
Alice berjalan memasuki rumah Yumna. Namun, sesampainya di depan pintu, Alice membisikkan sesuatu ke salah satu anak buahnya. Setelah itu ia masuk dan kembali menutup pintunya. Anak buah Alice masih tetap setia berdiri di depan pintu.
Sementara itu, Farel yang sudah berniat untuk nerobos masuk pun tiba-tiba dikejutkan dengan suara nada dering telepon masuk. Kemudian ia menghentikan langkahnya dan merogoh saku jasnya serta melihat ke arah layar ponsel. Mengetahui jika Tuan Kivandra yang menghubunginya, dengan cepat dia segera mengangkat telepon tersebut.
Telepon terhubung!
"Hallo, Tuan," sapa Farel setelah telepon tersambung.
"Rel, kamu di mana? Apakah ada sesuatu yang mencurigakan dari Yumna?" tanya Tuan Kivandra to the point.
"Tidak ada, Tuan. Hanya saja ada sedikit masalah di rumahnya," jawab Farel.
"Apa itu?"
"Hanya masalah kecil, Tuan. Saya bisa mengatasinya."
"Baiklah, saya percaya penuh padamu. Ingat, jika kamu perlu bantuan atau apa pun itu, kamu hubungi saya. Hubungi saya jika ada hal yang mencurigakan!"
"Pasti itu, Tu-"
Bugh!
Belum selesai Farel menjawab ucapan Tuan Kivandra, tiba-tiba kepalanya dihantam dari belakang. Hal itu membuat pandangannya menjadi gelap dan seketika langsung ambruk tak sadarkan diri.
"Hallo, Rel. Farel, kamu baik-baik saja?" terdengar Tuan Kivandra masih bicara di seberang telepon.
"Tutt!" Namun, tidak ada jawaban apa pun sebab salah satu anak buah Alice langsung memutus sambungan teleponnya.
Telepon terputus!
****
"Mas, ada apa?" tanya Naya sembari menyajikan sarapan untuk suaminya.
"Tidak ada, Sayang." Kivandra tersenyum kecil.
"Mas, yakin? Mas tidak sedang menyembunyikan sesuatu 'kan?" Naya menatap suaminya cukup lekat.
"Tidak ada, istri kecilku. Sudah, ayo kita sarapan." ajak Kivandra dengan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Naya pun mengangguk seraya duduk di sebelah sang suami. Mereka pun sarapan bersama. Meski Naya masih sangat penasaran, tapi ia memilih untuk tidak bertanya lagi. Wanita itu tidak ingin jika suaminya marah hanya karena masalah kecil.
Beberapa menit setelah sarapan bersama, Kivandra berpamitan untuk pergi bekerja. Seperti istri pada umumnya, Naya mencium tangan suaminya dan memeluk suaminya sebelum pergi. Setelah melepas kehangatan di pagi hari, Kivandra pun akhirnya pergi.
Naya mengantarkan suaminya sampai depan. Setelah melihat sang suami pergi dengan mobilnya, ia kembali masuk ke rumah untuk bermain bersama putri kembarnya.
****
Byuurr!
Alice menyiram wajah Yumna dan juga Farel yang seketika langsung tersadar. Saat ini keduanya sedang mengamati sekelilingnya yang sudah jelas-jelas jika mereka sudah berada di salah satu kamar yang tidak mereka kenali sama sekali. Benar, saat ini mereka tidak sedang berada di rumah Yumna. Padahal mereka ingat betul bahwa tempat terakhir yang keduanya datangi adalah kediaman Yumna. Namun, entah bagaiamana bisa mereka bisa berada di dalam satu kamar.
Melihat Farel dan Yumna sudah sadar dan menunjukkan kebingungannya, Alice justru tersenyum sinis seraya berjalan mengambil sesuatu. Setelah itu, ia kembali menghampiri mereka dengan membawa beberapa pakaian dan tanpa aba-aba sekali pun, Alice seketika langsung melempar beberapa pakaian tersebut tepat di depan muka keduanya. Tentu saja hal itu membuat keduanya semakin terheran-heran.
Hingga beberapa detik kemudian, kedua bola mata mereka sekejap langsung terbelalak dengan sempurna kala menyadari jika tubuh mereka hanya tertutup selimut saja. Benar-benar memalukan, mereka saat ini tidak mengenakan sehelai benang pun. Dan sialnya mereka tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
Menyadari jika tubuhnya sudah kotor, tangisan Yumna mulai pecah. Dia tidak menyangka jika hal menjijikkan seperti ini akan dia alami. Dia sangat yakin jika insiden ini pasti ulah temannya sendiri yaitu Alice. Dengan lelehan air mata serta amarah yang sedang memuncak, Yumna bergegas mengenakan seluruh pakaiannya dan menghampiri Alice.
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah Alice. "Alice!" bentak Yumna dengan menarik kerah kemeja Alice.
"Gila lu, Alice! Gue ini teman lu sendiri dan lu tega ngejebak gue kek gini apalagi sama Farel? Di mana hati nurani lu, Alice? Di mana?" Yumna bertanya dengan suara yang membentak.
