Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 27 > Tantangan Alice


__ADS_3

Jantung Naya seperti tertusuk tombak. Rasanya sakit namun tidak berdarah. Entah perasaan apa itu, apa aktingnya terlalu mendalami sehingga dia merasa sakit hatinya? Naya menatap Alice dengan mata yang berkaca-kaca seakan ingin menangis.


"Sepertinya suamiku pernah memberi tahuku akan hal ini, tapi aku memilih untuk tidak mendengarkannya. Karena bagiku, masa lalu adalah hal yang tak pantas untuk dikenang dan dibahas lagi. Aku tidak keberatan jika suamiku pernah berhubungan badan denganmu, Nona. Itu sisa kelamnya, aku tidak ingin memperumit masalah. Terima kasih telah memberi tahuku tentang hal ini, sebaiknya Nona pulang. Suamiku sebentar lagi akan datang, pintu keluar terbuka lebar. Silakan." Naya mengusir Alice dengan lembut.


"Ck. Apa kau pikir Kivan akan menerimamu sebagai istrinya? Jagan mimpi! Aku tau hubungan kalian itu hanyalah pura-pura, agar aku tidak mengejar Kivan lagi. Kau dengarkan aku baik-baik! Aku akan merebut kembali berlian yang kau rampas dariku! Kau tidak akan bisa menang dariku!" tegas Alice dengan kesal.


"Ini bukan permainan! Aku tidak masalah jika aku kalah nantinya. Kalah bukanlah akhir dari segalanya. Asal Nona Alice tahu saja, cinta tidak pernah ada yang tahu kapan dia datang dan kapan dia pergi. Begitupun dengan suamiku. Saat ini suamiku tidak mencintaiku tapi aku yakin cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Cinta sejati itu hadir disaat sebuah ikatan sudah dimulai, dan ikatan itu adalah pernikahan. Jika Nona Alice bersikeras ingin merebut suamiku maka lakukanlah, aku tidak pernah takut kehilangan. Aku percaya jika aku memang berjodoh dengan suamiku maka sekeras apapun Nona Alice berusaha, suamiku akan kembali padaku. Semangat berjuang!" timpal Naya panjang kali lebar.


Ini pertama kalinya dia mengatakan sesuatu yang begitu panjang. Dia tidak ingin berdebat dengan wanita yang keras kepala seperti mantan suaminya. "Okay, kita lihat nanti. Akan kurebut suamimu! Kau akan menyesal karena telah membiarkan aku mengambil suamimu." Alice tertawa licik.


"Aku tidak pernah menyesali sesuatu yang aku katakan. Apapun hasilnya nanti, aku akan menerimanya." Naya membalas senyuman Alice.


Melihat itu, Alice membalikkan badannya dan pergi dari kamar Naya. Begitu Alice berada di luar kamar Naya, dia berpapasan dengan Kivandra. Sorotan matanya yang tajam membuat Alice sedikit tertegun. "Hai, Tuan tampan. Istri palsumu itu sedang menunggumu," ujar Alice seraya berjalan melewati Kivandra.


"Dasar gadis murahan! Apalagi yang dia perbuat kali ini." Kivandra bergegas memasuki kamarnya.


Pada saat dia masuk, dia melihat Naya tengah menggerutu seraya menghentak-hentakkan kakinya. "Berani sekali dia memberi tahuku tentang hal menjijikan seperti itu! Apa dia pikir aku ini gadis bodoh apa? Aku tahu jika dia berbohong. So-soan mau mengambil Tuan muda dariku. Heuh, tidak akan kubiarkan wanita tak beretika itu mengambil suamiku! Tidak akan!" ucap Naya penuh emosi.


Naya tidak menyadari jika saat ini suaminya tengah berdiri dengan menahan tawanya. Kivandra tiba-tiba memeluk Naya dari belakang dan membuat Naya tersentak dengan matanya yang membulat. Begitu Naya menoleh ke kanan, dia bertatapan dengan mata indah Kivandra. Dia menelan salivanya.


"**-tuan muda," panggil Naya dengan gelagapan karena gugup.


"Apa yang wanita berbisa itu katakan padamu? Apa dia menyakitimu?" tanya Kivandra dengan lembut.


'Apa ini? Kenapa suara Tuan muda terdengar begitu lembut. Mungkinkah dia sedang menjahiliku agar aku baper?'

