
Di Villa ....
Saat ini Kivandra dan Naya sedang berada di salah satu villa yang tak jauh dari pantai. Mereka beristirahat sambil menonton televisi. "Mas, aku lapar. Apa Mas tidak lapar?" tanya Naya dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Semenjak mereka melakukan malam pertama, kini hubungan mereka semakin dekat dan lebih harmonis. Sesekali Naya suka bermanja dan mulai berani menempel dengan suaminya. Tak jarang, Naya juga selalu meminta sesuatu pada suaminya.
"Ya udah, ayo kita makan di luar saja. Aku ingin makan sesuatu yang belum pernah aku makan," ajak Kivandra.
"Aku tau restoran yang enak di sini, ayo." Naya menarik tangan suaminya dengan sangat antusias.
"Iya, ayo." Kivandra pun beranjak dari duduknya dan berjalan bersama istrinya.
Mereka berjalan sekitar 15 menit menuju restoran yang Naya maksud. Mereka langsung masuk ke restoran itu dan memilih meja yang paling pojok. Mereka duduk saling berhadapan.
"Mbak, kemari!" panggil Kivandra pada pelayan.
Tak lama kemudian, pelayan yang Kivandra panggil pun langsung menghampiri Naya dan Kivandra dengan membawa daftar menu makanannya. "Iya, Tuan sama Nona mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Berikan daftar menunya," pinta Naya.
Pelayan itu pun memberikan daftar menu itu pada Naya. Naya mengambil dan melihat menu makanan. "Mas mau pesan apa? Kalau aku pengen makanan khas Sunda aja." tanya Naya pada suaminya.
"Pilihlah makanan khas Sunda yang enak dan aku belum pernah makan, apapun itu asalkan rasanya enak aku akan memakanya," jawab Kivandra.
"Baiklah, aku pesan nasi liwat plus paket 1 dua porsi juga ya, Mbak. Jangan lupa sambal dan minuman segar andalan restoran ini," pesan Naya pada pelayan itu.
"Baik, Non. Mohon ditunggu," ucap ramah pelayan itu seraya pergi menyiapkan pesanannya.
Sambil menunggu pesanan tiba, mereka pun selca terlebih dulu untuk mereka simpan di galeri sebagai kenang-kenangan. Awalnya Naya menolak karena malu tapi, setelah dibujuk suaminya, dia pun bersedia untuk foto bersama. Kivandra tidak hanya menyimpan foto mereka di galerinya melainkan Dia juga mempostingnya di salah satu aplikasi.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun sudah diantar ke meja mereka. "Selamat menikmati," ucap pelayan itu seraya menyimpan pesanan Naya di meja.
__ADS_1
Sekali lagi sebelum mereka mengeksekusi makanannya, Kivandra lagi-lagi memotret menu makanan itu untuk bahan postingan nanti. Sementara itu, Naya yang perutnya sudah berdemo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Mau heran tapi dia suaminya.
"Mas, ayolah. Perutku sudah berdemo ini. Apa perlu ya sebelum makan di potret dulu?" tanya Naya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak perlu juga sih. Aku hanya ingin menjadikan ini sebagai moment kita berdua agar moment ini tidak terlupakan sampai kapanpun. Oh iya, Sayang ... ini nasi apa ya? Kok wanginya beda ya?" tanya Kivandra dengan melihat ke arah nasi liwetnya.
"Ini nasi liwet, Mas. Mas cobain aja, nanti juga bakalan bisa bedain soal rasanya. Selamat makan, suamiku." Naya sudah tidak sabar lagi, dia pun mengambil nasi liwet bersamaan dengan lauk pauknya.
****
Buana Home ....
Pada malam hari, Farel sedang berdiri di sebelah mobilnya. Dia yakin jika Yumna akan keluar untuk membuang sampah. Karena biasanya, pada jam-jam seperti ini, ART Buana Home akan keluar untuk membuang sampah.
Dugaan Farel ternyata benar. Terlihat Yumna baru saja keluar dari rumah. Agar Yumna tidak curiga, dia pun berpura-pura untuk membenarkan kaca spion. Lagi-lagi gerak-gerik Yumna cukup mencurigakan, Yumna melihat ke sana ke mari bak maling.
