Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 82 > Membongkar Masa Lalu


__ADS_3

Kedua mata Naya terbuka secara perlahan. Kemudian ia menyipitkan mata melihat sekelilingnya. "Loh, kok aku bisa ada di sini? Siapa yang membawaku ke kamar? Apa Mas Kivan?" Naya bermonolog sembari menatap ke sana ke mari.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar. Naya yang mendengar suara pintu segera menoleh ke arah pintu dan melihat suaminya tengah membawa makan makan beserta jus kesukaan Naya yaitu alpukat. Alih-alih merasa senang, ia justru merasa heran dengan sikap suaminya yang berubah-ubah layaknya seperti bunglon.


"Hei, kamu sudah bangun rupanya," sapa Kivandra dengan menaruh nampan tersebut di meja nakas.


"Hei," Naya balik menyapa suaminya dengan singkat.


"Duduklah, kamu harus makan dulu. Sedari tadi kamu belum makan," ujar Kivandra dengan membantu sang istri untuk duduk.


"Mas, kok aku ada di kamar? Apa Mas yang memindahkan tubuhku?" tangan Naya dengan menatap suaminya.


"Ya. Sekarang buka mulutmu, aaa ...." Kivandra mulai menyuapi


Naya mengangguk dan membuka mulutnya. Setelah beberapa suapan, Kivandra tiba-tiba menanyakan sesuatu. "Sayang, apa kamu mencari tahu soal pria genit itu kepada Mami dan Grandpa?"


Uhuk! Uhuk!


Seketika, Naya langsung tersedak. Sedangkan Kivandra yang melihat istrinya tiba-tiba tersedak langsung mengambil air putih dan memberikannya pada sang istri. "Minum dulu."


Naya mengambil segelas air yang berada di tangan sang suami dan langsng meneguk habis airnya. "Makasih, Mas," ucap Naya selesai minum.


"Makan lagi ya,"


"Udah cukup, Mas. Aku enggak lapar, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu." Naya memegang tangan kanan sang suami yang tengah memegang sendok.


"Soal apa?"


"Papimu. Aku ingin tahu banyak tentang Papimu karena selama ini Mas belum pernah memberi tahuku soal Papimu," jawab Naya dengan memberanikan diri.


"Cukup Naya! Saat ini aku tidak ingin mengatakan apa pun tentang pria itu. Bukankah Mami sudah memberi tahumu?" Kivandra masih terlihat kesal ketika Naya membicarakan soal papinya.


"Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan membicarakannya lagi." Naya beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.


Naya melangkahkan kakinya menuju kamar si kembar. Tiba-tiba pundaknya ditepuk pelan dari belakang. Kemudian Naya membalikkan badannya untuk melihat orang yang menepuknya."Eh, Mami. Naya pikir--"


"Suamimu," potong Mami Thalia dengan sedikit tersenyum.


Naya hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun. Memang benar, ia berharap Kivandra mengejarnya dan menceritakan semua tentang masa lalu dan juga papinya. Tapi, sayangnya apa yang ia harapkan tidak sesuai yang ia inginkan.


"Bagaimana, apakah suamimu menceritakan sesuatu padamu?"


Naya menggelengkan kepalanya. "Belum, Mami. Sepertinya Mas Kivan tidak ingin menceritakan masa lalunya sama Naya," jawab Naya dengan raut wajah yang sedih.


"Sudah, tidak apa-apa. Mungkin suamimu belum siap untuk menceritakan semuanya sama kamu. Dia tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama seperti Alice. Sudahlah, lupakan itu. Ayo kita temui si kembar." Mami Thalia mengajak menantunya untuk menemui si kembar.


"Iya, Mami." Naya tersenyum seraya berjalan bersamaan dengan ibu mertuanya.


****


Di kamar Kivandra ....


Kivandra tengah berdiri di depan gorden dengan ponsel yang ia pegang. Ia terlihat bingung sembari menatap layar ponsel. Ia bingung antara harus menghubungi papinya atau tidak. Sehingga beberapa detik kemudian, ia memutuskan untuk menghubungi Papi Nero. Tak lama kemudian, telepon pun telah diangkat oleh sang Papi.

__ADS_1


Telepon terhubung!