__ADS_1


"Haha, lihat wajahmu! Kau tersipu malu saat aku bertanya seperti itu. Apa kau mulai menyukaimu, Gadis kocak?" skak Kivandra.


"Sudah kuduga." Naya tersenyum kecut.


"Apa? Apa yang kau duga?"


"Sudah kuduga kalau Tuan muda itu adalah bunglon! Lepaskan aku!" Naya memalingkan wajahnya.


Bukannya melepaskan, Kivandra malah mengeratkan pelukannya. "Jawab dulu pertanyaanku! Setelah itu aku akan melepaskanmu," timpal Kivandra.


"Aku akan menjawabnya, duduklah dulu. Aku juga mau menanyakan sesuatu pada Tuan muda."


"Baiklah." Kivandra melepaskan pelukannya.


Begitu Kivandra melepaskan pelukannya, Naya bukannya duduk di sofa untuk bercerita melainkan Dia berlari ke kamarnya. Naya mengunci pintu kamarnya. "Hei! Gadis kocak! Berani kau menipuku seperti ini!" pekik Kivandra.


***


"Aku yakin, aku sangat yakin. Jika Grandpa bertanya kau katakan saja jika aku sedang mengurus sesuatu jangan kau beri tahu grandpa jika aku sedang mengurus Alice, mengerti?"


"Baik, Tuan muda. Bagaimana dengan Nona muda, apakah Nona muda sudah mengetahui tentang masalah ini?"


"Saya belum memberi tahu Naya, dia mengunci pintu kamarnya. Saya tidak bisa masuk. Gadis itu telah menipuku," timpal Kivandra.


"Apa, Nona muda berani melakukan itu pada Tuan muda, haha." Farel tertawa mendengar ucapan tuannya.

__ADS_1


"Kau tau, Farel? Gadis itu semakin hari semakin menyebalkan. Aku bisa tidak waras jika terus berhadapan dengannya." Kivandra menegadahkan kepalanya.


"Wah, sepertinya Tuan muda memang berjodoh dengan gadis itu. Kalian pasangan yang menggemaskan," ledek Farel.


"Hei, Farel! Jaga ucapanmu!" pekik Kivandra dengan kesal.


"Jangan terlalu membencinya, Tuan muda. Ingatlah, benci dan cinta itu beda tipis. Jangan sampai Tuan muda menjadi bucin pada Naya," celetuk Farel.


"Wah, sekarang kau menjadi menyebalkan seperti gadis itu. Pergilah! Akan kukabari nanti jika Naya sudah siap."


"Siap, Tuan muda. Jangan lupa lakukan malam pertama dulu sebelum kalian berpisah." Setelah mengatakan itu, Farel langsung berlari menuju pintu. Dia yakin jika tuannya akan marah.


"Hei! Awas kau! Berani meledekku seperti ini!" teriak Kivandra.


Naya yang saat ini sedang di kamar pun mulai bosan, dia hendak mengambil ponselnya yang berada di sofa. Begitu dia membuka pintunya, Kivandra ada di depan pintu kamarnya dan membuat Naya terkejut sampai tubuhnya hendak jatuh. Seperti biasa, sebelum hal itu terjadi, Kivandra menopang tubuh Naya dengan tangan kekarnya.


Kedua mata mereka saling bertemu dan saling memandang satu sama lain. Matanya tak berkedip begitupun dengan Tuan muda Kivandra. Setelah puas tatap-tatapan, Naya pun membenarkan posisinya.


"Maafkan Naya, Tuan muda." Naya melangkah mundur agar tidak terlalu dekat dengan suaminya.


Kivandra tidak menjawab ucapan Naya, dia melangkah maju mendekati Naya. Tatapannya begitu dalam membuat Naya ketar-ketir. Kini wajahnya merona karena malu.


"Tuan muda mau ngapain? Jangan mendekat!" Naya tidak bisa melangkah mundur lagi, kini tubuhnya sudah menempel dengan dinding kamarnya.


Kivandra mengunci tubuh Naya dengan kukungannya. "Berani kau menipuku! Takkan kubiarkan kau menipuku lagi!" Kivandra mendekatkan wajahnya ke wajah Naya.

__ADS_1


'Matilah! Kali ini apa yang akan Tuan muda lakukan. Ini tidak aman bagi jantungku.'


***


__ADS_2