Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 36 > Tangga Berjalan


__ADS_3

"Kak Chiko?"


Ternyata pemilik mobil itu tidak lain adalah sahabat suaminya, Chiko. "Rupanya kau masih mengingatku, Nona." Chiko tersenyum.


"Tentu saja, Kak Chiko yang sudah membantuku waktu di negara S. Naya tidak menyangka jika Naya akan bertemu lagi dengan Kakak," timpal Naya dengan membalas senyuman Chiko.


"Rumahku memang di kota ini, Nay. Makanya jangan heran jika nanti kita bisa bertemu lagi. Oh iya, bagaimana kau bisa dikejar ketiga preman itu?"


"Aku juga tidak tahu, ketiga preman itu tiba-tiba datang dan menggangguku. Oh astaga, aku melupakan sesuatu." Naya menepuk jidatnya disertai matanya membola.


"Apa?"


"Kak, kita putar balik ya. Aku meninggalkan sesuatu di sana. Boleh ya, Kak. Please." Naya mengedip-ngedipkan matanya.


"Baiklah-baiklah, Nyonya Kivan." Chiko tertawa kecil seraya memutar balik mobilnya.


"Terima kasih, Tuan imut," kekeh Naya.


"Haha, apa kau sedang mengolok-olokku, Nona?"


"Tidak, aku hanya meledekmu saja," timpal Naya dengan tawanya yang terbahak-bahak.


Keduanya tertawa lepas di dalam mobil. Naya memanglah gadis yang mudah sekali bergaul. Selain kocak, Naya ini moodbooster bagi sebagian teman-temannya. Sehingga banyak orang yang merasa nyaman dengan Naya.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di tempat yang tadi. Tempat Naya dikejar oleh ketiga preman. "Kak, tunggu di sini. Naya akan keluar mengambil barang Naya."


"Naya, tunggu!" ucap Chiko pada saat Naya hendak membuka pintu mobilnya.


Kemudian Chiko membuka jaket dan memakaikan jaket itu pada Naya. "Tutupi tubuhmu, jangan biarkan tubuhmu dilihat banyak orang. Itu akan sangat merugikan dirimu sendiri."


"Baik, Naya pinjam sebentar ya, jaketnya." Naya keluar dari mobil dan mengambil barang yang dia tinggalkan tadi.


Sementara itu, Chiko menunggu Naya di mobil. Setelah beberapa saat Naya kembali dengan menangis. Naya masuk ke mobil dengan menangis dan Chiko tidak melihat Naya membawa sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa menangis? Di mana barangmu?" Chiko kebingungan melihat Naya yang tiba-tiba datang dan menangis.


Naya malah semakin menangis histeris. "Stt!" Chiko menaruh jari telunjuknya di bibir Naya.


"Jangan menangis seperti itu, nanti orang-orang bisa mengeroyokku karena mengira aku apa-apain kamu. Sudah jangan menangis! Katakan, kenapa kau menangis?" Chiko menyeka air mata Naya.


"Heels Naya hilang," ucap Naya yang masih terisak.


"Apa?" Chiko terkejut mendengar alasan Naya menangis.


"Oh ya ampun. Jadi, kau menangis cuma karena heels kamu yang hilang?" Chiko membulatkan matanya.


Naya mengangguk cepat. "Iya, Kak. Heels itu sangat mahal. Naya tidak mampu untuk membelinya. Naya takut Tuan muda marah jika tahu heels-nya hilang," jelas Naya.


"Jangan cemas. Aku akan menyelamatkanmu dari Kivan," ucap Chiko.


"Bagaimana caranya?"


"Udah, nanti kau akan tahu sendiri. Pakai sabuk pengamanmu!"


***


Buana Home ....


Kivandra baru saja sampai di kediamannya. Sepertinya biasa, demi menghindari kakeknya, Kivandra masuk lewat pintu belakang yang langsung menuju kamarnya melalui elevator. Kivandra masuk elevator dan menekan tombol.


Ting!


Pintu elevator terbuka, Kivandra keluar dan berlari menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar, Kivandra tidak melihat Naya di kamarnya. Kivandra mulai mencari Naya dari mulai kamar mandi, balkon dan ruangan fashionnya. Tapi, Naya tidak ada.


Kivandra sedikit khawatir karena istri kecilnya itu belum pulang. Dia pergi menemui Nenek Aminah. Kivandra berlari menuruni anak tangga menuju dapur.


"Nek Aminah," panggil Kivandra.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan muda." Nek Aminah datang dari arah dapur.


"Apakah Naya sudah pulang? Saya tidak melihat Naya ada di kamarnya, apa Nek Aminah melihat Naya?" tanya Kivandra.


"Loh, bukannya Naya pergi dengan Nyonya Thalia. Apa Tuan muda tidak tahu?"


"Oh, baiklah. Terima kasih, Nek."


Kivandra tahu, tapi dia tidak memberi tahu Nenek Aminah. 'Gawat, Naya belum pulang. Aku harus mencari Naya, aku takut dia kenapa-kenapa. Apalagi dia 'kan gadis yang lugu dan sedikit bodoh.' Kivandra berlari menuju basement.


Kivandra memasuki mobil dan langsung melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sepanjang jalan, Kivandra melihat ke pinggir jalan untuk mencari keberadaan Naya tapi Naya tidak ada. "Ke mana Naya pergi?"


***


Mall ....


Naya terdiam, dia menatap ke arah Chiko yang hendak menaiki eskalator. Chiko yang menyadari jika Naya tidak ada langsung menoleh ke belakang. Terpaksa Chiko yang sudah menaiki eskalator turun lagi dan menghampiri Naya.


"Kenapa diam aja? Ayo," ajak Chiko dengan memegang tangan Naya.


"Naya enggak mau naik tangga berjalan itu!"


"Apa?" Chiko langsung tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun kau ini lucu sekali, Nay. Dengarkan aku, itu namanya ESKALATOR bukan tangga berjalan. Kau ini menggemaskan sekali." Chiko mengelus rambut Naya karena gemas.


"Apa bedanya? Memang benar 'kan tangga itu berjalan."


"Ya udah, terserah kau saja. Kau bebas mengatakan eskalator itu dengan tangga berjalan. Sekarang ayo kita ke lantai atas," ajak Chiko.


"Enggak mau! Naya takut! Naya takut terjepit, nanti daging Naya tergiling oleh tangga berjalan itu. Ih menakutkan," celetuk Naya sembari menggidikkan bahunya.


"Haha, itu tidak mungkin, Nay. Tenang aja, eskalator ini aman. Dagingmu juga akan aman," ledek Chiko diakhiri dengan tawanya.

__ADS_1


***


__ADS_2