"Saya peringatkan sekali lagi. Jauhi kehidupanku! Jangan pernah mendekati keluargaku termasuk istriku, Naya! Jika kau berani mendekatinya maka kau akan berhadapan denganku!" gertak Kivandra setelah telepon tersambung.


"Hei, Nak. Saya ini Papimu. Sangat tidak sopan jika bicaramu seperti ini," sahut Papi Nero dari balik telepon.


"Kau bukan Papiku! Papiku telah lama mati! Jangan pernah kau menganggapku sebagai putramu! Kau ingat baik-baik, Pak Nero. Saya menghubungimu hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak bermain-main denganku! Tutt!" hardik Kivandra dengan emosi yang tak terkendalikan dan mengakhiri panggilan teleponnya.


Telepon terputus!


Kedua mata Kivandra merah pekat disertai kepalan tangannya yang begitu kuat membuat urat-uratnya menonjol. Hal itu menandakan jika saat ini pria yang memiliki dua anak ini begitu sangat marah. Bagaimana tidak, masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam dan ia lupakan dengan susah payah kini terbongkar kembali dengan datangnya pria yang sangat ia benci.


"Aarrgghhhh!" teriak Kivandra frustasi.


Bugh!


Saking kesalnya, Kivandra melampiaskan amarahnya dengan meninju tembok kamarnya. Pria yang sedang tersulut emosi ini tidak menyadari jika tangannya mengeluarkan sedikit darah akibat hantamannya itu. Namun, sama sekali Kivandra tidak merasakan sakit sedikitpun.


Merasa belum puas, Kivandra keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan sang istri. "Kanaya!" Kivandra berteriak dengan suara yang tegas dan lantang.


Teriakan itu membuat semua orang yang ada di rumah itu berhamburan datang meski yang dipanggil itu nama istrinya. Kivandra tidak begitu mempedulikan orang-orang yang berkumpul. Matanya sibuk mencari keberadaan sang istri.


"Ada apa, Nak? Kenapa kamu berteriak seperti ini?" tanya Grandpa Liam yang baru saja datang.


"Di mana Naya?"


"Kenapa kamu mencari istrimu? Ada apa? Apakah kalian bertengkar?" lagi-lagi pertanyaan Kivandra dibalas dengan pertanyaan juga oleh sang kakek.


"Beri tahu saja, di mana Naya?"


Sontak, Kivandra menoleh ke arah sumber suara. Sementara itu, Naya berjalan menghampiri sang suami dengan tatapan yang tajam. "Pelankan suaramu, Mas. Ini kakekmu, kamu tidak boleh meninggikan suaramu seperti ini," tegur Naya kepada suaminya yang wajahnya merah padam menahan amarah.


"Kamu! Ikut aku!" Kivandra menyorot tajam ke kedua mata Naya seraya menarik tangan sang istri.


"Kivan! Kamu mau bawa istrimu ke mana? Ingatlah, semua bisa dibicarakan baik-baik!" teriak Grandpa Liam agar suaranya terdengar oleh keduanya.


Namun, suara Grandpa Liam diabaikan oleh Kivandra. Ia fokus menarik istrinya dan membawanya ke mobil. "Masuk!" perintah Kivandra setelah pintu mobilnya ia buka.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Naya terlebih dahulu sebelum ia masuk mobil.


"Masuk!" bentak Kivandra.


Reflek, Naya memejamkan matanya sembari memegangi jantungnya. Ia benar-benar terkejut serta tidak menyangka jika suaminya berani membentaknya seperti itu. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah membentaknya mau semarah dan sekesal apa pun dia.


Dengan hatinya yang sedikit sakit, Naya terpaksa masuk mobil tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu, Kivandra mengitari mobil dan masuk melalui pintu yang berbeda. Ia duduk di kursi kemudi dan bersebelahan dengan sang istri.


Di perjalanan, mereka terdiam tanpa ada obrolan sedikitpun. Naya asyik menatap ke samping kaca jendela mobil. Sementara Kivandra fokus menyetir dengan ekspresi yang masih terlihat marah.


Selang beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di salah satu hotel bintang lima. Keduanya keluar dari mobil secara bersamaan. Berbeda dengan Kivandra, Naya justru kebingungan.


'Apa maksudnya ini? Kenapa Mas Kivan membawaku ke hotel?' batin Naya bertanya-tanya.


