
"Jj-jadi ... Pak Nero adalah Papimu?" tanya Naya dengan terbata-bata.
"Yup. Awalnya dia Papiku tapi sekarang bukan lagi. Kamu pasti sudah mengetahui banyak soal ini dari Mami," jelas Kivandra.
"Tidak, Mas. Sebenarnya Mami tidak memberi tahu banyak. Mami hanya memperlihatkan foto-foto perselingkuhan Alice dengan Pak Nero. Tapi, ada satu foto yang membuatku terkejut." Naya menatap lekat mata suaminya.
"Foto apa yang kamu lihat?"
"Aku melihat di foto itu, Alice sedang tidur bersama Chiko. Seingat aku, kalau tidak salah, Kak Chiko itu teman masa kecil Mas sendiri 'kan?"
"Benar. Chiko teman masa kecilku, dan aku tidak pernah menduga jika dia tega mengkhianatiku seperti itu. Tapi, sudahlah itu hanya masa lalu. Aku sudah memaafkan bahkan melupakannya. Sekarang aku hanya fokus membahagiakanmu bersama si kembar," tutur Kivandra dengan lembut seraya menggenggam kedua tangan sang istri.
"Itu bagus, Mas. Tapi, kalau boleh aku jujur, aku sangat takut lihat Mas semarah itu. Aku benar-benar bingung, aku tidak tahu apa masalahnya dan apa yang membuat Mas semarah itu sampai berani membentak dan menarikku seperti tadi. Ingat loh, Mas ... aku ini bukan istri pelampiasanmu," Naya mengeluh atas perlakuan suaminya tadi.
Mendengar itu, Kivandra menangkup kedua pipi sang istri seraya memandangnya dengan tatapan yang begitu lembut. "Maafin aku ya, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut. Hanya saja, pada saat aku melihat pria itu berjabatan tangan denganmu, aku mulai tersulut emosi. Sampai aku sulit untuk mengendalikannya. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu apalagi berbuat kasar padamu," tutur Kivandra dengan mata yang penuh kejujuran.
"Iya, Mas. Enggak apa-apa, kok. Tapi, aku heran ... kenapa Mas sampe semarah itu padahal Papimu hanya memperkenalkan dirinya saja. Aku hanya berjabat tangan sebagai rasa hormatku kepada orang yang lebih tua. Lagipula aku tidak tahu kalau Pak Nero adalah Papimu," balas Naya dengan mengeluarkan semua rasa penasarannya yang sempat ia pendam.
"Naya, Cukup! Berapa kali aku harus katakan padamu. Pria itu bukan Papiku! Kenapa kamu terus menyebut kalau pria itu adalah Papiku?" sangkal Kivandra tentang argumen Naya mengenai Pak Nero.
Gleuk!
Naya tertegun begitu mendengar suaminya yang menyangkal. Saat ini Naya hanya terdiam dengan debaran jantungnya yang lumayan cepat. 'Mas, mau sejahat apapun Pak Nero. Dia tetap Papimu. Kamu jangan terlalu membencinya seperti itu,' batin Naya berbicara dengan mata yang masih konsisten menatap mata suaminya.
"Aku minta maaf," tutur Naya. Ia kembali mengalah agar pertengkaran di antara mereka tidak panjang.
"Sudahlah, lupakan. Sekarang, kamu mau tahu apa lagi tentang masa laluku?" tanya Kivandra tanpa ekspresi.
"Sudah cukup, Mas. Mulai sekarang aku tidak peduli lagi tentang masa lalumu. Karena sejak awal, aku tidak ingin tahu tentang masa lalumu. Bagiku yang terpenting adalah masa depan kita bersama si kembar. Itu sudah lebih dari cukup. Dan ya, satu lagi ... mulai sekarang, Mas harus bisa move on. Cobalah untuk membuka hati dan memaafkan Pak Nero. Oke lah, jika kamu tidak mau menganggapnya sebagai Papimu. Setidaknya kamu maafkan kesalahannya. Kita tidak pernah tahu, apa maksud Papimu datang menemuimu." Naya memegang kedua pipinya dan tersenyum manis.
"Sayangnya, pria itu tidak akan pernah mau mengakui semua kesalahannya apalagi untuk meminta maaf. Kamu tahu, alasan dia muncul kembali karena--" Kivandra tidak meneruskan ucapannya.
"Karena apa, Mas?"
'Karena pria itu penasaran denganmu,' batin Kivandra dengan sorot mata yang sendu.
__ADS_1
"Loh, Mas ... kamu bengong?" Naya yang melihat Kivandra bengong, langsung menjentikkan jarinya sembari bertanya.
"Lupakan. Kita istirahat saja."
"Hah? Di sini?" Naya terlonjak kaget sampai ia yang berdiri, dari yang tadinya duduk.
