
Bugh!
Naya menendang pelan senjata suaminya. "Dasar alien mesum! Cari-cari kesempatan dalam kesempitan! Minggir!" Naya berdiri dan membenarkan handulnya yang hampir merosot.
Sementara itu, Kivandra meringis kesakitan seraya memegang senjatanya. "Dasar gadis gila! Kenapa kau tega melukai senjataku, hah? Kau tau, saya bisa mati jika senjataku terluka! Awas kau, akan saya tuntut!" ancam Kivandra seraya berjalan perlahan keluar dari kamar mandi.
"Yee, suruh siapa macem" sama Naya." Naya mengerucutkan bibirnya.
Naya segera memakai pakaiannya, sebelum itu Naya sudah mengunci pintunya. Sedangkan Kivandra, dia duduk di sebelah Farel. Farel tentu saja heran melihat tuannya meringis kesakitan seraya memegangi senjatanya. Padahal tadi jelas-jelas Farel melihat dengan mata kepalanya sendiri jika dia melihat tuannya sedang kasmaran di kamar mandi dengan istrinya.
"Tuan muda, apa yang terjad--"
"Jangan tanyakan apapun, tolong kau ambilkan segelas air dan antarkan ke kamar!" perintah Tuan muda Kivandra seraya berjalan pelan menuju kamarnya.
Kivandra memang memesan kamar hotel VIP yang benar-benar luas dan mewah. Jangan tanya berapa harganya karena tentu saja itu sangat mahal. Kivandra tidak ingin menginap di hotel yang ada satu ranjang saja, dia ingin kamar yang 2 ranjang karena bagaimanapun juga hubungannya dengan Naya hanyalah palsu.
Begitu sampai di kamar, Kivandra berguling-guling layaknya seperti anak kecil yang tidak dikasih jajan. Farel datang dengan segelas air. "Tuan muda, ini minumlah dulu." Farel memberikan segelas air itu.
Kivandra mengambil segelas air itu dan langsung meneguknya sampai habis. Kivandra memberikan gelas itu kepada Farel. "Tuan muda, apa yang terjadi?" tanya Farel seraya duduk di tepi ranjangnya.
"Ini semua ulah gadis gila itu! Dia telah melukai kembaranku!"
"Hah? Kembaran, kembaran apa maksud Tuan muda?" Farel mengerutkan dahinya.
"Senjataku, dia telah melukai senjataku dengan menendangnya. Dia pikir aku cari-cari kesempatan dalam kesempitan. Kau tau sendiri 'kan kalau aku tidak pernah menyukainya? Bagaimana mungkin aku mau macem-macemin gadis kampung sepertinya," keluh Kivandra dengan nada penuh kekesalan.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah pada saat aku ke kamar mandi Tuan muda dan Naya sedang--"
Tak!
Kivandra menyentil dahi Farel. "Jangan sembarangan! Kami tidak melakukan apapun! Aku hanya ingin menolong gadis kocak itu! Tapi, karena lantainya licin aku jadi ikut terjatuh dan tidak sengaja menimpa gadis itu. Sudahlah lupakan kejadian itu! Anggap itu tidak pernah terjadi!" sela Kivandra.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu mau Tuan muda. Saya akan melupakannya. Kalau begitu, saya permisi." Farel beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Tunggu!"
Farel menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang. "Iya, Tuan muda."
"Besok bersiap-siaplah, kita akan pergi ke gunung M. Sudah lama aku tidak pergi dan naik kereta gantung." Kivandra tersenyum membayangkan tempat wisata yang pernah dia datangi sebelumnya.
"Baik, Tuan muda. Saya tidak sabar ingin cepat-cepat naik kereta gantung. Oh iya, apakah Nona muda akan ikut?" tanya Farel.
"Tentu saja, aku ingin melihat tingkahnya yang kampungan itu. Kau lihat saja! Aku akan membuatnya benar-benar malu dan membuatnya tidak betah berada di negara ini. Dengan begitu, kita bisa segera pulang ke negara kita." Kivandra tengah memikirkan ulah jahilnya untuk besok.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi. Jika Tuan muda membutuhkan sesuatu, hubungi saja." Farel menundukkan kepalanya sebelum pergi.
