Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 17 > Pergi Honeymoon


__ADS_3

"Naya, cepat ganti pakaianmu! Malam ini kamu akan berangkat ke negara S!" perintah Mami Thalia.


"Malam ini, Mami?" Naya membelalakkan matanya.


"Iya, malam ini. Kamu jangan khawatir, bukan hanya kamu dan Kivan saja. Mami juga akan menyuruh Farel untuk ikut bersama kalian," jelas Mami Thalia.


"Apa? Saya harus ikut juga, Bu?" Farel terkejut mendengar penjelasan Mami Thalia.


"Iya."


"Tapi, Bu ... bagaimana bisa saya ikut menyaksikan bulan madunya Tuan muda, saya akan menjadi nyamuk nantinya," keluh Farel.


Kivandra menginjak kaki Farel karena kesal. "Apa maksudmu, bicara seperti itu?" Kivandra menyorotkan matanya yang begitu tajam.


"Hehe, maafkan saya, Tuan muda," Farel cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah cukup! Kalian ini, berhenti bercanda! Naya cepatlah ganti pakaianmu! Dan kalian, bantu Naya bersiap-siap!" perintah Mami pada Naya dan pelayan Buana Home.


"Baik, Mami."


"Baik, Bu."


Naya dan pelayan Buana Home pun pergi ke sebuah ruangan khusus mengganti pakaian. Begitu Naya sampai di ruangan tersebut, Naya membelalakkan matanya melihat banyak pakaian branded, tidak. Bukan hanya pakaian, ada sepatu, tas dan aksesoris lainnya.


"MasyaAllah, banyak sekali barang-barang mewahnya." Naya berjalan menuju barang-barang branded itu.


"Semua ini milik, Nona muda. Tuan Liam yang membelikan barang-barang branded ini untuk Nona muda," sahut salah satu pelayan Buana Home.


"Hei, kenapa memanggilku seperti itu? Panggil saja saya Naya," komplain Naya.


"Maafkan saya, Nona muda. Saya hanya menjalankan tugas, saya harap Nona muda tidak merasa keberatan ya. Jika kami memanggil dengan sebutan nama Nona muda saja, maka kami akan kehilangan pekerjaan ini."


"Eum ... baiklah, gimana kalian saja. Sekarang bisa bantu Naya merias diri?" Naya menatap ke arah para pelayan itu.


"Tentu saja, Nona muda."


Sambil menunggu Naya bersiap-siap, Kivandra dan yang lainnya duduk di ruang tengah. "Oh ya, Mami. Kivan mau tanya sesuatu sama Mami." Kivandra menatap serius maminya.


"Iya, tanyakan saja. Kenapa meminta izin seperti itu?"


"Apa Mami yang memasang alat pelacak di mobil Kivan?" tanya Kivandra dengan lembut.


"Apa maksudmu? Alat pelacak apa yang kau bicarakan?" Mami Thalia mengernyitkan dahinya.


"Jadi, bukan Mami yang memasang alat itu?" bukannya menjawab, Kivandra malah balik bertanya pada maminya.

__ADS_1


"Tentu saja bukan, untuk apa Mami memasang alat pelacak di mobilmu. Tanpa alat seperti itu pun Mami sudah tahu keberadaanmu," timpal Mami Thalia.


"Jika bukan Mami, apa mungkin Grandpa yang memasangnya?" tebak Kivandra seraya menoleh ke arah kakeknya.


"Anak nakal!" Mami Thalia menjewer telinga anaknya.


"Aduh, Mami! Sakit, lepasin. Jangan menjewer Kivan seperti ini, Kivan udah dewasa bukan anak kecil lagi," rengek Kivandra.


"Baiklah, Mami lepasin. Awas saja jika kamu bicara sembarangan seperti itu lagi." Mami Thalia melepaskan telinga anaknya.


"Untuk apa Grandpa memasang alat pelacak? Kau itu cucuku bukan musuhku." Tuan Liam menggelengkan kepalanya.


"Jika bukan Mami dan Grandpa ... Kira-kira siapa orang yang berani memasang alat pelacak itu?"


"Berhentilah memikirkan itu, Kivan! Lihatlah, istrimu sudah siap," ujar Tuan Liam seraya menatap ke arah Naya yang baru saja datang.


Mami Thalia langsung beranjak dari duduknya. Dia berjalan menghampiri menantunya. "Hei, Sayang. Kenapa heels-nya tidak kamu pakai?" Mami Thalia menatap ke arah heels yang Naya pegang.


"Gadis norak!" celetuk Kivandra.


"KIVAN! Mau Mami jewer lagi?" ancam Mami Thalia.


"Hehe, tidak." Kivandra menggelengkan kepalanya sembari cengengesan.


"Naya masih takut, Mami." Naya menundukkan kepalanya.


