Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 32 > Perubahan Tuan Bunglon


__ADS_3

"Grandpa, ayolah. Kita bicarakan ini lagi besok. Kivan sangat lelah, Kivan baru saja pulang. Besok pagi Kivan ceritakan semuanya, please." Kivan memelas pada Tuan Liam dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Huft!" Tuan Liam menghembuskan napasnya kasar. "Okay, besok pagi Grandpa tunggu jawabannya. Sekarang pergi beristirahatlah. Naya sedang menunggumu!" perintah Tuan Liam.


"Baik, Grandpa." Kivan beranjak dari duduknya dan segera pergi menuju kamarnya.


***


Naya melihat jelas sebuah lipcream dan beberapa noda lipcream di kemeja suaminya. Hatinya sakit namun, Naya masih bisa menahannya. Dia mengambil lipcream itu dan menaruhnya di meja nakas. Dia berusaha untuk tetap berpikir positif, dia sangat yakin jika suaminya tidak mungkin melakukan itu.


Naya segera merapikan pakaian suaminya. Setelah selesai, dia pun mengambil kemeja yang memiliki noda lipcream itu dan keluar untuk dicuci. Begitu Naya keluar dari kamarnya, dia berpapasan dengan Kivandra. Naya yang biasanya selalu bertanya kepada Kivandra, tapi kali ini dia berjalan tanpa menoleh ke arah suaminya sedikitpun. Bahkan dia berpura-pura tidak melihat Kivandra.


Berbeda dengan Kivandra, dia justru keheranan melihat istri kecilnya itu bertingkah tidak biasanya. Dia tidak tahu jika Alice sudah mengusik kehidupan Naya. Kivandra pun memutuskan untuk melanjutkan langkahnya memasuki kamar.


"Hari ini banyak sekali drama yang harus aku hadapi, benar-benar melelahkan." Kivandra menjatuhkan tubuhnya di ranjang super empuknya.


Tiba-tiba tanpa sengaja pada saat dia menoleh ke kiri, tepat ke arah meja nakas. Kivandra melihat sebuah lipcream yang warnanya sama persis seperti bibir Alice saat malam itu. Kivandra terperanjat dan langsung bangun. Dia menyambar lipcream tersebut serta memeriksanya dengan lebih teliti.


Setelah beberapa menit, Kivandra yakin jika lipcream yang tengah dia pegang itu memanglah lipcream milik Alice. Namun, yang membuatnya bingung dan bertanya-tanya, kenapa lipcream milik Alice berada di meja nakas kamarnya? Sambil memikirkan hal itu, Kivandra melihat koper yang sudah kosong.


"Gawat! Naya yang menemukan lipcream ini. Oh iya, tadi aku melihat Naya membawa kemejaku. Aah, ****! Matilah aku, dia pasti melaporkanku pada Grandpa." Kivandra memukul-mukuli kepalanya.


Ceklek!


Pintu kamarnya terbuka dan masuklah Naya dengan rambut yang diikat longgar membuat leher mulusnya terlihat dan membuat Naya terlihat sangat cantik. Kivandra terpesona melihat kecantikan sederhana Naya. Namun, Naya tidak mempedulikan jika saat ini Kivandra sedang memandangnya.

__ADS_1


Naya berjalan menuju lemari untuk mengambil handuk bersih dan pergi ke kamar mandi. Kivandra terus saja memandang Naya sampai Naya masuk ke kamar mandi. 'Kenapa sikapnya dingin sekali? Apakah dia sedang marah padaku?'


Sambil menunggu Naya keluar dari kamar mandi, Kivandra pun membuka kemejanya. Dia akan mandi setelah Naya selesai. Kivandra rebahan sejenak dengan membaca buku tapi, beberapa menit kemudian Kivandra tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya. Tak lama kemudian setelah Kivandra tertidur, Naya keluar dari kamar mandi dengan rambut dan tubuhnya yang dibalut handuk berwarna putih.


Naya mengernyitkan alisnya begitu melihat suaminya tertidur dengan buku menutupi wajah. Naya sudah tidak terkejut lagi melihat dada bidang dan roti sobek suaminya, karena ini bukan yang pertama kalinya dia melihat perut sixpack Kivandra. Naya berjalan ke arah Kivandra.


Naya mengambil buku itu dan menaruhnya di meja nakas. Setelah itu, Naya menarik selimut dan menyelimuti tubuh suaminya. Meskipun Naya sedang kecewa pada Kivandra, dia tetap menunjukkan perhatiannya pada Kivandra karena biar bagaimanapun juga, dia tetap istri sah Kivandra dan ini sebagian kecil dari tanggungjawab seorang istri.


