Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 98 > Pak Bayu Tewas?


__ADS_3

Tak lama setelah mendengar suara minta tolong, Naya kembali mendengar suara di semak-semak disertai gerakan yang mendekati ke arahnya. Tentu saja, mendengar dan melihat hal itu, Naya turun dari batu besar tersebut dan bersembunyi dibalik batu. Tangannya memegang pistol dan mengarahkan pada semak-semak tersebut. Ia mengintip dari balik batu dan menunggu siapa yang datang.


"Naya! Kamu di mana?" seseorang berteriak dengan memanggil nama Naya.


Naya tidak menyahuti panggilan orang itu. Ia masih setia mengintip. Naya takut jika itu hanya jebakan saja agar Naya keluar dari persembunyiannya. Namun, pemikiran itu seketika dipatahkan ketika melihat seorang pria keluar dari semak-semak dengan berlumuran d4rah tepatnya di bagian bahu kanan.


Melihat itu, Naya segera keluar dari persembunyiannya. Tidak peduli pria itu orang jahat atau bukan. Yang terpenting, Naya membantunya. Begitu kakinya sampai di hadapan pria tersebut, bola mata Naya terbelak ke arah pria itu. Ia menjatuhkan pistol yang sedang dia pegang dan menatap pria itu dengan mata yang berkaca-kaca.


BRUGH!


Pria itu ambruk ke tanah tepat di hadapan Naya. "Mas Kivan!" teriak Naya disertai air matanya yang menetes.


Naya mengangkat kepala pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya yaitu Kivandra. Kemudian ia menaruh kepala sangat suami di pangkuannya. Tangan kanan yang terbalut kain dan dibasahi cairan merah pekat itu mengelus lembut wajah suaminya. Kivandra mengangkat wajahnya dan menatap mata istrinya yang terus mengeluarkan lelehan air mata.


Kivandra tersenyum kecil pada saat melihat istrinya baik-baik saja. Tangan kirinya menggenggam tangan Naya dan menciumnya begitu lembut. "Mas, apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu terluka seperti ini?" tanya Naya disertai air mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya.


"Sstt!" Kivandra menempelkan jari telunjuknya di bibir Naya disertai gelengan kepala. "Kamu tidak boleh menangis seperti ini. Aku baik-baik saja," lanjut Kivandra dengan ekspresi yang sedang menahan rasa sakit.


"Maafin Naya, Mas. Semua terjadi gara-gara Naya." Naya memeluk suaminya.


Kivandra sedikit meringis ketika Naya memeluknya. Bagaimana tidak, luka di bahunya terasa begitu sakit dan Naya tidak sengaja menekan lukanya tersebut. "Sayang, tunda dulu ya pelukannya. Kamu bisa bantu aku buat berdiri?" ujar Kivandra agar Naya mau melepaskan pelukannya.


"Iya, Mas. Ayo, Naya bantu." Naya langsung melepaskan pelukannya dan membantu suaminya untuk berdiri.


Kemudian Naya membopong suaminya menuju batu besar yang tadi ia duduki. "Mas baringan dulu di sini. Kita tunggu Pak Bayu, beliau akan mengobati lukamu." Naya membantu suaminya untuk membaringkan diri.


Setelah Kivandra terbaring menahan rasa sakit, ia menatap lekat sang istri. "Siapa Pak Bayu?" tanya Kivandra.


"Akan aku ceritakan nanti, Mas. Intinya Pak Bayu ini yang telah membantu Naya kabur dari tahanan Pak Nero. Jika tidak ada Pak Bayu mungkin sampai sekarang Naya masih menjadi tahanan pria itu," jelas Naya.


"Lalu, di mana Pak Bayu itu?"


"Beliau sedang pergi mengambil tanaman herbal untuk mengobati lukaku, Mas."


DORR!


DORR!

__ADS_1


Lagi-lagi Naya kembali mendengar sesuatu. Kali ini ia mendengar suara tembakan sebanyak dua kali. Wajah Naya mulai pucat pasi. Ia tahu betul jika akan ada seseorang yang datang. Tanpa berlama-lama lagi, Naya mengajak suaminya untuk bersembunyi di balik batu. Mereka tidak akan keluar sampai Pak Bayu datang.


"Mas, kita sembunyi di sini dulu ya. Kita keluar setelah Pak Batu datang. Aku takut itu anak buahnya Pak Nero," tutur Naya dengan tatapan yang lembut.


Kivandra mengangguk dan tersenyum. "Maafin aku ya, Sayang. Seharusnya malam itu aku membawamu bersamaku." Kivandra membalas tatapan lembut Naya.


"Semuanya sudah terjadi, Mas. Yang terpenting aku sudah bebas." Naya tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di bahu kiri suaminya.


"Sayang, kamu tahu? Setiap hari aku selalu mencarimu. Aku hampir putus asa karena bingung harus mencarimu ke mana lagi. Seluruh tempat sudah aku datangi tapi tidak juga menemukanmu. Untunglah Farel mengusulkan untuk masuk ke hutan perawan ini, dan seandainya jika tidak ada yang menelepon dan memberi tahuku bahwa kamu berada di sini mungkin aku tidak akan pernah datang ke tempat ini. Tapi, Alhamdulillah sekarang aku bisa menemukanmu. Cup!" tuturnya yang diakhiri dengan kecupan lembut di kening Naya.


"Alhamdulillah ya, Mas. Naya sangat senang jika Mas beneran datang menjemput Naya. Asal Mas tahu saja, orang yang meneleponmu itu adalah Pak Bayu. Beliau sangat membantu Naya selama ini." Naya mendongak menatap manik suaminya yang lembab.