"Sudah, Bu. Semua barang Nona muda ada di koper ini. Saya akan mengambil sepatunya, permisi."


"Mami," panggil Kivandra.


"Apa?"


"Bawalah beberapa heels untuk Naya, biar Kivandra yang membantu Naya belajar memakai heels, bagaimana?" Kivandra menaik-turunkan alisnya.


"Kau yakin?" Mami Thalia menatap Kivandra dengan rasa tidak percayanya.


"Iya, Mami. Percayakan saja sama Kivan, Kivan akan membantu Naya berjalan memakai heels." Kivandra tersenyum seraya menatap Naya dengan tatapan misterius.


Farel merasa jika Tuan muda Kivandra mempunyai niat lain pada Naya. 'Entah rencana apa lagi yang akan Tuan muda lakukan pada Naya. Semoga saja Tuan muda tidak menyakiti gadis aneh itu.'


"Baiklah, Mami percaya. Mami serahkan Naya padamu tapi, kamu harus ingat! Jangan sakiti Naya, jika itu terjadi maka Mami akan mengambil semua asetmu, mengerti!" ancam Mami Thalia.


"Siap, Mami," jawab Kivandra disertai senyuman yang menggoda.


Setelah beberapa menit kemudian, Naya, Kivandra dan Farel pun berpamitan. Mereka diantarkan menuju bandara oleh supir lain Buana Home. Tak lama kemudian mereka pun sudah sampai di bandara.

__ADS_1


***


Tidak terasa 28 jam sudah berlalu, Naya, Kivandra dan Farel sudah sampai di Negara S. Mereka di jemput menggunakan mobil hotel yang Tuan Kivandra pesan. "Tuan muda." Naya memegang lengan Kivandra.


"Apa sih? Enggak usah pegang-pegang!" Tuan muda Kivandra menepis lengan Naya.


"Tak bisakah kita istirahat sebentar? Kepala Naya rasanya pusing sekali. Naya tidak kuat lagi," keluh Naya.


Saat ini, wajah Naya benar-benar pucat. Tubuhnya terlihat sangat lemas. "Tidak bisa! Kita akan istirahat di hotel saja. Ayo cepat! Mobilnya sudah datang," ajak Kivandra dengan berjalan lebih dulu.


Sementara itu, Naya mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan yang melelahkan itu. Dia berjalan di belakang suaminya. Sedangkan Farel, dia berjalan di belakang Naya.


***


Di dalam mobil ....


"Tuan muda, apakah perjalanannya masih jauh? Perut Naya mual banget. Ada kantong plastik tidak?" tanya Naya dengan nada lemas.


"Astaga, gadis ini berisik sekali. Tak bisakah mulutmu diam dan tidak menanyakan apapun? DASAR BURUNG BEO!" cibir Kivandra seraya memasangkan earohone di telinganya.


Saat ini, Kivandra dan Naya duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Farel duduk di kursi penumpang sebelah kursi kemudi. Tiba-tiba kejadian tak terduga terjadi, Naya tiba-tiba memuntahkan isi perutnya di jas suaminya. Naya sudah tidak tahan lagi menahan rasa mual di perutnya.


Naya memang gadis yang suka mabuk dalam perjalanan. Itulah kenapa sejak tadi dia mengeluh terus dan meminta kantong plastik. Kivandra terperanjat sampai kepalanya terbentur.


"Gadis kocak! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras, hah? Kenapa kau mengotori pakaianku?" tanya Kivandra dengan sedikit berteriak.


"Maafkan Naya, Tuan muda. Naya tidak tahan lagi," ucap Naya.


"KELUAR!" bentak Kivandra pada Naya.


Naya terlonjak kaget mendengar bentakan suaminya. "Tuan muda, pakailah mantelku. Biar nanti saya yang mencucinya," ucap Farel.


"Diam Farel! Aku sedang bicara sama gadis kampungan ini!" tegas Kivandra pada Farel.


"Pak, stop!" ucap Kivandra pada supir dengan berbahasa Inggris yang fasih.


Mobil pun berhenti. "Tunggu apalagi? Cepat keluar!"


"Tapi, Tuan muda. Naya teh tidak tahu jalan menuju hotel. Bagaimana jika Naya tersesat?" Naya menatap Kivandra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Saya enggak peduli! Cepat keluar!" bentak Kivandra.


Naya pun keluar dari mobil. "Jalan, Pak!" perintah Kivandra pada supir setelah istrinya keluar dari mobil.


"Tuan muda, bukankah ini sangat keterlaluan? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nona muda? Jika Tuan Liam tau ini, Tuan Liam akan marah besar," ucap Farel dengan mengingatkan tuannya.

__ADS_1


"Selama kau tutup mulut Grandpa tidak akan tau!"


***


__ADS_2