"Hello, Yumna! Lu 'kan sudah tahu banyak soal gue. Makanya jadi orang jangan belagu! Gue sudah memperingatkan lu, tapi apa yang lu lakukan selama ini, hah? Lu malah enjoy sedangkan gue justru tersiksa dengan perasaan gue sendiri terhadap Kivan!"
"Tersiksa lu bilang? Lalu bagaimana dengan nasib gue, hah? Lu seenaknya ngancam gue dengan menyakiti bokap gue. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bokap gue hampir kehilangan nyawanya akibat ulah lu, Alice! Dan sekarang ... lu tega nodai tubuh gue dengan jebakan lu sendiri. Gue bersumpah, gue tidak akan pernah mau maafin lu apalagi menjalankan misi lu itu!"
Alih-alih marah, Alice justru tertawa dengan suara yang begitu lantang. Kemudian tatapan Alice tertuju pada beberapa anak buahnya yang berada di pintu kamar tersebut. Dalam anggukan sekali saja, anak buahnya langsung masuk kamar dan berdiri tepat di belakang Alice.
Mengetahui itu, Farel langsung turun dari ranjang sembari memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing. "Yumna, sebaiknya kita pergi dari sini," Farel mengajak Yumna karena sekarang perasaannya sudah tidak enak.
"Enggak, Rel. Gue masih enggak terima, gue harus bicara empat mata dengan Alice. Jika lu mau pergi, maka pergilah!" Yumna menolak ajakan Farel sebab dia masih sangat marah dan tidak terima tentang apa yang dia alami saat ini.
"Ya udah, kalau begitu gue tunggu di mobil," ujar Farel sembari berjalan menuju pintu. Namun, belum sempat Farel keluar dari kamar itu tiba-tiba beberapa anak buah Alice menghadangnya.
"Biarkan dia pergi! Alice, masalah lu hanya sama gue, lu jangan melampiaskan kekesalan lu sama Farel. Dia tidak tahu menahu di sini. Dia hanya nganterin gue doang," ujar Yumna dengan sedikit memelas agar Farel dibebaskan.
"Ck. Lu pikir gue akan percaya gitu aja, hah? Ingat! Gue bukan wanita bodoh yang bisa lu kelabui gitu aja. Sekarang lihat, apa yang akan terjadi sama pria itu karena berani ikut campur!" tegas Alice dengan kedua matanya yang berubah menjadi merah pekat. Itu menunjukkan jika Alice sedang marah.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan ucapan Alice, Yumna segera menarik lengan Farel dan hendak membawanya keluar. Namun, sekali lagi hal itu tidak terjadi karena Alice menghampiri Yumna dan menjambak rambutnya. Sehingga membuat Yumna meringis kesakitan. Tentu, Farel yang melihat itu langsung menepis tangan Alice dengan kasar disertai wajah yang merah padam menahan amarah yang kian memuncak.
"Berani kamu sakiti dia, aku akan--"
"Akan apa?" Alice memotong pembicaraan Farel.
"Lu pergi dari sini! Biar gue atasi mereka." Farel menyuruh Yumna untuk pergi.
"Enggak! Ini masalah gue. Gue harus atasi sendiri." Yumna menolak Farel mentah-mentah.
"Drama banget! Kalian ikat pria itu di kursi dan beri dia pelajaran!" perintah Alice kepada anak buahnya.
"Baik, Bos." Tanpa membuang waktu lagi, semua anak buah Alice langsung menyergap tubuh Farel dan menghajarnya secara bersamaan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Berkali-kali Farel dipukuli dengan brutal. Pukulan itu mendarat di wajah, dan perut tepat di hadapan Yumna. Sementara itu Yumna hanya bisa berteriak histeris tak tega melihat Farel dipukuli seperti itu. Setelah puas, mereka mengikat tubuh Farel di sebuah kursi.
"Sekarang giliran lu, Yumna!" Alice menoleh ke arah Yumna yang sudah sedikit ketakutan.
"Enggak! Jangan nekat lu, Alice! Gue bisa laporin lu ke polisi!" Yumna mengancam Alice.
Mendengar itu, ia hanya tertawa kecil disertai tatapan yang menyeramkan. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, anak buahnya sudah tahu apa yang akan dilakukan. Mereka mendekati Yumna yang saat ini berada di sebelah Farel.
"Rel, gua takut. Ayo bangun! Dan hajar mereka!" teriak Yumna di sebelah Farel yang sudah babak belur.
Kemudian tangan Yumna di seret oleh salah satu anak buah Alice. Tubuh pria itu benar-benar kekar, sehingga membuat Yumna kesakitan. Berkali-kali Yumna mencoba melepaskan diri akan tetapi tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria itu.
"Selamat bersenang-senang! Gue tunggu di bawah!" Alice berjalan menuju pintu.
Namun, belum sampai di pintu ia kembali membalikkan badannya. "Oh iya, bokap lu aman. Gue enggak akan cabut perawatan medisnya. Sebagai gantinya lu puasin semua anak buah gue. Gue cabut!" Alice menyunggingkan senyuman licik sebelum ia pergi meninggalkan temannya sendiri.
"Jangan pergi lu, Alice! Alice!" teriak Yumna dengan suara yang lantang.
****
__ADS_1
Stay tune :)