Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 87 > Pria Misterius


__ADS_3

"Saya sendiri yang memotretnya, Nyonya. Kami sedang membicarakan tentang Pak Bagas," jawab Yumna, jujur.


"Pak Bagas? Memangnya ada apa dengan Pak Bagas? Apa ada sesuatu yang kalian curigai?" tanya Naya dengan menatap ke arah Yumna dan Farel.


"Kalau saya belum begitu mencurigai Pak Bagas, hanya saja saya merasa janggal. Saya merasa ada sesuatu yang Pak Bagas sembunyikan. Tapi, entahlah. Saya tidak tahu pasti," jawab Farel terlebih dahulu.


"Eumm ... okay. Kalau kamu sendiri gimana, Yum?" tanya Naya pada Yumna.


"Kalau saya sangat mencurigai Pak Bagas. Saya rasa, Pak Bagas punya maksud lain dengan bekerja di Buana Home," jawab Yumna.


"Atas dasar apa kamu mengatakan seperti itu, Yumna? Apa perkataanmu ini bisa kamu pertanggungjawabkan?" tantang Naya dengan tatapan yang serius.


Padahal semenjak Pak Bagas datang ke rumahnya, Naya memiliki firasat buruk tentang Pak Bagas sama seperti Yumna. Hanya saja, saat ini ia menyembunyikan perasaannya itu. Lagipula ia belum begitu tahu pasti tentang maksud dan tujuan Pak Bagas muncul di Buana Family. Yang paling Naya curigai adalah pada saat melihat tatapannya yang penuh misteri dan pertemuan Pak Bagas dengan Pak Nero membuat Naya merasa ada yang janggal diantara mereka.


"Ya, tentu saja, Nyonya. Karena semua ucapan saya benar. Jika Nyonya mau, saya siap menguntitnya. Karena sepengalaman saya dulu, saya masuk ke Buana Home karena ada maksud dan tujuan lain atas misi yang diberikan Alice. Bisa aja 'kan Pak Bagas adalah seorang mata-mata yang dikirim oleh Pak Nero atau siapa lah yang mempunyai masalah dengan keluarga ini," Yumna menjelaskan kepada Naya sesuai dengan pengalamannya.


"Ya sudah, begini saja. Biar tidak su'udzon terus ... saya kasih tugas kamu dan Farel untuk selidiki background Pak Bagas. Secuil apa pun berita yang kalian dapatkan, segera laporkan ke saya. Bagaimana, apakah bersedia?" Naya menawarkan sebuah tugas untuk menyelidiki Pak Bagas.


"Saya siap, Nyonya," jawab Yumna dengan sigap.


"Bagaimana denganmu, Farel?"


"Saya siap. Tapi, saya tidak mau satu tim sama dengan maung kecil. Bukannya jalankan tugas ntar yang ada malah nyusahin. Lebih baik saya selidiki sendiri. Masing-masing saja lah," celetuk Farel dengan nada bicara yang julid sembari memicingkan matanya ke arah Yumna.


"Idih, SOK BANGET SIH, LU! Jangankan elu, gue aja malas satu tim bareng elu. Pake seenaknya manggil gue maung kecil lagi. Dasar tulang lunak, lu!" Yumna membalas cacian Farel.


"Apa lu bilang? Seenaknya aja manggil gue tulang lunak. Gue pria sejati ya, jangan gegabah kalau ngomong!" Farel menunjukkan raut wajah yang kesal seraya maju satu langkah ke arah Yumna sehingga wajahnya mereka menyisakan beberapa senti saja.


Brak!

__ADS_1


Naya menggebrak meja ketika menyaksikan perdebatan Yumna dan Farel. "SUDAH CUKUP!" bentak Naya dengan nada yang tinggi.


Mendengar majikannya kesal dan menggebrak meja membuat keduanya langsung terdiam tanpa kata. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Mereka belum pernah melihat Naya sekesal ini apalagi sampai menggebrak meja.


"Terserah kalian mau bekerja sama atau tidak. Kalian sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Jika kalian tetap keras kepala seperti ini, maka akan saya pastikan kalau saya sendiri yang akan menyelidikinya!" tegas Naya pada keduanya.


"Menyelidiki siapa?" tanya seseorang yang baru saja datang dari arah belakang.


