Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 94 > Titik Terang Keberadaan Naya


__ADS_3

Bayu keluar dari semak-semak dan berlari ke arah Naya. Tangan kanannya segera membungkam mulut Naya. "Sstt! Ini saya, Nona. Buka matamu," ujar Bayu setelah berada di sebelah Naya.


Naya membuka matanya setelah mengenali suara Bayu. "Syukurlah kalau itu, Pak Bayu. Pak, Naya takut di sini. Apakah rumah yang Bapak Maksud masih jauh dari sini?" tanya Naya dengan wajah yang terlihat lemas.


"Ya, Naya. Kita akan sampai kurang lebih empat jam. Sekarang, kita harus bergerak cepat sebelum mereka menemukan kita, ayo." Bayu mengajak Naya untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Naya hanya bisa mengangguk meng-iyakan. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan. "Nona, kamu jalan lebih dulu. Biar saya jagain Nona dari belakang," ujar Bayu dengan mempersilakan Naya untuk jalan lebih dulu.


"Tidak mau, ah. Bagaimana jika hewan buas menyerangku?"


"Tenang. Aku selalu ada di belakangmu, Nona. Lagipula kamu punya senjata. Gunakan itu." Bayu melihat ke arah pistol yang Naya pegang.


"Baiklah." Lagi-lagi Naya hanya bisa mengangguk dan berjalan di depan.


Sedangkan Bayu berjalan di belakang Naya.


****


Beberapa hari kemudian ...


Kivandra, Farel dan juga Chiko masih terus mencari keberadaan Naya yang sampai sekarang belum juga ditemukan. Saat ini mereka berada di ruang kerja Kivandra. Mereka tengah membicarakan strategi yang akan mereka lakukan.


"Menurut kalian, Nero menyembunyikan istriku di mana? Semua tempat sudah kita telusuri termasuk ruang bawah tanah rumahnya juga. Namun, istriku tidak ada. Adalah tempat yang belum kita telusuri?" tanya Kivandra kepada Farel dan Chiko.


"Eumm ... tempat yang belum kita telusuri ... di mana ya kira-kira? Yang pasti tempat itu jauh dari perkotaan, jauh dari warga, tempat itu pasti sangat sepi dan jarang dilalui orang. Lu tahu di mana tempat itu, Rel?" Chiko melempar pertanyaan itu kepada Farel.


"Hanya ada satu tempat gak jauh dari sini dan saya pastikan tempat itu jauh dari pemukiman," jawab Farel dengan pikiran yang tengah berkelana.


"Di mana?" tanya Kivandra dan Chiko dengan serempak. Kedua mata mereka tertuju pada Farel.


"Hutan Perawan, hanya tempat itu yang belum kita telusuri."


"Lu yakin, Rel? Bukankah hutan itu cukup angker dan jarang ada orang yang berani masuk? Lu yakin, papinya Kivan nyembunyiin Naya di sana?"


TAK!


Kivandra langsung menjentikkan jarinya tepat di dahi Chiko. "Dia bukan Papiku, Ko!" Kivandra menyangkal perkataan Chiko mengenai Nero.


"Sorry, Bro." Chiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari cengengesan.

__ADS_1


"Rel, kamu yakin ... jika istriku ada di hutan itu?" tanya Kivandra untuk memastikan keyakinan Farel.


"Saya yakin, Tuan. Tidak ada salahnya 'kan kita coba telusuri hutan itu? Barangkali Nyonya Naya memang berada di sana," jawab Farel.


"Woiiy, Rel. Ini bukan makanan ya yang bisa dicoba. Lu tahu sendiri 'kan gimana rapat dan lebatnya hutan Perawan itu? Jika kita tersesat macam mana?" celetuk Chiko dengan asal bicara.


"Sebaiknya kau jaga perkataanmu itu dulu, karena setelah kita memasuki hutan, kita tidak boleh sembarangan bicara. Jika kau takut untuk menelusuri hutan itu, maka biar saya saja yang menelusurinya," skak Farel dengan gantle.


"Siapa yang takut? Gue enggak takut, jangan sembarangan lu, Rel," bantah Chiko perihal ucapan Farel.


"Sudah, cukup! Sekarang katakan, barang apa saja yang perlu kita bawa?"


"Barang yang wajib dibawa seperti, pakaian dan jaket gunung, sleeping bag, tas carrier, matras, sepatu gunung, tenda, perlengkapan masak, headlamp, kaos kaki, sarung tangan, gaiters, jas hujan, trekking pole, survival kit, dan logistik," Farel menjelaskan secara rinci terbaik barang-barang yang akan dibawa.


GLEUK!