***
Tidak terasa hari mulai malam, Naya pun memutuskan untuk masuk kamar dan tidur. Naya tidak terlalu takut karena ranjangnya ada dua. Jadi dia akan aman dari cengkraman Kivandra. Naya sangat pelan-pelan menutup pintu agar suaminya tidak terbangun. Benar, menurutnya Kivandra sudah tidur.
Gleuk!
Naya menelan salivanya melihat tatapan suaminya. Dia berusaha tidak menanggapi ucapan suaminya. Dia merebahkan tubuhnya dengan membelakangi ranjang suaminya. "Dasar gadis tidak tahu diri! Masih mending saya mau menikahimu!" ucap Kivandra dengan geram karena Naya tidak menanggapinya sama sekali.
Naya yang mendengar itu hanya mengontrol emosinya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, Kivandra berjalan menghampiri ranjang Naya. Naya yang menyadari itu langsung bangun dan duduk di ranjangnya.
"Apa atuh ih? Naya teh mau tidur, kenapa bertanya terus?" keluh Naya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Apa? Tidur? Enak sekali kau bilang mau tidur! Kau tidak boleh tidur sebelum kau melakukan sesuatu yang bisa membuatku merasakan kenikmatan sampai tertidur nyenyak!" Kivandra menatap Naya dengan tatapan yang Nakal diakhiri dengan kedipan sebelah matanya.
Kivandra lagi-lagi menjahili Naya. Naya tidak tahu jika Kivandra tengah Menjahilinya lagi. Wajahnya pucat pasi, dia benar-benar ketakutan, keningnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
'Aduh, bagaimana ini? Apa maksud Tuan muda? Jangan sampai Tuan muda meminta haknya, aku belum siap'
__ADS_1
Naya menggelengkan kepalanya. "Aku belum siap, Tuan muda!" teriak Naya dengan matanya yang terpejam.
"Hei! Apa kau sudah tidak waras? Apa yang kau pikirkan? Belum siap apa? Memangnya aku meminta apa padamu, hah? Jangan omes!" timpal Kivandra.
Mendengar hal itu, tentu saja wajah Naya yang semula pucat berubah menjadi merona karena malu. 'Bodoh! Kenapa aku berpikiran kotor seperti itu. Bodoh sekali kau Naya!" Naya menepuk-nepuk keningnya dengan mata yang masih terpejam.
"Woiiy, OMES! Sebaiknya besok kita periksa ke dokter, aku rasa kau sudah tidak waras." Kivandra memicingkan matanya melihat tingkah istrinya yang aneh itu.
"Omes itu apa, Tuan muda?" Naya menatap serius suaminya.
"Astaga!" Kivandra menepuk dahinya sendiri. Dia tidak percaya jika istrinya begitu polos. "Kau tidak tahu, apa itu omes?" Kivandra membulatkan matanya dengan sempurna.
"Aha! Naya ingat! Omes itu tas branded itu 'kan?" tebak Naya dengan yakin. Naya mengira jika Omes itu adalah tas Hermes.
"Woah! Kau membuatku tidak waras, Gadis kocak! Sebaiknya kau pergi tidur! Pusing saya bicara sama otak minimmu itu!" Kivandra berjalan menuju ranjangnya. Namun, Naya menarik lengan suaminya.
"Hei, Tuan Alien! Katakan dulu, apa itu omes? Setelah itu Tuan Alien boleh tidur." Naya mengedip-ngedipkan matanya.
"Otak mesum! Dan tas branded itu Hermes bukan omes! Udah, lepasin tangan saya! Saya mau tidur!"
"Apa? Kau bilang aku apa?" Naya menatap tajam Kivandra.
"Hentikan ini, Naya! Saya lelah, saya tidak mau berdebat denganmu lagi! Nanti kembaranku yang jadi korbannya!" Kivandra melepaskan tangannya dari genggaman Naya. Kemudian Kivandra merebahkan tubuhnya di ranjang sebelah Naya.
Naya mengernyitkan alisnya. 'Kembaran?'
Karena penasaran, Naya pun menghampiri ranjang Tuan muda Kivandra yang sudah memejamkan matanya. Naya mendekatkan bibirnya di telinga Kivandra. "Apakah kembaran Tuan muda itu tampan?" bisik Naya membuat Kivandra mengerjapkan matanya.
"Kau ingin melihat kembaranku?" Kivandra menaik-turunkan alisnya.
***
__ADS_1