucap Farel.
****
Di kamar ....
Mereka diam membisu, hanya mata mereka yang diam-diam saling melirik satu sama lain. Jangan ditanya apakah Naya tidak gugup. Jawabannya sudah pasti jika saat ini Naya sangat gugup. Jantungnya terus berdegup cepat. Saat ini Naya tengah meremas jemarinya.
Kivandra yang mengetahui kegugupan istrinya, langsung menggenggam tangan Naya. "Tenanglah, tidak perlu gugup apalagi takut." Kivandra menatap istri kecilnya begitu lekat.
Glek!
Naya tertegun begitu melihat bibir dan rahang tegas suaminya. Dia melihat jakun suaminya yang menari naik turun begitu menggiurkan. "Mas, aku takut. Aku belum siap untuk melakukannya malam ini."
Kini wajah Naya berubah menjadi pucat pasi. Kivandra yang mendengar penolakan dari istrinya merasa sedikit kecewa karena dia ingin meminta haknya malam ini untuk membuktikan kalau dia serius ingin memulai hidup baru serta dia ingin menunjukkan rasa cintanya yang tulus dengan menggaulinya.
Namun, mendengar penolakannya membuat Kivandra terdiam tanpa kata. Dia tetap tersenyum walaupun dia harus menunda malam pertamanya lagi. "Baiklah, aku akan meminta hakku setelah kamu siap saja. Sekarang kita tidur ya, jangan takut. Aku tidak akan macem-macem selama kamu belum mengizinkanku untuk menyentuhmu," tutur Kivandra dengan sangat lembut.
"Maafin Naya ya, Mas." Naya menatap suaminya dengan wajah yang sedikit sedih.
Sebenarnya dia ingin memberikan haknya tapi rasa takut itu membuatnya tidak berani melakukan itu malam ini. Kivandra tersenyum sembari mengelus lembut wajah istri kecilnya. "Tidak apa-apa, aku paham."
****
__ADS_1