"Syukurlah kamu bersama orang baik selama ini. Tapi, kenapa dia mau menolongmu? Apa dia termasuk anak buahnya si pria genit itu?"


"Iya, Mas. Tapi, tujuan dia bekerja di Pak Nero hanya untuk membalaskan dendam atas kematian istrinya,"


"Oh iya? Memangnya apa hubungannya denganmu sampai Pak Bayu itu mau membantumu yang mungkin itu akan membahayakan dirinya juga?" tanya Kivandra dengan wajah penasaran.


"Beliau bilang kalau wajahku mengingatkannya pada seseorang dan itu istrinya. Itulah kenapa beliau mau menbantuku."


"Mas ... aku mau memberi tahumu sesuatu,"


"Apa itu, Sayang?" tanya lembut Kivandra.


HUFT!


Naya menghela napas panjang. "Pak Bagas sedang mengincar Grandpa," ujarnya dengan tatapan yang serius.


"Pak Bagas? Maksudnya mengincar apa? Hartanya Grandpa?" tebak Kivandra dengan wajah yang bingung.


"Bukan, Mas. Asal Mas tahu saja, sebenarnya Pak Bagas itu adalah seorang p*mbunuh bayaran yang disewa oleh Pak Nero untuk menghilangkan nyawa Grandpa," jelas Naya dengan memberi tahu suaminya mengenai background Pak Bagas, sang supir di Buana Home.


"Lelucon macam apa ini, Sayang. Ketahuilah, keluarga kita ini bukan keluarga bangsawan ataupun organisasi mafia. Jadi, untuk apa Pak Nero repot-repot menyewa p*mbunuh bayaran? Kamu itu terlalu polos, Naya. Jika dia mau menghilangkan nyawa Grandpa, kenapa tidak lakukan sendiri saja, heum?" kekeh Kivandra dengan memegangi bahunya yang masih terasa sakit.


"Mas, aku serius! Saat ini aku tidak sedang membuat lelucon. Mas ingat 'kan, malam itu Grandpa diserang penyusup? Mas tahu siapa penyusup itu?"


"Siapa?"

__ADS_1


"Pak Bagas,"


"Enggak. Itu tidak mungkin, Naya! Sudah cukup, jangan asal bicara tanpa bukti. Jangan su'udzon sama orang."


"Mas! Sekarang pikir aja gini, di luar Buana Home penjagaan selalu ketat dan bagaimana bisa ada penyusup yang lolos kalau bukan orang dalam yang melakukan itu yang menyamar sebagai penyusup? Jika masih tidak percaya, Mas bisa tanyakan ini nanti pada Grandpa," jelas Naya dengan memalingkan wajahnya.


Melihat istrinya yang sedikit merajuk, membuat Kivandra tersenyum kecil seraya mengelus rambut sang istri. "Aku hanya bercanda, Sayang. Sebenarnya aku sudah tahu hal ini, jauh sebelum kamu mengatakannya. Sudah lama aku dan Farel mencurigainya."


"Loh, jadi, Mas hanya pura-pura tidak tahu? Mas nge-prank aku? Biar aku jelasin lagi padahal Mas sudah mengetahuinya?" Bola mata Naya menyorot tajam pada manik Kivandra.


"Hehe, sudah lama Mas tidak membuatmu merajuk seperti ini. Mas merindukannya. Muach!" Kivandra mengecup gemas pipi Naya.


"Nona Naya! Non! Non di mana?" teriak pria yang diduga itu suara Pak Bayu.


Mendengar itu, Naya segera keluar dari balik batu dengan membopong tubuh suaminya. Pak Bayu reflek bersiap untuk memanah Kivandra. Ia tidak tahu jika pria yang ada di sebelah Naya adalah suaminya. Sebelumnya Naya sudah memberi tahu nama suaminya akan tetapi tidak dengan menunjukkan fotonya. Pak Bayu mengira itu adalah salah satu anak buah Pak Nero yang terluka dan Naya mencoba untuk membantunya.


"Jangan, Pak Bayu! Ini Mas Kivan, suamiku!" tegas Naya dengan melindungi suaminya.


"Maaf, Tuan. Saya pikir Tuan adalah salah satu dari anak buah Tuan Nero." Pak Bayu segera menyimpan kembali panahnya.


"Tidak apa-apa, santai aja." Kivandra tersenyum kecil.


DORR!


BRUGH!


Tiba-tiba sebuah tembakan tepat mengenai kaki Pak Bayu sehingga membuat tubuhnya jatuh ke tanah. Melihat itu, reflek Naya dan Kivandra bersiaga dan mencari tahu dari arah mana tembakan itu berasal. Naya menodongkan pistol untuk berjaga-jaga. Tak lama setelah itu, datang segerombolan orang bersenjata dari arah depan.


Mereka bertepuk tangan melihat Kivandra dan juga Naya. "Rupanya kalian bersembunyi di sini! Dan kau, Bayu! Kau telah mengkhianati Tuan Nero dengan membantu wanita ini melarikan diri jadi, kau harus terima konsekuensinya!" tegas salah satu dari anak buah Tuan Nero.


DORR!


Pria itu m*nembak tepat di bagian kepala Pak Bayu hingga tewas di tempat dengan darah yang mengalir deras di kepalanya. "TIDAK!" Naya berteriak histeris dengan tubuhnya perlahan merosot ke lantai. Ia benar-benar shock melihat kejadian mengerikan ini terjadi begitu cepat.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2