
Bugh!
Brugh!
Naas, Yumna dipukul tepat bagian kepala sampai tubuhnya terpanting ke lantai tak sadarkan diri. Farel yang melihat itu tentu sangat marah. Namun, ia harus sabar dan jangan gegabah karena saat ini tubuhnya masih diikat ke kursi. Bukan pria itu tidak ingin menyelamatkan Yumna akan tetapi ia sedang memikirkan cara agar tubuhnya bisa terlepas dari ikatan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Farel ingat bahwa di saku celananya ada sebuah pisau lipat. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, tangannya mencoba untuk merogoh saku celana tersebut. Meski hal itu sulit, namun Farel bisa mengambil pisau lipat tersebut. Kemudian ia melihat ke arah pria-pria kekar yang sedang melucuti pakaiannya satu persatu.
Sudah bisa dipastikan jika mereka akan menggerayami tubuh Yumna yang sudah tak sadarkan diri. 'Ini waktu yang tepat untuk melepaskan diri,' Farel membatin dengan terus mengamati keadaan kamar.
Dan benar saja, begitu para pria itu asyik tertawa dengan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya, Farel mulai beraksi. Ia memotong tali yang mengikat tubuhnya. Perlahan tapi pasti, sehingga setelah beberapa menit ia bersusah payah, akhirnya ikatan itu terlepas. Farel berdiri dengan mengambil sebuah kayu yang tergeletak di kamar tersebut dan berjalan menghampiri para pria bejat itu.
Sayangnya, belum sempat Farel menghantam ketiga pria tersebut, mereka sudah melihat aksi Farel. Sehingga perkelahian pun tidak terhindarkan. Mau tidak mau Farel harus melawan ketiga pria itu secara bersamaan. Bisa dikatakan jika Farel saat ini tengah dikeroyok dan berkali-kali mendapat serangan di bagian kepala.
Farel masih bisa menahannya dan mencari tahu di mana titik kelemahan ketiga pria itu. Hingga akhirnya, Farel bangkit dan memukul ketiga pria itu secara satu persatu. Farel memukul di beberapa titik kelemahan para pria kekar itu. Setelah mendapat serangan secara berkali-kali membuat mereka jatuh tak sadarkan diri secara satu persatu dengan luka yang berbeda.
Sedikit merasa tenang ketika melihat mereka berhasil dikalahkan. Namun, tugasnya belum selesai. Di mana Farel harus membawa Yumna dengan cepat sebelum ketiga pria itu kembali sadar. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia menggendong tubuh Yumna yang hanya mengenakan dalaman saja.
Tentu, sebelum membawa tubuh Yumna, Farel membuka jas yang ia kenakan dan menutupi tubuh Yumna. Setelah itu, barulah ia membawa pergi Yumna. Dengan langkahnya yang sempoyongan, Farel berusaha terus untuk berjalan. Tak terasa, ia sudah sampai di luar.
Sesampainya di luar, ia benar-benar kebingungan karena mobil yang ia kendarai tidak ada. Tentu saja, karena lokasinya berbeda. Mau tidak mau, Farel harus berjalan ke pinggir jalan dan memberhentikan taksi. Dengan sinar matahari yang cukup terik, Farel berdiri di pinggir jalan dengan menggendong tubuh Yumna.
Setelah kurang lebih lima belas menit ia berdiri, taksi pun berhenti. Dengan cepat, Farel masuk taksi tersebut bersama dengan Yumna. Saat ini Yumna masih belum sadar.
"Ayo jalan, Pak!" perintah Farel kepada supir taksi.
****
__ADS_1
Di titik yang berbeda, tepatnya berada di taman rumah kediaman Kivandra. Saat ini Naya bersama kedua pengasuh anaknya sedang mengajak main kedua putrinya. Mereka tengah terduduk di bawah naungan pohon. Naya sedang menyuapi kedua putrinya.
"Nyonya," panggil Ayu yang merupakan pengasuh putrinya.
"Iya, Ayu. Sok nyarios, abi pameung nuju masihan tuang Adeena sareng Adeela (Bicara aja, saya tanggung lagi nyuapin Adeena dan Adeela)," sahut Naya dengan bahasa Sunda.
"Itu, Nyonya ...."
