
Drrtt! Drrtt!
Ponsel terus bergetar di atas meja nakas membuat si empunya seketika terbangun dari tidurnya. Dengan rasa yang teramat kantuk, wanita bernama Kanaya ini tangannya meraba-raba meja nakas untuk meraih ponselnya. Begitu ponsel berada di genggamannya, ternyata ponsel yang ia genggam bukanlah ponselnya melainkan, ponsel Kivandra.
Terlihat jelas nama Pak Arman di layar ponselnya. Naya sedikit bingung, karena tidak biasanya Pak Arman menelepon suaminya. Meski merasa heran, Naya tetap mengangkat telepon tersebut. Setelah itu, ia menempelkan ponsel di telinga kanannya sebelum ia bicara.
Telepon terhubung!
"Hallo, Pak Arman," sapa Naya begitu telepon telah tersambung.
"Hh-hallo, Nyonya Naya," terdengar suara panik Pak Arman dengan gelagapan.
"Iya, Pak. Ada apa malam-malam begini telepon?" tanya Naya to the point.
"Begini, Nyonya ... tuan Liam kecelakaan," jawab Pak Arman.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Naya disertai rasa terkejutnya.
Mendengar suara terkejut sang istri membuat Kivandra tiba-tiba bangun dari tidurnya. Ia bangun dengan mengumpulkan puing-puing kesadarannya. Setelah terkumpul, ia pun memegang tangan sang istri.
"Ada apa, Sayang? Siapa yang telepon?" tanya Kivandra dengan menoleh ke samping sang istri.
Naya menjauhkan ponsel dari bibirnya serta menutup speaker ponsel dan menjawab pertanyaan sang suami. "Pak Arman, Mas. Katanya Grandpa Liam kecelakaan,"
"Apa? Seriusan kamu?" Kivandra terperanjat begitu mendengar jawaban Naya.
"Iya, Mas. Ini, Mas coba bicara sama Pak Arman dan tanyakan apa yang terjadi sama Grandpa. Telepon masih terhubung." Naya memberikan ponsel yang ia genggam dan memberikannya kepada Kivandra.
Dengan raut wajah yang panik, Kivandra mengambil ponsel itu dan menempelkannya di telinga.
"Pak Arman ... ini saya, Kivan. Istriku bilang Grandpa kecelakaan. Apa itu benar?" tanya Kivandra untuk memastikannya.
__ADS_1
"Benar, Tuan muda. Saya tidak tahu pasti yang jelas saya mendengar teriakan Tuan Liam dan begitu saya cek keadaan Tuan Liam sudah berlumuran darah. Seperti di Buana Home ada penyusup, Tuan muda," jelas Pak Arman di seberang telepon.
"Bagaimana bisa ada penyusup di Buana Home? Jika seperti ini, saya mau perketat penjagaan! Perintahkan semua orang untuk berjaga! Saya akan datang dalam 10 menit! Tutt!" Kivandra memerintahkan Pak Arman untuk memperketat penjagaan. Setelah itu, panggilan dimatikan oleh Tuan Kivandra.
Telepon terputus!
Begitu telepon berakhir, Kivandra dengan cepat beranjak dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Begitupun dengan Naya, ia turun dari ranjang dan mempersiapkan pakaian untuk suaminya. Ia tahu betul jika Kivandra akan pergi ke Buana Home.
Tak lama kemudian, Kivandra keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang menutupi area terlarangnya. Naya mendekati sang suami dengan membawa pakaian yang telah ia siapkan. Dengan cepat, Naya membantu suaminya memakai pakaian.
Tatapan Kivandra sudah sendu dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Mengetahui itu, Naya memegang kedua tangan sang suami disertai tatapan yang lembut. "Mas, semua akan baik-baik saja. Naya akan selalu ada di sampingmu," ucapnya dengan suara yang lembut.
"Terima kasih, Sayang. Ya udah, aku pergi dulu ya. Kamu jagain si kembar dengan baik. Muach!" tutur Kivandra diakhiri dengan mengecup kening sang istri.
Setelah itu, Kivandra berjalan menuju pintu. "Mas!" panggil Naya.
Kivandra yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke arah istrinya. "Iya, Sayang?"
"Boleh Naya ikut? Naya mau tahu keadaan Grandpa," bujuk Naya agar diperbolehkan ikut.
"Baiklah. Kalau begitu, kamu harus pergi bersama Farel, agar ada yang membantumu di sana."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Biarlah Farel tetap di sini untuk menjagamu. Aku harus segera ke Buana Home. Akan kukabari begitu Grandpa sudah dibawa ke rumah sakit."
"Iya, Mas. Hati-hati," ucapnya.
