Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 74 > Kebaikan Naya


__ADS_3

Di ruang tengah ....


Naya berjalan menuju ruang tengah sembari membawa secangkir teh hangat untuk Farel. Sesampainya di ruang tengah, ia melihat Farel tengah duduk sembari memegangi pipinya yang lebam. Kemudian Naya memberikan teh hangat tersebut kepada Farel.


"Rel, ini kamu minum dulu teh hangatnya," ucap Naya.


"Eh iya, Nyonya. Terima kasih atas kebaikan Nyonya," timpal Farel dengan senyuman kecil sembari menerima teh hangat tersebut.


"Ayolah, Farel. Sudah cukup lama kamu memanggilku Nyonya. Panggil saja aku Naya seperti dulu. Jujur panggilan itu membuatku risih," protes Naya pada Farel.


"Statusmu sekarang sudah menjadi istrinya Tuan Kivan. Apakah pantas jika aku memanggilmu dengan nama saja? Rasanya itu sangat tidak sopan. Mungkin Nyonya belum terbiasa saja, nanti lambat laun Nyonya akan terbiasa. Benar begitu, Nyonya Kivan?" Farel menggoda majikannya dengan kedipan mautnya.


"Kamu ini ya. Udah, diminum tuh teh hangatnya. Nanti keburu dingin enggak enak."


"Siap," jawab Farel dengan langsung meminum teh hangat tersebut.


"Aku tinggal bentar, kamu tunggu di sini!" Naya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan kerja suaminya.


Farel hanya menunggu majikannya sembari menatap kepergian Naya. Selesai meminun teh hangat, badan Farel merasa agak enakan. Hanya saja rasa ngilu di wajahnya masih ia rasakan.


Tak lama kemudian, Naya kembali dengan membawa kotak P3K beserta es untuk mengompres luka Farel sebelum ia obati. Wanita itu kembali duduk di sebelah Farel dengan menaruh kotak obat tersebut. Tanpa rasa canggung sama sekali, Naya sudah bersiap untuk mengobati Farel.


"Rel, tahan dikit ya. Mungkin ini akan terasa sedikit sakit," ujar Naya sambil bersiap untuk mengompres Farel.


"Eh, Nyonya. Saya bisa obati luka saya sendiri. Saya jadi tidak enak, Nyonya terlalu baik sama saya," timpal Farel dengan rasa canggung.


Tentu saja Farel merasa canggung, sebab Naya adalah majikannya. Selain itu, usia Naya jauh lebih muda darinya. Dan yang paling berbahaya adalah paras Naya yang begitu cantik. Ia takut jika hatinya akan bergetar ketika mendapat perhatian seperti ini. Biar bagaimana pun Farel ini pria single dan wajar saja jika ia jatuh hati pada seorang wanita.


"Assalamu'alaikum," ucap seorang pria yang baru saja masuk.


Terdengar jelas jika suara salam tersebut sangat tidak asing. Benar, pemilik suara itu adalah Kivandra. Tentu, mendengar suaminya pulang Naya langsung menaruh es batunya dan berlari ke arah suaminya.


"Wa'alaikumsalam, Tuan Bunglon." Naya berlari untuk menyambut sang suami.


Setelah berhadapan dengan suaminya, Naya langsung memeluk tubuh atletis suaminya. Meski merasa heran dengan tingkah istrinya yang terkadang manja dan terkadang cuek. Kivandra tetap membalas pelukan hangat sang istri.


"Tumben istri kecilku ini manja ... apa yang kamu inginkan? Kamu mau gift?" tanya Kivandra dengan menangkup kedua pipinya.


Naya menggelengkan kepala. "Lupakan itu, Mas ... mending kamu lihat keadaan Farel sekarang, ayo." Naya menarik lengan kekar suaminya dan mengajaknya ke ruang tengah.

__ADS_1


Kivandra menuruti perkataan sang istri dengan mengikuti langkahnya. Begitu sampai di ruang tengah, pria itu terkejut bukan main pada saat melihat kondisi Farel. Bagaimana tidak, Farel tidak pernah babak belur seperti ini. Namun, kali ini ia melihatnya dengan sangat jelas jika wajahnya benar-benar terluka.


