
"Ayo duduklah dipangkuanku, Sayang." Kivandra mengedipkan sebelah matanya.
"Enggak ah, Mas. Aku malu." Naya mengalihkan pandangannya dengan menatap ke sembarang arah.
"Kau ini, malu-malu kucing. Sini, duduk." Kivandra menarik lengan istrinya dan mendudukkan Naya di pangkuannya.
"Mas, ih. Aku malu, bagaimana jika ada yang melihat kita kek gini." wajah Naya merona karena malu.
"Hiraukan orang lain, fokuslah pada suamimu ini." Kivandra mendekatkan wajah Naya pada wajahnya.
Saking gugupnya, Naya pun memejamkan matanya. Dia tidak berani menatap mata suaminya sedekat itu. Berbeda dengan Kivandra, dia justru memandang istrinya cukup lama.
Cup!
Kivandra mengecuup lembut bibir istrinya. Seketika Naya yang merasa bibirnya dikecuup langsung mengerjapkan matanya. Dia membelalakkan matanya serta dikedip-kedipkan.
"Mas, ini tempat umum," omel Naya.
"I know. Bibirmu begitu menggoda, aku tidak bisa menahannya lagi," timpal Kivandra dengan tatapannya yang nakal.
"Mas, jangan menatapku seperti itu. Tatapan itu hanya membuatku takut saja. Kita pulang yuk, Mas. Aku udah kedinginan ini, pakaianku sudah basah kuyup," ajak Naya seraya beranjak dari pangkuan suaminya.
Kivandra langsung berdiri, dia tersenyum misteri ke arah istrinya. Mereka pun berjalan ke tempat di mana sepatu mereka berada. Namun, begitu sampai di tempat sepatunya disimpan, mereka tidak menemukan sepatu Naya. Hanya ada sepatu Kivandra saja.
"Loh loh, sepatuku ke mana? Bukankah tadi ada di dekat sepatumu, Mas." Naya mencari keberadaan sepatunya.
"Iya, bukankah tadi sepatumu ada si sini dekat sepatuku." Kivandra menunjuk ke arah sepatunya berada. Dia kebingungan karena bagaimana sepatu istrinya bisa hilang sedangkan sepatunya ada.
"Entahlah, masa iya hanyut 'kan enggak mungkin. Mana udah malam sepatu hilang, terpaksa harus jalan tanpa alas kaki deh." Naya mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemas, Gadis kocakku. Masih ada Alienmu di sini." Kivandra menaik-turunkan alisnya.
"Bagaimana aku tidak cemas, sakit tahu, Mas kalau jalan tanpa alas kaki itu. Takutnya ada pecahan kaca, bagaimana?" keluh Naya dengan menjebik.
__ADS_1
"Siapa yang akan membiarkanmu berjalan kaki tanpa alas kaki, heum? Alienmu ini tidak akan membiarkan Gadis kocaknya berjalan kaki." Kivandra tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau aku tidak jalan, bagaimana aku bisa sampai di villa, Mas? Masa iya, terbang. Jangan ngaco," omel Naya.
Kivandra tidak banyak bicara lagi, dia pun berjongkok dan menawarkan punggungnya untuk Naya naiki. Yup, Kivandra akan menggendong tubuh Naya sampai ke villa. "Mas, ngapain jongkok di situ?" Naya mengenyitkan alisnya. Naya tidak kepikiran jika suaminya sedang peka terhadap keadaannya. Sayangnya Naya tidak menyadari itu.
"Ayo naik, aku akan menggendongmu," ujar Kivandra pada istrinya.
"Yakin, Mas mau gendong Naya?" tanya Naya.
"Iya, ayo cepat naik!" perintah Kivandra.
"Baiklah, aku naik ya. Maaf jika tubuh Naya berat." Naya cengengesan seraya naik ke punggung suaminya.
Kivandra pun menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh. Begitupun dengan Naya, dia melingkarkan tangan di leher suaminya sebagai pegangan. Sepanjang jalan, mereka mengobrol, bergurau sampai tertawa bersama sehingga akhirnya, Naya tertidur di gendongan suaminya.
"Sayang, sayang," panggil Kivandra yang merasa kepala istrinya sudah bersandar di bahunya.
Setelah menyadari istrinya sudah tertidur, Kivandra mempercepat jalannya sehingga dia sampai dalam beberapa menit. Tanpa berlama-lama lagi, Kivandra membawa masuk Naya dan langsung menuju kamarnya. Dia menidurkan tubuh Naya di ranjang.