"Loh, kamu ini gimana sih? Aku sudah pesan kamar ini. Tanggung lah, dari pada kita pulang, mending kita tidur di kamar hotel ini aja. Anggap saja kita lagi honeymoon untuk anak ke 3," kekeh Kivandra dengan menyipitkan matanya.
"Ish, kamu ini." Naya reflek memukul pelan lengan suaminya.
"Galak amat sih," rengek Kivandra seraya mengusap lengan yang dipukul sang istri.
"Lagian, kamu asyik mikirin honeymoon."
"Memangnya kenapa?"
"Pake tanya lagi. Kamu harus ingat, Mas. Adeela sama Adeena ada di rumah. Masa kita malah enak-enakan tidur di hotel."
"Enggak apa-apa, sekali-kali boleh lah. Kamu jangan cemas, di rumah ada Mami, Grandpa dan yang lainnya juga. Malam ini kamu fokus saja sama aku. Kita bikin dede bayi yang ketiga ya," goda Kivandra dengan mencolek dagu sang istri.
"Astaga, pikiran kamu sampe ke situ. Ya enggak lah, Sayang. Aku tidak pernah terbayang-bayang sama masa lalu. Mungkin kamu kali yang sekarang teringat mantan," canda Kivandra dengan memutar balikkan argumen.
"Idih, siapa? Memangnya Mas tahu siapa mantan aku?" tantang Naya dengan alis yang dinaik-turunkan.
"BURHAN," tebak Kivandra secara sembarangan.
"Haha, apaan. Siapa Burhan? Yang aku tahu Burhan itu tukang cuanki tahu," kekeh Naya dengan tawanya yang lepas.
"Oh, salah ya?" Kivandra turut tertawa melihat istri kecilnya yang tertawa terbahak-bahak seperti itu.
"Ya, salah lah. Mantan aku itu kamu, Mas. Mantan pacar maksudnya."
"Tunggu dulu ...." Kivandra terlihat sedang berpikir.
"Apa?" Naya yang awalnya tertawa langsung berhenti dan menunggu jawaban suaminya.
__ADS_1
"Emang kita pernah pacaran ya?" celetuk Kivandra dengan wajah yang tanpa dosa.
Deg!
Naya tiba-tiba merasa tersentil jantungnya begitu sang suami mengatakan itu. Ia benar-benar malu setengah mati karena apa yang dikatakan Kivandra memang benar. Bahwa mereka tidak pernah berpacaran. Mereka menikah pun hanya karena dijodohkan. Atas dasar nurut sama orang tua.
Tak kuasa menahan malu, Naya pun melompat ke ranjang dan menarik selimut. Kemudian ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia benar-benar tersembunyi akibat rasa malunya itu.
Sementara itu, Kivandra hanya tertawa kecil menyaksikan tingkah lucu sang istri. Padahal ia tidak berniat untuk membuatnya malu, akan terapi pertanyaannya itu secara tidak langsung telah mematahkan rasa kepercayaan dirinya. Kivandra tidak berani membuka selimut sang istri, sebab ia tahu kalau saat ini wajahnya sudah merona bak kepiting rebus.
Setelah beberapa menit kemudian, Naya mulai memberanikan diri untuk membuka selimutnya. Dengan mata yang celingukkan ke sana ke mari, ia tidak melihat suaminya. Sontak, kedua matanya langsung terbelalak dengan sempurna.
Naya beranjak dari duduknya dan hendak mencari keberadaan sang suami. Namun, pada saat dia hendak turun dari ranjang tiba-tiba kedua tangan kekar tiba-tiba lingkar di perutnya. Tentu, Naya yang merasa tubuhnya dipeluk dari belakang langsung menoleh ke belakang. Dan lagi-lagi, matanya membulat.
"Sudah puas sembunyi-nya?" sindir Kivandra dengan menaik-turunkan alisnya.
"Siapa yang sembunyi? Aku enggak sembunyi kok. Aku hanya tiduran bentar," Naya mengelak.
"Oh gitu, ya udah kalau begitu kita tidak usah pindah kamar. Kita tidur di kamar ini saja,"
"Enggak mau. Aku mau pindah kamar! Kalau Mas enggak mau, ya udah Naya pulang aja ke rumah. Berikan kunci mobilmu!" pinta Naya dengan ekspresi yang merajuk.
"Haha, kamu ini terkadang lucu dan gemesin. Kebiasaan ini yang selalu membuatku makin cinta sama kamu," puji Kivandra dengan mencubit pelan kedua pipinya.
"Alah, bullshit," gumam Naya dengan suara yang sangat pelan.
"Kamu bilang apa?"
"Enggak ada." Naya berlari keluar kamar menuju meja resepsionis.
"Hei, tunggu!" Kivandra turut berlari mengejar sang istri.
****
Stay tune :)
__ADS_1