Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 23 > Kereta Gantung


__ADS_3

Naya menganggukkan cepat. "Iya, Naya teh penasaran sama kembaran Tuan muda. Setampan apa sih kembaran Tuan muda itu?" Naya tersenyum seraya membayangkan jika kembaran Tuan muda Kivandra adalah orang yang lebih tampan dari suaminya.


"Haha, apa kau pikir kembaranku ini manusia? Astaga." Kivandra tertawa bengek seraya duduk dan memegangi perutnya.


Naya kebingungan dengan tingkah suaminya. "Loh, kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu? Apa kembaran Tuan muda itu bukan manusia? Itu artinya ... kembaran Tuan muda itu hantu? Ih." Naya Menggidikkan bahunya membayangkan jika kembaran Tuan muda Kivandra itu adalah hantu. (Benar-benar konyol bukan Naya ini, haha).


"Astaga, kamu ini bicara apa? Haha." Kivandra terus tertawa sampai mengeluarkan sedikit air mata di ujung matanya.


Kivandra memang tipe pria yang kalau tertawa terbahak-bahak selalu mengeluarkan air mata. "Tuan muda nangis? Eh, ini Tuan muda 'kan? Tuan muda tidak kerasukan kembaran Tuan muda? Heii!" Naya mencolek-colek pipi Tuan muda Kivandra. Dia mengira jika Tuan muda Kivandra itu kerasukan kembarannya.


"HUWA!" Kivandra mengejutkan Naya dengan tiba-tiba berteriak dan memasang wajah yang menakutkan serta matanya yang melotot.


"Aargghh!" Naya otomatis langsung menutup matanya dengan kedua tangan.


"Haha, KONYOL!" Kivandra terus menertawakan tingkah konyol istri kecilnya itu.


Perlahan Naya membuka matanya. "Ih, Aa teh ngerjain Naya ya? Nyebelin banget jadi suami." Naya keceplosan. Dia mengerucut bibirnya, membuat seorang Kivandra merasa gemas melihat bibir Naya yang dikerucutkan.


"Eh! Gemesin juga kamu, Gadis Kocak!" Kivandra menyomot bibir Naya dengan gemas.


"Ih, sakit atuh. Jangan nyomot bibir Naya kek gitu!" keluh Naya dengan logat bahasa sundanya yang khas.


"Biarin aja, kamu 'kan istri kecil saya. Saya bebas memperlakukanmu seperti apa saja." Kivandra menaik-turunkan alisnya.


"Ih, apaan sih. Udah ah, Naya mau tidur aja." Naya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjang sebelah ranjang Kivandra.


"Katanya tadi mau tau kembaranku," sindir Kivandra sembari memicingkan matanya ke arah Naya.

__ADS_1


"Enggak jadi! Siapa juga yang mau liat hantu! Enggak asyik!" timpal Naya dengan ketus.


"Siapa bilang kembaranku itu hantu. Dia hidup kok, bisa gerak dan bikin wanita ketagihan," kode keras Kivandra yang memancing kepolosan Naya.


Naya menoleh ke arah Kivandra. Dia mengernyitkan alisnya. "Siapa sih kembaran Tuan muda itu? Apakah ada fotonya? Tunjukkan padaku!" pinta Naya.


"Kemarilah, berikan tanganmu!" Kivandra menahan tawanya. Dia hendak menjahili istri kecilnya sebelum tidur.


Naya pun tidak menaruh rasa curiga sama sekali. Dia menghampiri Kivandra dan memberikan tangan kanannya. "Jangan jahil! Awas aja kalau jahilin Naya lagi, Naya laporin sama Grandpa!" ancam Naya.


"Dasar tukang ngadu! Mulut ember!" cibir Kivandra. "Udah tenang aja, saya enggak jahilin kamu kok," timpal Kivandra.


"Ya udah iya, Naya percaya."


'Yes! Dia kena perangkapku. Akan kubuat kau tidak bisa tidur!'


Naya langsung menarik tangannya dari genggaman Kivandra. Dia langsung berlari ke ranjangnya. Keringat kembali bercucuran di keningnya. 'Apa yang aku pegang barusan? Kenapa kenyal sekali? Apa Tuan muda menaruh jelly di dalam saku celananya?'


