Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 100 > Yumna Hamil?


__ADS_3

Pagi ini rumah Kivandra, semua orang cukup sibuk. Mereka sibuk mempersiapkan kejutan untuk Naya, karena malam nanti Naya sudah boleh pulang. Itulah, menyapa Kivandra ingin menyambut kedatangan istrinya dengan kejutan yang romantis.


"Mi, berikan semua balonnya. Biar Kivandra yang tiup," Kivandra meminta balon yang belum ditiup.


"Ini, lakukan dengan benar ya, Nak."


"Siap, Mami." Kivandra tersenyum seraya mengambil 1 plastik besar balon yang belum ditiup.


Setelah itu Kivandra mulai meniup balon tersebut dengan alat semacam pompa. Sedangkan Mami Thalia, ia sibuk mengerjakan yang lain. Dan para pelayan di rumah Kivandra sibuk membuat hidangan untuk makan malam nanti. Kali ini, Yumna dan juga Farel tidak berada di rumah. Mereka ditugaskan untuk menemani Naya di rumah sakit.


Kivandra sesekali melirik ke arah maminya yang tengah sibuk memetik kelopak bunga mawar untuk ditabur di lantai serta menghias kamar Naya. Tiba-tiba terlintas ide jahil Kivandra untuk mengejutkan maminya. Ia tersenyum kecil seraya meniup balonnya hingga berukuran besar. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Mami Thalia dengan membawa balon tersebut.


DUAR!


Kivandra dengan sengaja memeletuskan balon tepat di telinga Mami Thalia. "Astagfirullah!" Mami Thalia terkejut dengan tidak sengaja menumpahkan kelopak bunga nawar yang ia kumpulkan pada nampan.


"Haha ... i'm sorry, Mi," Kivandra menertawakan ekspresi Mami Thalia.


"KIVAN! Awas kamu ya! Berani kamu usilin Mami kek gini. Sini kamu!" teriak Mami Thalia seraya mengejar putranya yang sudah lari terlebih dahulu.


"Ampun, Mami. Kivan hanya bercanda," ujar Kivandra sembari menghindari kejaran maminya.


"Enggak. Mami engga terima dijahilin kek gini. Lihatlah, apa yang sudah kamu perbuat? Pekerjaan Mami jadi berantakan," omel Mami Thalia. Ia tak menyerah dengan terus mengejar Kivandra.


Mereka berlarian dalam rumah. Ia melewati beberapa ruangan bahkan mereka berlari sampai dapur, sehingga membuat para pelayan tertawa kecil melihat ibu dan anak saling kejar-kejaran. "Abaikan kami, kembali ke pekerjaan kalian. Anak ini memang nakal," ujar Mami Thalia pada para pelayan yang sedang asyik menonton aksi kejar-kejaran ibu dan anak ini.


****


Ruang VVIP rumah sakit ....


"Yumna, ayolah ... aku bosan di ruangan ini terus. Aku ingin mencari udara segar," bujuk Naya pada Yumna yang sedang duduk di samping ranjangnya.


"Tidak, Nyonya Naya. Tuan Kivan sudah beroesan padaku untuk tidak membiarkanmu keluar dari ruangan ini." Yumna menggelengkan kepalanya.


"Memangnya kenapa? Aku tidak akan kabur dari sini. Aku hanya ingin ke taman belakang rumah sakit ini saja. Lagipula aku keluar juga bersamamu. Kenapa suamiku melarangku seperti ini?" Naya mengerucutkan bibirnya karena bete.


"Tuan sangat mengkhawatirkanmu, Nyonya. Patuhlah, Tuan melakukan ini demi kebaikanmu. Dia tidak ingin kamu terluka lagi," tutur Yumna untuk menyakinkan Naya.


"Ya, tapi aku ini bukan hewan peliharaan. Aku bete terus berada di ruangan ini."


"Nyonya harus sabar sedikit lagi. Toh nanti malam Nyonya sudah bisa pulang. Tahanlah sebentar lagi, okay?" Yumna tersenyum sembari mengelus bahu Naya.


"Ahh, ini benar-benar membosankan. Huft!" Naya menghela napas panjang.


"Nona, bagaimana kalau kita buat permainan kecil untuk menghilang rasa bosannya Nyonya?" tawar Yumna dengan menaik-turunkan alisnya.


"Permainan apa?" tanya Naya dengan membenarkan posisi duduknya.


"Kita main tebak-tebakan saja. Yang salah nanti dicoret wajahnya dengan lipstik, bagaimana?" Yumna memperlihatkan lipstik berwarna merah.


"Aku setuju." Naya mengangguk dan bersiap untuk memukau permainan tersebut.

__ADS_1


"Okay, kita mulai ... coba Nyonya tebak. Mayatnya banyak, tapi petinya hanya satu? Kira-kira apa itu?" tanya Yumna dengan menaik-turunkan alisnya.


"Eumm ... apa ya?" Naya mencoba berpikir mengenai jawabannya. "Oh iya, korek api?" tebak Naya.


"Betul. Tebakan Nyonya betul. Sekarang giliran Nyonya yang memberikan soal padaku," ujar Yumna.


"Coba kamu tebak, nenek-nenek naik tower, kira-kira hari apa?" tanya Naya.


"Pertanyaan macam apa ini, Nyonya? Memangnya ada nenek-nenek naik tower?" alih-alih menjawab, Yumna justru balik bertanya.


"Astaga, Yumna. Tinggal jawab saja, kenapa harus bertanya balik. Itu curang namanya,"


"Emm ... mungkin hari minggu," jawab Yumna.