Namun, Kivandra tetap menahannya. Dia tidak ingin menggauli istrinya yang tengah tertidur. Dia tidak tega jika harus membangunkan istrinya. Padahal niat awal Kivandra ingin berolahraga malam di kamar mandi, tapi sayangnya Naya sudah tertidur.
Kivandra menarik selimut tebal dan menyelimuti istrinya. Sebelum pergi ke kamar mandi, Kivandra mencium kening Naya dengan lembut. "Aku mandi dulu ya, Sayang. Sweet dream honey," tutur Kivandra dengan romantis.
Setelah itu, Kivandra pun pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur. Tak lama kemudian, setelah sekitar 20 menit, dia pun telah menyelesaikan rutinitas malamnya. Dia merebahkan tubuh di samping istrinya. Dia memeluk Naya dengan erat seraya memejamkan matanya.
Tentunya sebelum dia tidur, dia sudah mematikan lampunya.
****
Pagi hari ....
"Hoam ...." Naya menguap. Dia baru saja bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Naya duduk di tepi ranjangnya seraya mengumpulkan kesadaran. Begitu dia melihat pakaiannya, dia langsung terkejut. "Loh, bukankah semalam aku tidak memakai pakaian ini? Kapan aku mengganti pakaianku?" Naya merasa heran, dia tidak merasa telah mengganti pakaiannya.
Kemudian, dia melihat ke meja nakas. Tidak sengaja dia melihat ada secangkir susu hangat dan sebuah kertas ucapan menutupi susu itu. Naya mengambil kertas ucapan itu. Begitu membaca kertas ucapan itu, senyuman mulai terlukis di bibirnya yang manis.
{Good morning, Gadis kocakku. Aku buatkan susu hangat untukmu. Tolong habiskan susunya, setelah itu temui aku di meja makan. Alien-mu}.
Setelah membaca itu, Naya langsung menghabiskan susunya. Kemudian dia berlari keluar kamar untuk menemui suaminya. Dia berlari ke meja makan.
Namun, begitu sampai di meja makan, dia tidak melihat suaminya. Dia pun mencari ke dapur dan benar saja, suaminya berada di dapur. Naya berdiri dengan memandang suaminya.
Pagi ini suaminya terlihat sangat berbeda, dia seperti pria idaman. Wajahnya yang tampan segar, serta keahliannya dalam memasak membuat hati Naya berbunga-bunga. Dia tidak menyangka jika suaminya pandai memasak.
Bagaimana Naya bisa mengatakan jika suaminya pandai masak? Bukankah dia belum mencicipi makanannya? Naya beranggapan seperti itu karena pada saat sampai di meja makan, dia melihat makanan mewah yang sering kali disajikan restoran-restoran terkenal dan mahal.
"Good morning, Alien-ku." Naya memeluk suaminya dari belakang.
"Loh, Gadis kocakku ini sudah bangun rupanya. Morning too, honey. Bagaimana tidurmu?" Kivandra mengecilkan apinya dan menyimpan spatula. Kemudian dia membalikkan badannya menghadap ke arah istrinya.
"Tidurku nyenyak, Mas. Sangat nyenyak. Bagaimana dengamu, Alienku?" Naya melingkarkan kedua tangan di leher suaminya.
Kivandra tersenyum, dia tidak akan melewati kesempatan hangat seperti ini. Dia pun mematikan kompor dan langsung menggendong tubuh Naya dan mendudukkannya di kitchen Island. Kedua tangan Naya masih melingkar di leher suaminya.
Sementara itu, Kivandra mendekatkan wajahnya dengan ke wajah istrinya. "Semalam aku tidak bisa tidur," jawab Kivandra dengan menatap istrinya.
"Kenapa? Apa aku tidur mendengkur?"
"Tidak, bukan itu. Semalam aku ingin berolahraga malam denganmu. Tapi, kau sudah tidur duluan." Kivandra cemberut.
"Oh ya ampun, aku minta maaf ya, Mas. Aku tidak bermaksud untuk tidur duluan. Entah kenapa aku tiba-tiba tidur cepat semalam. Maafin aku ya, Alien-ku." Naya menangkup kedua pipi suaminya.
"No problem, masih ada waktu untuk melakukan. Sekarang 'kan kau belum mandi, jadi kita lakukan itu di kamar mandi, bagaimana?" Kivandra menaik-turunkan alisnya diakhiri dengan tatapan nakal.
Gleuk!
__ADS_1
Naya yang mendengar itu hanya tertegun tanpa mengatakan apapun.
****