Reflek, mereka bertiga langsung menoleh ke belakang. Begitu mereka melihat orang itu ternyata adalah Tuan Kivandra. "Bukan apa-apa, Mas. Ayo." Naya mengajak sang suami pergi meninggalkan dapur. Sementara itu Yumna dan Farel turut pergi meninggalkan dapur.


****


"Hei, Sayang. Kenapa kamu membawaku ke sini? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" terka Kivandra begitu sampai di ruang keluarga.


"Tidak ada yang disembunyikan darimu, Tuan Bunglon. Aku hanya memberi tugas kecil pada Farel dan Yumna untuk menyelidiki--"


"Menyelidiki siapa?" Kivandra memotong pembicaraan sang istri.


Tanpa banyak bicara, Kivandra segera mendekatkan telinganya pada sang istri. Setelah itu Naya membisikkan sesuatu. "Aku sedang menyelidiki siapa Pak Bagas sebenarnya,"


"Untuk apa, Kanaya? Apakah kamu ada masalah dengannya sampai kamu buang-buang waktu untuk mencari tahu tentang background seseorang?"


"Aku punya feeling enggak enak, Mas. Aku rasa kedatangan dia ke Buana Home ada maksud dan tujuan lain yang tidak kita tahu. Bukan hanya aku, Yumna dan Farel pun mencurigainya," jelas Naya dengan tatapan yang lembut.


"Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu hanya perasaanmu saja." Kivandra mengelus pipi sang istri dengan lembut.


"Enggak, Mas. Aku sangat yakin. Karena aku melihat sesuatu saat kita di hotel,"


"Apa hubungannya?"

__ADS_1


"Jelas ada hubungannya, Mas. Karena saat di hotel, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Pak Bagas sedang bicara dengan Pak Nero. Pada saat aku hendak difoto tiba-tiba saja mereka menghilang entah ke mana. Namun, Yumna memiliki bukti itu. Kalau Mas mau, aku akan tunjukkan padamu," tawar Naya.


"Jika semua itu terbukti kalau Pak Bagas adalah orang suruhan pria genit itu, maka akan kupastikan dia keluar dari Buana Home. Sekarang, antar aku menemui Yumna," tegas Kivandra dengan raut wajah yang serius.


"Iya, Mas. Ayo,"


****


Buana Home ....


Saat ini Tuan Liam berada di kamarnya. Ia tengah duduk sembari membaca buku. Kedua matanya tak luput dengan memakai kaca mata karena penglihatan sudah tidak sejernih dulu. Dengan suasana yang cukup hening, tiba-tiba indra pendengaran Tuan Liam mendengar sesuatu di luar kamarnya.


Untuk memastikan pendengarannya tidak salah, Tuan Liam beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. Kemudian mata kirinya mengintip ke sebuah lubang kecil yang berada di pintu. Namun, matanya tidak melihat apa-apa. Sehingga membuat Tuan Liam memutuskan untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek!


Begitu pintu terbuka, Tuan Liam melangkah keluar kamar dan mencari tahu sumber suara yang ia dengar. Langkah demi langkah telah membawa Tuan Liam menyusuri beberapa ruangan yang kosong. Benar, setelah Kivandra, Naya, Thalia dan juga Nek Aminah pisah rumah, kini Buana Home tampak sepi dan banyak kamar yang kosong. Meski banyak kamar yang kosong, tetap saja Tuan Liam tidk membiarkan ruangan tersebut dalam keadaan gelap.


Lagi-lagi, telinga Tuan Liam kembali mendengar sesuatu. Kali ini suara itu terdengar jelas yang merupakan suara langkah kaki. Semakin didengar semakin jelas suaranya sehingga beberapa detik kemudian muncul seseorang dengan pakaian serba hitam serta wajah yang ditutupi topeng tepat di hadapan Tuan Liam.


"Maliing! Maliing!" teriak Tuan Liam dengan sekencang mungkin. Ia menduga bahwa pria misterius yang ada dihadapannya adalah maling.


"Sial!" Pria itu berlari ke arah Tuan Liam dan ....


Jleb!


Pria misterius itu men*suk salah satu lengan Tuan Liam. Setelah itu, ia melarikan diri dengan membawa pisau yang ia gunakan untuk menusuk Tuan Liam. Sementara itu, Tuan Liam berteriak meminta tolong. Sehingga beberapa menit kemudian Pak Arman yaitu orang kepercayaan Tuan Liam datang.


"Astaghfirullah, Tuan!" Pak Arman teriak histeris begitu melihat kondisi majikannya yang sudah berlumuran darah.

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2