Naya hendak berjalan meninggalkan Kivandra. Namun, tangan Kivandra memegang jari kelingking Naya. Naya menoleh ke arah suaminya. 'Kenapa dia memegang jariku? Apakah dia mengira kalau aku ini Alice?' Naya menatap wajah Kivandra yang masih tertidur.


"Maafkan aku, Gadis kocak," Kivandra mengigo dengan mengatakan permintaan maafnya pada Naya.


"Maaf untuk apa? Apakah Tuan muda menyembunyikan sesuatu dariku?" Naya duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang.


Naya tidak bisa menarik jari kelingking yang tengah dipegang oleh Kivandra. Dia tidak ingin membangunkan suaminya. Sudah setengah jam lamanya, Kivandra belum melepaskan jari Naya. Naya yang saat ini sudah menguap beberapa kali dan matanya sudah sangat mengantuk hingga akhirnya Naya pun tertidur dengan tangan kiri yang dia jadikan bantal untuk kepalanya.


***


"Hoaamm!" Naya menguap dan bangun dari tidurnya.


Begitu dia membuka matanya, alangkah terkejutnya Naya pada saat suaminya sedang memperhatikannya yang masih tertidur. Saat ini Kivandra terlihat sangat rapi, wangi dan tampan. Naya melihat sebuah senyuman terlukis di bibir Kivandra.


'Apakah aku sedang bermimpi?'


Naya mengucek-ngucrek matanya.

__ADS_1


Kemudian Naya kembali melihat Kivandra dengan tatapan yang lekat. Setelah yakin jika ini bukanlah mimpi, Naya pun melangkah mundur sehingga akhirnya dia pun terjengkang dan bok*ngnya mencium lantai.


"Aduh," Naya meringis merasakan sedikit sakit pada bagian bok*ngnya.


Kivandra tertawa kecil melihat tingkah lucu istri kecilnya itu. Sementara itu, Naya hanya memicingkan matanya ke arah Kivandra. "Dasar Tuan Robot!" umpat Naya pelan dengan mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau sedang mengumpat, Nona muda?" Kivandra berjalan menghampiri Naya.


Naya tidak menjawabnya, dia hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Kivandra, dia membantu istri kecilnya untuk berdiri dengan memegang kedua bahu Naya. Naya mengangkat wajahnya, dia menatap singkat Kivandra. 'Apakah saat ini dia sedang berakting? Ini sikap asli atau sikap palsunya?'


"Ekhem ekhem," Kivandra berdehem.


Naya tersadar dari monolognya. Dia pun membalikkan tubuhnya dan membelakangi Kivandra. Kemudian Naya menyentuh dadanya untuk menetralkan debaran jantung yang saat ini sedang berdegup kencang.


"Terima kasih," ucap Kivandra dengan senyuman di bibirnya.


"Hah? Terima kasih untuk apa, Tuan bunglon?" Naya mengerutkan keningnya karena bingung dengan ucapan Kivandra.


"Untuk semuanya. Aku pergi, hari ini aku ada meeting. Oh iya, kau makanlah sarapannya! Aku sudah membuatkan khusus untukmu sebagai tanda terima kasihku padamu." Kivandra melihat ke arah roti yang sudah diberi selai, telur dan keju di atas meja nakas.


Kivandra keluar dari kamarnya. Sementara itu, Naya masih merasa bingung dengan sikap Kivandra yang sedikit berubah. Kemudian Naya mendekati sarapan yang sudah dibuatkan oleh Kivandra. Tiba-tiba Naya melihat sebuah kertas kecil. Naya mengambil dan membacanya.


{Maafkan aku, Gadis kocak. Selama ini aku terlalu kasar padamu, maafkan aku karena aku sudah menyeretmu ke dalam masalahku. Terima kasih sudah mengubahku sikapku. Terima kasih sudah mengajarkan aku hal-hal yang lebih bermakna. Terima kasih sudah membuatku tertawa akhir-akhir ini, terima kasih karena kau sudah membuat hidupku sedikit lebih berwarna. Ini sarapan untukmu, sebagai tanda pertemanan kita}.


"Haha, lucu sekali Tuan bunglon ini. Dia menganggapku sebagai teman. Tapi, enggak apa-apa. Sikapnya pagi ini sedikit romantis." Naya tertawa kecil.

__ADS_1


***


__ADS_2