"Iya, Sayang. Aku berangkat ya, Assalamu'alaikum," pamit Ki canda kepada sang istri.
"Wa'alaikumsalam," Kanaya membalas salam suaminya.
Setelah berpamitan, Kivandra pergi dengan diantar oleh sang istri sampai pintu utama. Naya berjalan di belakang suaminya dengan mata terus tertuju pada postur tubuh suaminya. Sesampainya di pintu utama, Kivandra memegang bahu Naya dengan tatapan yang lekat.
__ADS_1
"Do'akan aku, Sayang. Agar penyusup yang telah melukai Grandpa berhasil tertangkap. Jaga dirimu baik-baik. Muach!" Sebelum pergi, Kivandra mengecup kening sang istri.
"Iya, Mas. Mas juga hati-hati, love u."
"Love you too," balas Kivandra dengan membalikkan badannya.
Ia berjalan menuju basement untuk mengambil mobil. Sementara Naya masih menunggu sang suami yang mengambil mobil. Sehingga tak lama kemudian, Kivandra pergi meninggalkan rumahnya dengan mobilnya. Naya yang melihat suaminya sudah pergi, segera masuk ke rumah dan mengunci pintunya.
Naya berjalan menuju dapur untuk mengambil minum sebelum ia melanjutkan ke kamarnya. Begitu sampai di dapur, Naya menyalakan lampu dapur dan mengambil gelas serta mengisinya dengan air putih. Kemudian ia meneguk habis airnya sampai tak tersisa.
Setelah itu, Naya kembali mematikan lampu dan berjalan menaiki tangga. Tinggal beberapa langkah lagi berada di lantai 2, tiba-tiba Naya mendengar ada suara aneh di dapur. Ia menghentikan langkahnya dan terdiam beberapa saat. Naya memejamkan mata agar ia dapat memperjelas pendengarannya mengenai apa yang ia dengar.
Dan benar saja, suara itu semakin jelas dan kali ini Naya kembali ke dapur untuk memastikan bahwa suara apa yang ia dengar barusan. Dengan cepat Naya menyalakan lampunya lagi. Dengan suara langkah kaki yang pelan, ia mulai memeriksa setiap sudut di dapur.
Namun, ia tidak melihat apapun. "Apa mungkin itu suara kucing saja yang sedang cari makanan kali ya. Jika, benar. Kucing itu cukup iseng, udah parno duluan aku," gumam Naya pelan. Ia mengira kalau suara itu adalah suara kucing.
Tak lama setelah Naya mengucapkan itu, terdengar suara pintu utama terbuka. Reflek, Naya menoleh ke arah pintu utama yang cukup terlihat dari dapur. Ia melihat ada seseorang masuk, tapi tidak tahu siapa yang masuk.
"Loh, seingat aku tadi pintunya sudah aku kunci deh. Kok sekarang bisa kebuka gitu? Ini aku yang halu atau Mas Kivan yang balik lagi?" Naya bermonolog dengan mata yang masih tertuju pada pintu utama.
Karena merasa penasaran, Naya akhirnya memutuskan untuk memeriksa sendiri tentang siapa yang datang. "Mas, apa itu kamu? Apa ada yang tertinggal?" tanyanya seraya berjalan pelan-pelan menuju pintu utama.
Namun, sesampainya di pintu utama Naya tidak melihat siapa pun. Yang ia lihat hanyalah pintu terbuka. Naya menggaruk pelipisnya. "Siapa sih yang datang? Iseng banget! Ini enggak lucu. Mas! Aku tahu itu kamu, cepat keluar! Jangan nakut-nakutin Naya kek gini ya!" tegas Naya dengan nada yang kesal.
Saling kesalnya, Naya memberanikan diri untuk keluar dan memeriksa halaman depan. "Tuan Bunglon! Keluar, gak?" Naya terus memanggil nama suaminya. Ia benar-benar mengira kalau orang yang membuka pintu utama adalah suaminya.
Ckiit!
Sebuah mobil tak dikenal berhenti mendadak di halaman depan rumahnya, membuat Naya reflek melihat ke arah mobil tersebut. Ia mengerutkan keningnya kala menyadari jika mobil hitam yang tiba-tiba berhenti itu bukanlah milik keluarga Buana. Menyadari ada yang janggal, Naya bergegas masuk dengan langkah yang terburu-buru.
Sayangnya, sebelum ia berhasil masuk rumah, tiba-tiba dua orang pria bertubuh besar menghadangnya. Dalam beberapa detik salah satu pria itu membekap Naya hingga tak sadarkan diri. Dengan cepat kedua pria berpakaian serba hitam serta masker itu pun mengangkat tubuh Naya dan memasukkannya ke dalam mobil.
__ADS_1
****
Stay tune :)