"Ayo masuk." Kivandra kembali menarik Naya memasuki hotel yang berada di hadapannya.


Meski Naya ingin sekali bertanya, tapi ia mengurungkan niatnya. Karena ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Melihat, reaksi suaminya yang masih sama seperti di rumah. Kivandra masih menunjukkan kekesalannya itu. Saat ini Naya hanya bisa mengikuti sang suami tanpa mempertanyakan alasannya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini!" perintah Kivandra yang menyuruh istrinya untuk menunggu.


Naya mengangguk meng-iyakan. Lalu, Kivandra berjalan menuju resepsionis dan berbicara singkat. Naya hanya bisa menyaksikannya saja tanpa tahu apa yang sedang suaminya bicarakan dengan resepsionis. Kemudian, beberapa menit kemudian, Kivandra mengambil sebuah id card. Id card itu merupakan alat untuk masuk ke kamar hotel dengan menempelkannya pada sensor.


Naya semakin tidak mengerti apa maksud dari tindakan suaminya ini. Untuk apa dia mengambil id card itu. 'Apakah Mas Kivan memesan kamar hotel? Tapi, untuk apa?' batin Naya kembali bertanya-tanya.


Sehingga tanpa ia sadari, sang suami sudah berada di sebelahnya. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kivandra yang sedari tadi memperhatikan istrinya yang tengah melamun.


"Euh ... tidak ada, Mas. Boleh aku tanyakan sesuatu?"


"Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan. Sebaiknya kamu ikut aku dan semua pertanyaanmu itu akan terjawab di sana," jelas Kivandra sembari mengajak Naya ke salah satu kamar.


****


Ceklek!


Pintu kamar terbuka lebar dan masuklah Kivandra dan Naya. Naya memperhatikan sekeliling kamar itu, sementara Kivandra mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Setelah itu Kivandra duduk di ranjang sembari melihat sang istri yang masih celingukan ke sana ke mari.


"Mas, katanya semua jawaban dari pertanyaanku ada di sini. Tapi mana?" tanya Naya dengan konyol.


"Konyol!" ledek Kivandra. "Jika kamu ingin tahu jawabannya, kamu duduk bersamaku dan dengarkan aku," lanjut Kivandra dengan menepuk ranjang untuk Naya duduki.


Dengan bibirnya yang mengerucut, ia berjalan menghampiri sang suami dan duduk disampingnya. Kivandra memegang bahu Naya sembari menatapnya cukup lekat. Begitupun dengan Naya, ia turut menatap suaminya dengan tatapan yang sama.


"Kamu bilang, kamu ingin tahu tentang Pak Nero? Sedangkan Mami sudah menjelaskannya padamu. Apalagi yang harus aku jelaskan padamu?"


"Aku ingin tahu dari mulut suamiku sendiri. Apakah itu salah?"


Huft!


Kivandra menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan menjelaskan semua masa laluku. Tapi, kamu harus berjanji satu hal padaku," ujar Kivandra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Janji apa itu, Mas?"


"Berjanji untuk tidak mengkhianatiku." Kivandra menyodorkan jari kelingkingnya.


"Aku berjanji bahwa sampai kapan pun dan sampai mati pun aku tidak akan pernah mengkhianatimu," ucapnya dengan mata yang menunjukkan kejujuran disertai jarinya yang saling berkaitan dengan jari sang suami.


"Kuharap kamu tidak pernah mengingkari janjimu itu. Dan ya, apakah kamu tahu, alasan aku membawaku ke kamar ini selain memberi tahu jawabanmu?"


Dengan cepat, Naya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mengetahuinya. "Ini kamar di mana aku hampir merenggut nyawa Alice," jawab Kivandra dengan penuh kejujuran.


Gleuk!


Naya menelan salivanya begitu mendengar kebenaran yang Kivandra katakan. "Mm-mas berniat untuk menghabisi Alice?" tanya Naya dengan terbata-bata.


"Yup. Tapi, tidak berhasil. Kamu tahu, kenapa aku sampai bertindak sejauh dan senekat itu?"


Lagi-lagi Naya menggelengkan kepalanya. "Karena dia telah mengkhianatiku dengan tidur bersama Papiku, NERO!" Kivandra menjelaskannya dengan nada yang tegas.


Deg!


****


Stay Tune :)

__ADS_1


__ADS_2