Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 28 > Farewell Kiss


__ADS_3

"Bersiaplah, malam ini kau akan pulang bersama Farel!" perintah Kivandra.


"Malam ini?" Naya membulatkan matanya. "Lalu, bagaimana dengan Tuan muda? Apakah Tuan muda tidak akan pulang bersama kami?"


"Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan di sini. Sudah, jangan banyak bertanya! Cepat kemasi barangmu! Farel akan segera datang," ujar Kivandra.


"Baiklah." Naya segera mengemasi barang-barangnya tampak bertanya apapun lagi.


Sebenarnya bukan Naya tidak memiliki pertanyaan, Naya ingin bertanya tapi, suaminya melarang dia untuk bertanya. Entah apa alasan Kivandra tidak pulang bersamanya dan Farel. Apakah ini soal mantan tunangannya, Alice. Semua itu tidak bisa Naya tanyakan.


Naya tidak bisa berhenti memikirkan suaminya, pikirannya selalu saja tertuju pada Kivandra. 'Apa alasan Tuan muda tidak pulang bersamaku dan Kak Farel, apa karena Nona Alice? Apakah Tuan muda masih mencintainya?'


Tak!


Kivandra menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Naya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Kivandra sedikit mengejutkan Naya.


"Euh ... iya, Tuan muda. Tuan muda bilang apa?" Naya tersadar dari lamunannya.


"Tidak, lupakan! Cepatlah! Aku akan mengantarkanmu dan Farel sampai bandara. Jangan cemas, aku akan pulang beberapa hari lagi. Jaga dirimu," ujar Kivandra disertai senyumannya.


"Idih, siapa yang cemas. Jangan geer! Aku tidak akan merindukanmu! Aku akan baik-baik aja, justru aku akan bahagia jika Tuan muda tidak ada di sampingku. Wlee!" Naya menjulurkan lidahnya tanda meledek.


"Dasar Gadis kocak!" Kivandra tertawa melihat tingkah Naya yang layaknya seperti anak kecil.


Setelah beberapa menit kemudian, Naya selesai mengemasi barang-barangnya. Naya tinggal merias wajahnya sedangkan Kivandra sudah keluar dari kamarnya. Farel pun datang menghampiri Kivandra. "Tuan muda, apakah sudah selesai?" Farel menaik-turunkan alisnya.


"Tunggulah sebentar, Naya sedang merapikan rambutnya dulu."


"Eiyy, bukan itu yang saya tanyakan, Tuan muda."


"Lalu, apa yang kau tanyakan?" Kivandra mengerutkan dahinya.


"Malam pertamanya. Apakah Tuan muda sudah melakukan malam pertama?" Farel mengedipkan sebelah matanya.


Puk!


Kivandra melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Farel. "Sekali lagi kau bertanya seperti itu, akan saya potong gajimu 2 kali lipat!" ancam Kivandra dengan bibir menjebik.


"Hei, Tuan tampan. Tenanglah, aku hanya bercanda." Farel tertawa puas.


"FAREL!"

__ADS_1


Seketika Farel yang sedang tertawa langsung menutup mulutnya. "Iya, Tuan muda."


"Ayo, Naya sudah siap." Naya tiba-tiba keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah koper dan tas mininya.


Kivandra dan Farel menoleh ke arah Naya. Kedua mata pria itu terbelalak, mereka terpesona melihat kecantikan Naya. Tidak begitu spesial sih, Naya hanya memoles sedikit wajahnya tipis-tipis dan bibir memakai lip ice membuat kecantikannya terpancar segar. Tanpa make up tebal pun Naya sudah terlihat sangat cantik.


"Apakah kita jadi pulang, Tuan tampan dan Kak jutek?" Naya melipat kedua tangan di dada.


'Wah, Gadis kocak ini cantik juga.'


'Ternyata Nona muda cantik juga, aku yakin jika Tuan muda akan segera luluh hatinya.'


