
"Kk-kenapa Tuan muda menidurkanku di ranjang? Apa yang akan Tuan muda lakukan?" tanya Naya sedikit gelagapan karena takut.
Tuan muda Kivandra mendekatkan bibirnya di telinga Naya. "Aku akan menghukummu atas apa yang telah kau lakukan!" bisik Kivandra.
Naya bergidik mendengar bisikan suaminya. "Apa maksud Tuan muda? Naya tidak melakukan apa-apa, seharusnya Tuan muda yang dihukum karena Tuan muda lebih memilih pulang bersama mantan kekasihmu dari pada istri kampungmu ini." Naya mulai kesal, dia pun memukul dada bidang suaminya.
"Aku tidak pulang dengan Alice! Justru aku telah mencarimu seharian ini. Tapi, apa yang kau lakukan? Kau sibuk bermain ke mall bersama pria lain! Bahkan kau memakai jaket pria itu dan kau menyukai heels pemberian pria lain dari pada heels pemberian Mami! Apa kau menyukai temanku, Chiko?" tuduh Kivandra dengan menunjukkan kekesalannya.
"Aku tidak percaya! Jangan menuduhku seperti itu! Seharusnya Tuan Muda berterima kasih pada Kak Chiko! Jika tidak ada Kak Chiko mungkin aku sudah dinodai oleh ketiga preman itu! Aku tidak percaya jika Tuan muda sudah mencariku seharian. Mana mungkin pria robot sepertimu bisa merasa khawatir pada istri yang norak ini! Jikapun khawatir, itu bukan mengkhawatirkanku tapi khawatir pada harta Grandpa. Ingatlah, Tuan muda bersedia menikahiku karena paksaan Grandpa. Naya tahu jika Tuan muda tidak ingin dicoret dari daftar waris keluarga ini. Meskipun Tuan muda selalu memperlakukanku seperti ini, aku tidak akan mengadu pada Grandpa. Tuan muda bebas mau melakukan apapun tapi satu hal yang harus Tuan muda ingat ...."
"Jangan pernah membandingkan aku dengan kelakuan Tuan muda! Aku bukan wanita gampangan. Kau tahu kenapa aku menerima heels dan juga memakai jaket Kak Chiko? Itu karena aku melindungi statusmu sebagai suami! Aku juga melindungi harga diriku, aku melindungi tubuhku agar tidak dilihat orang lain selain Tuan muda! Jika Tuan muda tidak menyukainya, maka Naya akan mengembalikan heels itu pada Kak Chiko. Aku sudah banyak bicara, biarkan aku tidur. Kepalaku rasanya pusing." Naya beranjak dari ranjangnya. Dia berjalan menuju sofa.
Sementara itu, Kivandra hanya diam tak berkutik. Sejak tadi dia hanya menyimak perkataan Naya yang begitu panjang lebar. Dia kembali mencerna perkataan Naya.
'Apa sikapku terlalu keras padanya, sehingga dia semarah ini padaku? Aku tidak pernah menyangka jika dia akan semarah ini padaku. Selama ini belum pernah ada orang yang memarahiku seperti ini tapi, gadis kocak itu telah memarahi dan menceramahiku sampai aku tidak berkutik sedikitpun.'
__ADS_1
Kemudian Kivandra menoleh ke arah Naya. Saat ini Naya sudah tertidur, Kivandra mengambil selimut di lemarinya dan menyelimuti Naya. Setelah itu, Kivandra berjongkok dan memandangi wajah istrinya.
"Maafkan aku, Naya. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku juga tidak tahu jika kau akan semarah ini. Maaf karena aku tidak menolongmu saat kau dikejar ketiga preman itu. Tidur yang nyenyak, istri kecilku." Kivandra mulai luluh. Dia pun mengelus lembut kepala istrinya.
Kivandra berjalan menuju ranjangnya dan langsung tidur. Tiba-tiba Naya terbangun dan membuka matanya. Rupanya dia belum tidur, dia hanya berpura-pura saja. Dia ingin tahu, bagaimana reaksi suaminya saat dia sedang marah.
Naya tersenyum kecil melihat Kivandra yang sudah tertidur. Sekarang giliran Naya, dia berjalan menuju ranjang suaminya. Dia menyelimuti tubuh suaminya.
"Terima kasih karena sudah berubah dan mengakuiku sebagai istri kecilmu, aku yakin jika kau adalah pria yang baik. Aku akan membantumu keluar dari jeratan masa lalumu," gumam Naya.
***
Pagi ini, seluruh anggota Buana sedang sarapan di meja makan. Tuan Liam dan Mami Thalia menatap ke arah Naya. Tentu saja mereka menatap Naya karena, pagi ini Naya terlihat begitu segar dengan rambutnya yang basah dan wangi begitupun dengan Kivandra. Dia juga tampak segar dari biasanya.
Mereka mengira jika anak dan menantunya ini sudah melakukan hubungan suami istri. Padahal pada kenyataannya, mereka tidak pernah melakukan itu. Kivandra sadar jika Mami dan Grandpa sedang memandangnya.
__ADS_1
"Kenapa Mami dan Grandpa menatapku seperti itu?" tanya Kivandra sembari menikmati menu sarapannya.
"Tidak apa-apa, Mami sama Daddy senang aja melihat kalian sesegar ini. Ini yang selalu ingin Mami lihat setiap pagi. Naya, apakah semalam suamimu bermain dengan kasar?" tanya Mami Thalia pada Naya.
Naya melihat ke arah ibu mertuanya. Dia mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud ucapan Mami Thalia.
Tiba-tiba tangan Kivandra menggenggam tangan Naya. Naya menoleh ke samping, tempat suaminya duduk. "Ada apa?" tanya Naya.
Kivandra mendekatkan bibirnya ke telinga Naya. "Jangan mengatakan apapun jika Mami bertanya tentang malam pertama kita," bisik Kivandra.
Uhuk! Uhuk!
Naya langsung tersedak mendengar bisikan suaminya. Tentu saja melihat Naya yang tiba-tiba tersedak membuat Mami Thalia curiga. "Apa yang kau bisikan, Kivan? Istrimu sampai tersedak seperti itu. Beri dia minum, jangan diam aja!" omel Mami Thalia.
"Ini, minum dulu." Kivandra memberikan segelas air pada Naya. Sementara itu, Naya menatap suaminya dengan tatapan yang lekat.
__ADS_1
***