Keduanya tertegun dengan tatapan yang terbelalak kala Farel menjelaskan barang-barang yang harus dibawa. Kivandra dan Chiko memang belum pernah menelusuri hutan ataupun mendaki sebelumnya. Makanya, keduanya sedikit terkejutnya mendengar jawaban Farel.


"Sebanyak itu yang harus kita bawa? Kita mau berapa lama di sana?" tanya Chiko dengan polosnya.


"Kita tidak pernah tahu akan berapa lama di sana. Yang pasti, selama Nyonya Naya belum ketemu kita harus tetap bertahan di hutan itu. Semua barang yang saya sebutkan tadi adalah hal yang wajib dibawa, untuk berjaga-jaga. Kita tidak pernah tahu, seperti apa hutan Perawan itu. Bagaimana, apakah kalian akan ikut?"   Farel menatap ke arah Kivandra dan Chiko.


"Gue ikut aja deh," jawab Chiko dengan nada terpaksa, karena ia merasa tidak enak pada Kivandra. Lagian ia juga sudah berjanji pada sahabat kecilnya itu.


Setelah semuanya sepakat untuk menelusuri hutan Perawan, mereka pun mulai bersiap-siap. Ketika mereka hendak keluar ruangan tiba-tiba ponsel Kivandra berdering tanda ada yang menelepon. Dengan cepat, tangannya merogoh saku untuk mengambil ponsel tersebut. Begitu ponsel berada di dalam genggamannya, Kivandra mengangkat telepon yang entah dari siapa, sebab nomornya tidak dikenali.


Telepon terhubung!


"Hallo," ucapnya begitu telepon telah tersambung.


"Hallo. Bisa bicara dengan Tuan Kivandra Galaxy Dharmendra?" terdengar suara pria dari saluran telepon.


"Iya, saya sendiri. Anda siapa?"


"Tuan tidak perlu tahu siapa saya, yang jelas saya ingin memberikan informasi penting untuk Tuan,"


"Informasi penting? Apa itu?" tanya Kivandra dengan menatap ke arah Farel dan Chiko.


" .... Tutt!"

__ADS_1


"Kau yakin? Hallo, hallo!"


Karena tidak mendengar suara pria itu lagi, Kivandra melihat layar ponsel. Dan benar saja, teleponnya sudah berakhir.


Telepon terputus!


"Aahh, ****!" teriak Kivandra dengan kesal.


Melihat raut wajah sahabat kecilnya tampak kesal, membuat Chiko mengusap pelan bahunya. "Siapa yang telepon lu, Van?"


"Gue kagak tahu, Ko. Yang jelas dia bilang Naya ada di hutan. Dan benar dugaan Farel kalau Naya memang ada di hutan Perawan. Istriku dalam bahaya karena anak buah Nero sedang mengejarnya," jelas Kivandra dengan pipinya yang merah padam.


"Kalau begitu, sekarang juga kita berangkat. Kita harus temukan istrimu sebelum anak buah curut itu yang menemukannya," timpal Chiko.


"Ayo, kita berangkat!" ajak Kivandra dengan keluar dari ruangan itu.


****


Di sisi yang berbeda, tepatnya di hutan Perawan. Saat ini, Naya dan Bayu telah sampai di sebuah rumah kecil yang merupakan milik Bayu. Mereka duduk di dapur dengan menyalakan api unggun kecil agar tubuh mereka tidak merasa kedinginan.


"Bagaimana, Pak Bayu ... suamiku bilang apa? Apakah dia akan datang untukku?" tanya Naya dengan menoleh ke samping.


"Tentu saja, Nona. Kau jangan cemas, suamimu akan datang. Di sini, kau akan aman."


"Apakah Pak Bayu yakin? Bagaimana jika anak buah Tuan Nero berhasil menemukanku di sini? Bukan hanya aku yang akan celaka tapi juga Pak Bayu,"


"Tenanglah ... sejauh ini belum pernah ada orang yang menemukan rumah ini. Jika hal itu terjadi pun, saya akan mengorbankan nyawa saya untukmu, Nona," tutur Pak Bayu dengan tatapan yang menyembunyikan kesedihan.


"Tapi, kenapa? Bapak tidak mengenal saya dan saya tidak mengenal Bapak. Kenapa membahayakan dirimu sendiri demi wanita yang tidak Bapak kenal sama sekali?" tanya Naya dengan raut wajah yang penasaran.


"Wajahmu mengingatkanku akan seseorang. Nona beruntung karena wajahmu itu, saya tergerak untuk membantumu. Jika tidak, kau akan habis ditangan Nero!" tegas Pak Bayu seraya beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Naya.


GLEUK!


Naya menelan salivanya dengan mata tertuju ke arah Pak Bayu yang meninggalkannya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2