"Rel, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Kivandra dengan kedua mata yang membulat dengan sempurna.


Kemudian, Kivandra duduk di sebelah Farel. Ia menatap tajam orang kepercayaannya, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebelum menjawab, Farel menoleh ke arah Naya terlebih dahulu. Mengetahui hal itu, Naya mengerti jika Farel akan memberi tahu kan sesuatu kepada suaminya. Dengan itu, Naya berniat pergi, agar mereka bisa bicara dengan leluasa.


"Mas, aku ke kamar Yumna dulu ya." Naya berjalan meninggalkan ruang tengah dan menuju ke arah kamar Yumna.


Dan benar saja, begitu Naya pergi, Farel langsung menceritakan semua yang ia alami bersama Yumna. Ketika Farel sedang asyik menceritakan kronologinya, ia melihat kedua tangan majikannya mengepal dengan wajah yang merah padam, menandakan jika emosi pria itu sedang memuncak.


"Jadi, semua ini ulah Alice?"


"Benar, Tuan," jawab Farel disertai dengan anggukan kecil.


"Tapi, apa yang membuatnya senekat ini? Aku pikir dia akan berubah seiring berjalannya waktu tapi, apa ini? Dugaanku salah selama ini," ujar Kivandra.


"Begini, Tuan ... dari yang aku dengar tadi bahwa Alice tidak akan pernah melepaskan Tuan. Dan dia ingin Yumna melakukan sesuatu agar Tuan dan Nyonya berpisah," jelas Farel disertai tatapan yang serius.


"Lantas, apakah Yumna bersedia melakukannya?"


"Tidak, Tuan. Yumna tidak berniat melakukan itu. Tapi--"


"Jika Yumna tidak melakukan itu untuk Alice, maka nyawa ayahnya akan melayang. Hal itu yang membuat Yumna benar-benar bingung. Di satu sisi dia tidak ingin melakukannya akan tetapi dia juga harus menyelamatkan ayahnya. Kalau boleh aku meminta bantuan Tuan untuk melindungi ayahnya dan menanggung biaya perawatan medis ayahnya. Karena, jika saja masalah ini tidak segera diatasi maka dengan terpaksa Yumna menerima perintah Alice untuk mencelakai Nona Adeela dan Adeena," Farel menjelaskan semuanya kepada Kivandra.


"Jangan cemaskan itu, beri tahukan saja di mana ayahnya dirawat. Besok aku akan meminta bantuan Grandpa untuk memindahkan ayahnya ke rumah sakit yang lebih baik dan aman dari Alice. Katakan pada Yumna untuk tetap berhati-hati dan jangan gegabah. Aku akan coba untuk percaya padanya."


"Baik, Tuan. Akan aku beri tahu nanti,"


"Ya sudah, sekarang biar aku yang obati lukamu ini." Kivandra dengan cepat mengambil alih pekerjaan istrinya.


'Syukurlah Nyonya muda tidak jadi mengobatiku. Kalau Tuan tidak datang tepat waktu, habis udah hatiku ini,' Farel bermonolog dalam lamunannya.


****


Ceklek!


Naya membuka pintu kamar Yumna sekaligus masuk secara perlahan. Setelah berada di kamar tersebut, ia melihat Yumna masih terbaring tak sadarkan diri. Naya benar-benar bingung dengan kondisi Yumna, sebab wanita itu hanya mengenakan dalaman saja.


Naya menarik sebuah kursi dan mendudukinya tepat di sebelah ranjang Yumna. Kemudian dia menyelimuti Yumna dengan sangat lembut. "Malang sekali nasibmu, Yumna. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," ucap Naya dengan nada lirih.

__ADS_1


Tanpa Naya sadari, air matanya menetes ketika melihat luka lebam di keningnya. Reflek, ia mengelus lembut kepala Yumna dengan penuh kasih sayang. Rasa ibanya semakin besar sehingga membuat Naya beranjak dari duduknya dan berlari mengambil es batu beserta kotak P3K.