"Aya naon? Sok nyarios. (Ada apa? Bicara aja)," tanya Naya dengan bahasa Sunda tanpa menoleh ke arah pengasuhnya.
"Itu A Farel atos dongkap, tapi ... neng Yumna kunaon itu, Nyonya? (Itu Kak Farel sudah datang. Tapi, neng Yumna kenapa itu, Nyonya?)" Ayu berbicara dengan bahasa Sunda.
Memang benar, jika Naya dan pengasuh putrinya selalu bicara menggunakan bahasa Sunda. Meski Naya sudah berbeda dari Naya yang dulu, ia tetap menghargai bahasa daerahnya. Kebetulan juga jika kedua pengasuh putrinya berasal dari kampung juga. Selain itu, Naya selalu nyaman jika bicara menggunakan dengan bahasa Sunda.
Mendengar itu, Naya langsung menaruh mangkuk berisi makanan bayi tersebut dan menoleh ke arah Farel dan Yumna. Begitu kedua matanya tertuju pada keduanya, sontak kedua matanya terbelalak dengan sempurna. Terlihat jelas jika ia melihat Farel sedang menggendong tubuh Yumna yang hanya tertutup oleh jas saja.
"Dewinta, Ayu. Saya titip si kembar dulu ya. Saya akan temui Farel dulu. Oh iya, jika sudah selesai makannya bawa masuk kembali si kembar!" perintah Naya sembari berlari menghampiri Farel dan Yumna.
****
Si empunya nama tersebut segera membalikkan tubuhnya dan melihat ke belakang. "Nyonya," sapa Farel sembari menundukkan kepalanya sedikit.
"Loh, Rel ... dia kenapa? Dan itu, wajahmu babak belur gitu kenapa? Kamu habis berantem?" tanya Naya dengan mata yang tertuju pada luka di wajah Farel serta melihat tubuh Yumna yang tak sadarkan diri.
"Ada sedikit gesekan tadi, Nyonya. Tapi, semua baik-baik saja," jawab Farel disertai senyuman.
"Ya sudah, kamu bawa Yumna ke kamarnya. Aku akan buatkan minuman untukmu," ujar Naya dengan menyuruh Farel ke kamar Yumna.
__ADS_1
"Baik, Nyonya. Terima kasih." Setelah mengucapkan terima kasih, Farel dengan cepat pergi ke kamar Yumna.
Sementara itu, Naya pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Farel. Dia sangat yakin jika saat ini Farel telah melalui sesuatu yang buruk. Jelas itu terlihat di wajahnya yang lebam. Setelah minuman siap, Naya segera menghubungi suaminya.
Awalnya panggilan tidak tersambung. Hingga Naya coba berkali-kali karena menurutnya Kivandra harus mengetahui keadaan Farel. Biar bagaimana pun juga Farel bukan hanya orang kepercayaan suaminya saja, melainkan sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Setelah mencoba untuk yang kesekian kalinya, akhirnya panggilan tersambung. Kivandra telah mengangkat telepon dari sang istri.
Telepon terhubung!
"Hallo, Sayang ... maaf mengganggu, ada sesuatu yang ingin aku beri tahu padamu," ucap Naya begitu telepon susah tersambung.
"Iya, Sayang. Ada apa? Semua baik-baik saja?" tanya Kivandra di seberang telepon.
"Gini, Yang ... kamu sibuk enggak?"
"Meeting sudah selesai sih. Nanti ada meeting lagi jam 15.00. Sekarang aku lagi santai. Kamu mau aku pulang?" tebak Kivandra.
"Iya, Mas. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggumu tapi, Farel dan Yumna ...."
"Kenapa dengan mereka?"
"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Mas. Karena Farel belum menceritakan apa-apa. Sebaiknya Mas pulang dan lihat sendiri keadaan mereka. Aku benar-benar tidak tahu dan aku bingung. Ada apa dengan mereka," jelas Naya.
"Ya sudah, aku pulang sekarang. Kamu tunggu aku ya, Sayang. Jangan panik," ujar Kivandra dengan penuh kelembutan.
"Iya, Mas. Hati-hati, tutt!" Selesai bicara di telepon dengan suaminya, Naya pun mengakhiri teleponnya.
Telepon terputus!
__ADS_1
****
Stay tune :)