Dari yang Farel perhatikan, tangan kanan Yumna mengambil ponselnya di dalam saku. Yumna terlihat sedang menelepon seseorang. Yumna berbicara di telepon sambil berjalan ke arah tong sampah.
Farel tiba-tiba menginjak sesuatu yang membuatnya berlari secepat kilat agar dia tidak ketahuan oleh Yumna. Sementara itu, Yumna yang mendengar ada suara yang berasal dari belakangnya pun langsung menoleh ke belakang. Dia memutuskan sambungan teleponnya.
Farel yang sembunyi di balik mobil hanya mengintip dari kejauhan gerak-gerik Yumna. "Aku yakin, dia sedang bicara dengan seseorang yang mengenal keluarga Buana. Kira-kira siapa orang yang telah menyuruh Yumna untuk masuk ke Buana Home?"
****
Di tepi pantai ....
Selesai makan, Naya dan Kivandra berjalan-jalan di pantai. Mereka melepas sepatunya dan menyimpannya di pungging pantai. Sedangkan mereka pergi untuk bermain air serta menatap ribuan bintang yang bersinar cukup terang.
Naya berlari seraya berputar-putar layaknya seperti anak kecil. "Mas! Sini kejar aku!" teriak Naya dengan keras.
Kivandra tersenyum dan langsung berlari mengejar istri kecilnya itu. "Awas kau, Sayang. Kalau sampai tertangkap, aku tidak akan melepaskanmu!" teriak Kivandra dengan mempercepat lariannya.
__ADS_1
"Coba saja kalau bisa. Wlee," tantang Naya dengan menjulurkan lidahnya tanda meledek.
Tanpa Naya sadari, di depannya ada sebuah batu kecil yang membuatnya tersandung dan jatuh.
Brugh!
Naya terjatuh. Dia pura-pura bersedih agar suaminya menolongnya. Dan benar saja, begitu Kivandra melihat istrinya terjatuh langsung berlari dengan wajah yang menunjukkan kecemasan.
"Sayang, kau tidak apa-apa? Bagaimana kau bisa terjatuh?" tanya Kivandra sembari memeriksa kaki istrinya.
Namun, pada saat mata Kivandra tengah memeriksa luka di kaki Naya, tiba-tiba Naya membasahi pakaian suaminya dengan air pantai. "Hei, apa yang kau lakukan? Jangan lakukan itu, pakaianku jadi basah. Naya hentikan! Kau ini jahil sekali." Kivandra menutup wajahnya dengan kedua tangan agar air yang Naya siramkan tidak mengenai wajahnya.
"Ayolah, Mas. Sesekali kita bermain, kapan lagi coba bermain kek gini." Naya terus menyiram suaminya sampai basah.
Kivandra pun tidak tinggal diam, dia menyiram kembali tubuh istrinya sampai basah sepertinya. Naya berdiri dan hendak kabur dari suaminya. Namun, belum sempat dia kabur, Kivandra sudah menarik pinggang Naya dan memutarkannya.
"Aduh, Mas. Aku pusing, lepasin aku," keluh Naya dengan memejamkan matanya.
Kivandra pun berhenti. Kemudian, mereka duduk bersebelahan. "Sayang, duduk sini." Kivandra menepuk pahanya.
"Enggak ah, Mas. Aku malu, bagaimana jika ada yang melihat?" tolak Naya.
"Biarin aja, kita 'kan suami istri. Jangan pikirkan pendapat orang lain. Fokuslah pada orang yang ada di hadapanmu ini." Kivandra menaik-turunkan alisnya.
Mendengar itu, hidung Naya kembang kempis menahan senyumannya. "Kalau mau senyum tinggal senyum aja, jangan ditahan seperti itu," sindir Kivandra pada istrinya.
"Yee, siapa yang mau senyum," Naya mengelak.
"Itu hidungnya kelihatan kembang kempis, hayo ketahuan." Kivandra menatap Naya begitu dekat sembari mencolek hidung mancung Naya.
"Ih, Mas. Jangan gitu, aku malu tau," rengek Naya dengan wajahnya yang merona karena tersipu malu.
__ADS_1
****