
DEG!
Jantung Farel seketika berhenti begitu mengetahui jika Yumna tengah hamil. Ia juga terkejut bukan main setelah Naya menyuruhnya untuk menikahi Yumna, yang jelas-jelas tidak tahu siapa ayah dari bayi dalam kandungan wanita itu. Pria itu diam seribu bahasa. Pikirannya berkelana mencoba mengingat apakah ia pernah melakukan kesalahan atau tidak dengan Yumna. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ia teringat ketika ia pernah dijebak dalam satu kamar bersama Yumna oleh Alice.
"Mungkinkah hari itu kita melakukannya? Enggak, aku rasa itu tidak terjadi? Tapi, bagimana Yumna bisa hamil sedangkan ia sibuk menghabiskan waktunya untuk bekerja di rumah Tuan Kivandra? Haruskah aku bertanya padanya mengenai hal ini?" Farel bermonolog dalam lamunannya.
"Yumna, kamu sudah sadar?" tanya Naya yang sedari tadi tengah memperhatikan Yumna.
"Nyonya, saya kenapa?" alih-alih menjawab, Yumna justru balik bertanya sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Tadi kamu pingsan, Yumna. Apakah akhir-akhir ini kamu sering merasakan hal aneh?" Naya menatap serius ke arah Yumna.
"Hal aneh? Hal aneh apa, Nyonya? Memangnya saya kenapa?"
"Sejujurnya ada yang harus kami beri tahukan padamu, Yumna. Bukan begitu, Farel?" Naya mengalihkan tatapannya ke arah Farel.
"Ya, Nyonya."
"Beri tahukan saha, Nyonya."
"Kamu harus tenang ya. Sebenarnya Dokter bilang kamu hamil," jelas Naya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Sudah kuduga, semua ini akan terjadi. Aku sudah telat hampir mau 2 bulan," ucap Yumna dengan nada yang lirih.
"Jadi, kamu menyadarinya?"
"Ya, Nyonya. Selama ini, aku sangat cemas memikirkan hal ini akan terjadi. Dan benar saja, ketakutan dalam diriku terjadi sekarang." Yumna menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kemarilah. Kamu yang sabar, ya." Naya memeluk Yumna.
"Yumna, siapa ayah dari bayi dalam kandunganmu ini?" celetuk Farel dengan wajah yang tegang.
"Menurutmu siapa? Apakah kamu pernah melihatku pergi dengan pria lain selain dirimu?" skak Yumna seraya melepaskan pelukan majikannya.
"Jadi benar, hari itu kita--"
"Ya, Farel. Sepertinya Alice tidak berbohong. Kita memang melakukannya hanya saja kita tidak sadar."
"Tunggu! Apa maksud kalian? Apa semua ini ada hubungannya dengan Alice?" Naya kebingungan dengan pembicaraan Farel dan Yumna.
"Ya, Nyonya. Alice yang telah menjebak kita berdua. Kami pikir kami hanya dijebak dan tidak melakukan hal itu. Tapi, nyatanya ucapan Alice benar. Kami melakukannya. Entah bagaimana bisa kami berdua tidak mengingat kejadian itu sama sekali. Yang kami ingat, kami bangun sudah keadaan tel*njang bulat," jelas Yumna panjang lebar.
"Yumna, ikut aku! Ada yang ingin aku katakan padamu." Farel menarik lembut lengan Yumna dan membawanya keluar.
__ADS_1
****
Taman belakang rumah sakit ....
Yumna dan Farel tengah duduk di kursi panjang dengan kedua matanya yang saling menatap satu sama lain. "Yumna, sebelumnya aku mau tanya." Farel memegang Bahu wanita itu.
"Ya, tanya saja."
"Apa benar yang kamu katakan tadi pada Nyonya Naya, kalau bayi dalam kandungan kamu ini anakku?" tanya Farel sembari menatap manik Yumna begitu lekat.
HUFT!
Yumna menghela napas panjang. "Apakah kamu meragukanku? Apa kamu mengira kalau aku berbohong?"
"Tidak. Bukan begitu, aku tidak mengatakan hal itu. Aku hanya bertanya untuk memastikannya, apakah ada yang salah dengan pertanyaanku?"
"Bukankah ini semua ini sudah jelas, Farel? Apa yang yang mau kamu tanyakan, heum? Jika memang kamu meragukanku maka kamu tidak perlu tanggungjawab, karena aku akan menggugurkan bayi ini!" tegas Yumna dengan wajah yang kesal.
"YUMNA!" bentak Farel dengan mata yang menyorot tajam.
"Kenapa? Apa kamu keberatan? Aah, ****! Kamu tidak akan keberatan sama sekali, toh ini bukan anakmu. Sekarang, pergilah! Aku ingin sendiri!" Yumna dengan terang-terangan mengusir Farel dari hadapannya.
"Hei, tenanglah. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Maafkan aku," tutur Farel dengan lembut sembari menangkup pipi Yumna.
Tubuhnya merosot ke bawah dengan kedua tangan terus memukuli perutnya sendiri. Ia menangis tersedu-sedu, sehingga membuat bahunya naik turun. Melihat itu, Farel langsung memeluk tubuh Yumna. Sesekali ia mengelus punggung wanita itu.