Naya tidak tahu apa yang barusan dia pegang, dia benar-benar kebingungan karena sebelumnya dia tidak pernah memegang benda itu. Sementara itu, Kivandra tertawa kecil di balik selimut tebalnya. 'Rasain! Suruh siapa kepo sama kembaranku, haha.'


***


Malam berganti pagi, kini Tuan muda Kivandra, Naya dan Farel tengah bersiap-siap untuk pergi ke gunung M. Kivandra begitu antusias pergi ke gunung M karena selain dia merindukan pemandangannya yang indah, dia pun memiliki sebuah misi yang akan mengocok perutnya dengan terus tertawa. Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat ke tempat wisata.


Setelah beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di sebuah desa yang indah tempat gunung M berada. Untuk menikmati pemandangan gunung M dan desa itu, Kivandra sudah membeli 3 tiket untuk naik kereta gantung. Sebenarnya ada dua kereta, ada yang kereta cable yang sekilas mirip rollercoaster. Ada juga kereta gantung.


Kivandra lebih memilih kereta gantung karena kereta cable sedikit mengerikan dan dia takut untuk menaikinya. Satu tiket kereta gantung kurang lebih 1,5 juta. Bagi Kivandra itu tidak terlalu mahal karena saat menaiki kereta gantung tersebut, perasaannya selalu senang dan takjub akan pemandangan desa dan gunung M itu.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi Kivandra naik terlebih dahulu, setelah itu dia menarik tangan Naya yang berada di belakang Farel. Rupanya sejak sampai di desa yang indah itu, Naya awalnya senang layaknya seperti anak kecil tapi begitu melihat transportasinya nyali Naya langsung menciut. Dia begitu takut melihatnya apalagi untuk menaikinya.


"Naya enggak mau, Tuan muda. Jangan paksa Naya! Tuan muda aja naik, Naya tunggu di sini aja," tolak Naya seraya mengumpat di belakang Farel.


"Ya sudah kalau kamu enggak mau, ayo Farel kita tinggalkan dia di sini. Padahal kita pulang juga akan menggunakan kereta gantung. Jika dia tidak mau makan biarlah. Cepat naik!" perintah Kivandra pada Farel untuk naik. Kivandra sengaja menakut-nakuti Naya agar dia mau naik.


Naya yang mendengar itu langsung ketar-ketir. Mau tidak mau dia harus memberanikan diri untuk naik kereta gantung karena saat ini dia tidak memiliki pilihan lain. Dia tidak ingin ditinggalkan suaminya lagi di negara yang asing ini.


"Tunggu!" Farel yang hendak masuk langsung berhenti.


Kivandra tersenyum kecut. "Okay, Naya akan naik," ucap Naya dengan wajah yang pucat pasi.


"Nah gitu dong, jangan kebanyakan mikir! Buruan naik, nanti saya tinggal!" ancam Tuan muda Kivandra. Dalam hatinya, Kivandra bersorak karena telah berhasil membuat Naya masuk jebakannya lagi.


Naya pun masuk dan duduk berhadapan dengan suaminya. "Tuan muda, saya akan naik kereta gantung yang itu saja." Farel tidak jadi masuk. Rasanya canggung sekali melihat dua sejoli yang bertingkah seperti tom & jerry.


"Loh, kenapa? Kereta ini muat untuk bertiga." Kivandra mengerutkan dahinya.


"Bukan begitu, Tuan muda. Saya hanya tidak ingin menjadi nyamuk untuk Tuan muda dan Nona muda. Selamat menikmati pemandangan yang begitu indah dan romantis. Semangat, Nona muda." Setelah mengatakan itu, Farel langsung kabur dan naik kereta gantung di belakang kereta yang dinaiki tuannya.


"Farel! Awas kau! Akan aku potong gajimu!" gumam Kivandra seraya menutup pintu keretanya.


"Jahat banget jadi orang!" celetuk Naya menyindir suaminya tanpa menoleh ke arah suaminya.


Naya meremaas jemari agar ketakutan dalam dirinya sedikit hilang. Meski begitu, jantungnya mulai berdetak lebih kencang pada saat kereta gantung itu mulai melaju. "Ya Tuhan, semoga kereta gantung ini talinya tidak putus. Naya tidak mau mati karena naik kereta ini." Naya memejamkan matanya.


"Haha, KONYOL!" Kivandra menertawakan ketakutan yang terlihat di wajah Naya.

__ADS_1


***


__ADS_2