"No. Jawaban kamu salah. Berikan lipstikmu." Naya meminta lipstik yang ada di tangan Yumna.


"Terus jawabannya apa?" Yumna memberikan lipstiknya.


"Hariwang, jawabannya," kekeh Naya sembari mencoret wajah Yumna dengan lipstik merah.


"Apa itu hari-wang, Nyonya?" Naya kebingungan dengan jawaban Naya.


"Hariwang itu bahasa Sunda yang artinya khawatir."


"Oalah, pantes saya tidak tahu jawabannya."


Entah kenapa, perut Yumna tiba-tiba merasa mual. Sejenak ia terdiam menahan rasa mual. Namun, semakin ditahan semakin mual rasanya. Sehingga ia pun tak kuat lagi untuk menahannya.


"Huwek!" Yumna berlari ke kamar mandi karena mau muntah.


Karena merasa khawatir, dan ia belum sanggup untuk berjalan, Naya pun memanggilnya Farel yang berada di luar ruangan. "Farel!" panggil Naya dari dalam.


CEKLEK!


Pintu terbuka dan masuk Farel. "Ya, Nyonya." Farel kini sudah menunjukkan batang hidungnya.


"Rel, coba deh kamu cek Yumna di kamar mandi. Yumna sepertinya sakit," perintah Naya pada Farel.


"Baik, Nyonya. Akan saya periksa," timpal Farel dengan berjalan menuju kamar mandi.


Sementara itu, Yumna yang berada di kamar mandi bertanya-tanya soal rasa mualnya itu. Biasanya dia tidak mudah sakit apakah masuk angin. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari bahwa ia sudah telat datang bulan. Seketika ia melihat wajahnya berubah menjadi pucat pasi dari pantulan cermin.


"Enggak! Itu enggak mungkin. Bisa saja ini hanya masuk angin biasa. Tapi, huwek!" lagi-lagi Yumna mengeluarkan isi perutnya.


"Yumna! Kamu buka pintunya!" perintah Farel dari luar kamar mandi.


Dengan cepat, Yumna mencuci wajahnya dan mengeringkannya dengan tisue. Kemudian ia membuka pintu kamar mandinya. "Farel? Ada apa?" tanya Yumna dengan wajah yang pucat pasi.


"Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali, Yumna." Farel menempelkan telapak tangannya di kening Yumna.


"Enggak tau nih, Rel. Tiba-tiba aja aku merasa mual. Sebelumnya tidak pernah seperti ini," jawab Yumna dengan jujur.

__ADS_1


"Ya udah, kamu rebahan dulu gih di sofa. Akan aku panggilkan dokter."


"Enggak perlu, Rel. Aku baik-baik aj--"


Belum selesai bicara, tiba-tiba tubuh Yumna oleng tak sadarkan diri. Dengan sigap, Farel menopang tubuh Yumna.


"Yumna!" Naya terkejut melihat Yumna yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Farel, segera merebahkan tubuh Yumna di sofa dan segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Yumna. Sementara itu, Naya mencoba turun dari ranjangnya dan berjalan perlahan. Setelah berusaha keras, akhirnya Naya sampai di sofa. Ia duduk di samping Yumna dan mengangkat kepala Yumna serta meletakkannya di pangkuan Naya.


"Yumna, kamu kenapa? Jangan membuatku takut." Naya menepuk-nepuk pipi Yumna agar sadar. Namun, Yumna tak kunjung sadar.


CEKLEK!


Pintu terbuka dan masuklah Farel bersama dokter. "Dok, tolong periksa keadaan Yumna," ucap Farel dengan menunjuk ke arah Yumna yang sudah terbaring.


"Baik, akan saya periksa." Dokter segara memeriksa keadaan Yumna.


Setelah beberapa menit kemudian, Dokter itu tersenyum ke arah Farel dan juga Naya. "Nyonya Naya dan juga Anda tidak perlu cemas. Gejala ini memang sering dialami oleh ibu hamil," tutur Dokter dengan senyuman kecil.


"Apa? Hamil?" Naya dan juga Farel bertanya secara bersamaan. Keduanya benar-benar terkejut bukan main. Sebab, bagaimana bisa Yumna hamil sedangkan Yumna belum menikah.


"Iya, Nyonya. Wanita ini sedang hamil. Selamat ya, Pak. Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah." Dokter tersebut memberikan selamat pada Farel.


"Hah? **-tapi, saya--"


"Terima kasih, Dok." sela Naya.


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi." Dokter tersebut keluar dari ruangan Naya.


Begitu Dokter itu keluar, Naya dan Farel saling menatap satu sama lain. "Farel, apa kamu tahu Yumna hamil?" skak Naya dengan tatapan yang tajam.


"Tidak, Nyonya. Bagaimana bisa saya tahu."


"Kira-kira, siapa ayah dari bayi ini? Aku sangat mencemaskan Yumna, bagaimana perasaannya jika ia tahu kalau dirinya sedang hamil?"


"Saya juga tidak tahu, Nyonya. Haruskah kita menyembunyikan kabar ini?"


"Mau sampai kapan? Ingatlah, usia kandungannya akan semakin membesar dan perutnya juga akan besar. Semua orang akan menyadari itu."


"Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Yumna?"


"Hanya ada satu cara, Farel."


"Apa itu?"


"Nikahi dia," skak Naya dengan tatapan yang serius pada Farel.


"Apa?" Farel terlonjak kaget mendengar ucapan Naya.


****

__ADS_1


Kira-kira siapa ayah bayi dalam kandungan Yumna?


Stay tune :)


__ADS_2