Beberapa saat kemudian Naya kembali ke kamar Yumna dengan membawa es batu beserta obat. Tanpa berlama-lama, ia segera mengobati lukanya Yumna. Wanita itu mengobati Yumna dengan pelan dan sangat hati-hati. 


"Aaww!" Tiba-tiba Yumna sadar dan meringis kesakitan pada saat lukanya diobati oleh Naya.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar Yumna," Naya mengucapkan rasa syukur karena Yumna telah sadar.


"Nyonya? Bb-bagaimana bisa aku ada di rumah ini? Bukankah tadi aku berada di-- ... oh iya, di mana Farel? Apakah dia baik-baik saja?" Yumna tiba-tiba bangun dan langsung menanyakan Farel dengan wajah yang panik.


"Tenanglah, Yumna. Farel baik-baik saja. Dan yang membawamu adalah Farel sendiri, sekarang beristirahatlah. Lukamu baru saja diobati." Naya menyuruh Yumna untuk kembali beristirahat.


"Tapi, Nyonya ... aku harus menemui Farel. Ada hal yang ingin aku tanyakan,"


"Baiklah. Aku akan menyuruh Farel untuk menemuimu di kamar. Sekarang, kamu pakai pakaian terlebih dahulu. Sebentar aku ambilkan." Naya dengan sikap baiknya mau mengambilkan pakaian untuk asisten rumah tangganya sendiri.


'Ya ampun, lihat ini, Yumna! Wanita yang selalu kamu sakiti dan hendak kamu celakai kini menunjukkan kebaikan hatinya,' Yumna membatin diiringi dengan deraian air mata.


Rasa penyesalan kini mulai menyelimuti hatinya. Ia benar-benar menyesal karena telah berbuat jahat pada Yumna. Sungguh, saat ini ia sangat malu pada Naya. Berbeda dengan Naya, meski Yumna selalu menjahatinya. Tidak pernah terbesit di benaknya jika ia akan menyimpan dendam apalagi membalas perbuatan jahatnya itu.


Sejak kecil, Naya tidak pernah diajarkan untuk membalas kejahatan orang dengan kejahatan juga. Akan terapi Neneknya selalu mengajarkan kebaikan. Naya dianjurkan untuk selalu baik sama siapa pun itu. Itulah yang membuat Naya tidak pernah menyimpan dendam kepada siapa pun yang menjahatinya.


"Pakailah!" Naya menyodorkan 1 set pakaian kepada Yumna untuk dipakainya.


Yumna menerimanya dan dengan cepat ia memeluk tubuh Naya cukup erat. Tentu saja, Naya merasa kebingungan dengan Yumna yang tiba-tiba memeluknya seperti itu. Entah ia merasa takut atau merasa kesakitan akibat lukanya itu yang jelas Naya tidak mempermasalahkan itu. Istri dari Kivandra ini dengan senang hati membalas pelukan Yumna.


"Tenanglah, Yumna. Kamu aman di sini. Kalau boleh aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kamu dan Farel bisa terluka seperti ini?" tanya Naya di tengah pelukannya.


Deg!


'Jadi, Nyonya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Farel tidak memberi tahunya?' Yumna bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ya sudah, jika kamu tidak ingin cerita tidak apa-apa." Naya melepaskan pelukannya. 


"Cepat pakai pakaiannya, aku akan panggilkan Farel untukmu." Naya mengelus lembut kepala Yumna disertai senyuman yang menenangkan.


Melihat itu Yumna tidak bisa mengatakan apa-apa, terlebih dengan perlakuan Naya yang begitu lembut dan kasih sayang membuatnya diam membisu. Ia belum pernah melihat bahkan menemui wanita sebaik Naya. Tanpa Yumna sadari, kini senyuman indah terlukis di bibirnya dengan pandangan masih tertuju pada Naya yang sudah tertelan pintu.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2