"Maafkan aku, Yumna. Aku mohon jangan sakiti bayi ini. Bayi ini tidak berdosa. Semua ini kesalahan kita berdua," ujar Farel sembari memohon agar Yumna tidak melukai bayi dalam kandungannya.
"Kamu tidak memahami perasaanku, Farel. Kamu hanya merasa iba saja padaku. Lepaskan aku, sekarang aku perempuan hina. Jauhi aku! JAUHI AKU!" teriak Yumna dengan air mata yang terus berjatuhan membasahi wajahnya.
"Sstt! Jangan katakan itu, aku mohon." Farel menempelkan jari telunjuknya di bibir Yumna. Kemudian dia menggelengkan kepalanya disertai tatapan yang lembut.
"Tinggalkan aku, Farel! Biarkan aku sendiri. Pergilah," tutur Yumna dengan tatapan yang sendu.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Biar bagaimanapun juga bayi dalam kandunganmu adalah anakku. Aku tidak ingin kamu menyakitinya. Jadi, jangan paksa aku untuk pergi karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" tegas Farel dengan tatapan yang cukup tajam.
Mendengar itu, Yumna yang awalnya menangis mendadak berhenti. Kemudian ia menyeka air matanya dan matanya membulat dengan sempurna. Ia tidak menyangka jika Farel akan mengakui bayi dalam kandungannya secepat ini. "Farel, apa kamu sadar dengan perkataanmu ini?"
"Ya, Nona. Aku sangat sadar. Jadi, berhenti bersikap keras kepala. Pikirkan bayi dalam kandunganmu ini. Dia adalah anakku, aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkanmu apalagi membiarkanmu menyakiti anakku ini." Farel memegang perut Yumna.
Tentu, Yumna terkejut kala tangan kekar Farel yang tiba-tiba memegang perutnya. Yumna mengedip-ngedipkan matanya sambil menelan salivanya. 'Apa ini? Dia mengakui bayi ini sebagai anaknya?' batin Yumna berkata.
Farel membantu Yumna untuk bangun. Kemudian ia mendudukkan wanita di kursi. Sementara itu, ia berjongkok dengan tangan yang masih mengelus-elus perut Yumna. "Rel, jangan seperti ini. Lihatlah, mereka sedang melihat ke arah kita." Yumna merasa tidak nyaman ketika mereka berdua menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Abaikan saja."
"Tapi--"
Muach!
Farel tiba-tiba mencium perut Yumna. Lagi-lagi kedua bola matanya terbelalak dengan sempurna. Di satu sisi ia merasa senang karena Farel mau mengakui bayi dalam kandungannya. Akan tetapi, perasaannya saat ini benar-benar sangat gugup. Sehingga wajahnya seketika berubah menjadi merona bak kepiting rebus.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Bangunlah!"
Farel berdiri dan duduk di sebelah Yumna. Ia menarik tengkuk Yumna dan menatapnya begitu dekat sehingga tidak ada jarak diantara mereka. "Dengarkan aku, Yumna. Mulai hari ini, kamu dan bayi ini adalah milikku! Aku akan menikahimu," jelas Farel dengan tatapan yang serius.
Yumna tertegun begitu mendengar ucapan Farel. "Haha, apakah kamu bercanda, Tuan Farel?" Yumna tertawa seakan tidak mempercayai ucapan Farel.
"Kamu tidak bisa menikahi wanita kotor sepertiku, Farel. Aku tidak ingin kamu menikahiku. Bagiku, mengakui bayi ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih." Yumna menitikkan air mata sembari beranjak dari duduknya.
"Tunggu! Aku belum selesai bicara, Yumna!" Farel memegang erat tangan Yumna.
Yumna menghentikan langkahnya. Namun, ia tidak berbalik badan hingga Farel melingkarkan tangannya di perut Yumna serta menariknya ke dalam dekapannya. "Jangan pergi! Dengarkan aku dulu," bisik Farel di telinga Yumna.
"Lepaskan aku, Farel!" Yumna melepaskan tangan Farel yang sedang melingkar di perutnya itu dengan paksa. Kemudian ia membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Farel.
"Aku akan menikahimu, Yumna. Aku berjanji."
"Tidak, Rel."
"YUMNA! Kamu jangan keras kepala! Pikirkan bayi dalam kandunganmu ini!" Farel mencengkram bahu Yumna.
"Kamu tidak perlu cemas, aku tidak akan menyakiti bayi ini. Bagiku ini sudah cukup, kamu tidak perlu menikahiku! Sebab aku--"
"Apa? Kamu kotor? Ck! Yumna, kamu jangan lupa! Kita berdua melakukannya itu artinya kita sama-sama kotor."
"Bukan itu, Rel!"
"Lantas, apa yang membuatmu menolakku?"
"Sebab aku tidak pernah menyukaimu! Aku tidak pernah tertarik untuk jatuh cinta padamu, PERMISI!" tegas Yumna seraya meninggalkan Farel.
Yumna berlari sembari meneteskan air matanya. Sementara itu, Farel hanya terdiam dengan mata yang melihat kepergian Yumna. Tak pernah terbesit dipikirannya jika ia akan ditolak seperti ini. Padahal niatnya baik ingin bertanggungjawab atas apa yang telah dirinya lakukan.
****
Stay tune :)
__ADS_1