"Ekhem ekhem!" Naya berdehem menyadarkan kedua pria itu yang sedang bermonolog.


"Ayo, aku akan mengantarmu. Akan kubawakan kopermu." Kivandra berdiri dan langsung menyambar kopernya.


"Iya, ayo." Naya cukup heran dengan kepekaan suaminya. Tidak biasanya dia sepeka ini.


Sementara itu, Farel masih merasa heran dengan tingkah tuannya yang langka sekali membawa barang-barang apalagi koper. Tapi, hari ini Tuan muda Kivandra bersedia membawakan koper istri kecilnya. Farel terus memikirkan hal ini seraya berjalan di belakang Tuan muda Kivandra dan Nona muda Naya.


'Mungkinkah Tuan muda sudah mulai menyukai istri kecilnya ini?'


***


"Woah, Nona muda. Kau telah membuat hati seorang Kivandra berbunga-bunga," celetuk Farel.


"Benarkah itu, Mas?" Naya membisikkan dengan nada yang menggoda.


Kivandra merasakan jantungnya berdegup kencang. Tanpa dia sadari senyuman terlukis di bibirnya. "Menggemaskan sekali." Kivandra mencubit kedua pipi Naya dengan gemas.


"Aah, Mas sakit. Pelan-pelan dong, kasar amat mainnya."


"Gadis gila! Kau ini bicara apa." Kivandra memelototi Naya.


Untungnya orang-orang tidak paham apa yang Naya katakan, kalau tidak mungkin mereka akan menjadi pusat perhatian banyak orang. "Haha aku bercanda, Mas." Naya tertawa gemas.


"Sudah, masuklah. Bisa gila saya ngadepin istri kocak kek kamu!"


"Ya udah, Naya pulang ya, Mas. Jangan genit-genit sama Nona Alice, kalau berani genit-genit Naya laporin sama Grandpa!" ancam Naya diakhiri dengan kedipan mata.


"Terserah kau saja!"

__ADS_1


Naya pun membalikkan badannya dan hendak melangkahkan kakinya. Namun, Kivandra menahan tangan Naya. "Tunggu!"


Naya membalikkan badannya, dia menoleh ke arah suaminya. Dengan gerakan secepat kilat, Kivandra menarik Naya ke dalam pelukannya. "Aku melupakan sesuatu." Kivandra menatap lekat Naya.


"Apa itu?"


Cup!


Kivandra tidak menjawab pertanyaan Naya melainkan mendaratkan ciumaanya tepat di bibir Naya. Tentu saja Naya terkejut, matanya dikedip-kedipkan tanpa membalas ciumaan suaminya. Sementara itu, Farel yang melihat adegan tak terduga itu langsung membalikkan badannya.


'Nasib manusia jomblo gini amat.'


"Masuklah, aku akan pergi sekarang. Hati-hati di jalan," ucap Kivandra seraya pergi meninggalkan Naya.


Naya tidak menjawab satu katapun. Dia masih shock dengan perlakuan suaminya. Bagaimana tidak, Naya tentu saja kebingungan melihat sikap suaminya yang terus berubah-ubah. Kadang Kivandra membencinya kadang juga dia menunjukkan sisi baiknya. Naya sampai kebingungan seperti apa sikap aslinya seorang Kivandra.


"Nona muda, butuh berapa lama lagi Nona muda memandang kepergian Tuan muda?" skak Farel.


"Ayo, Kak. Maaf, aku hanya terkejut bukan memandangnya." Naya berjalan memasuki bandara bersama Farel.


***


Di dalam Taksi ...


Kivandra menepuk-nepuk jidatnya sendiri. "Gila! Sepertinya aku sudah gila! Kenapa aku menciumnya?" gumam Kivandra.


Saat ini Kivandra benar-benar merasa sangat malu. Wajahnya merona bak kepiting rebus. Pada saat Kivandra sedang menetralkan debaran jantungnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Begitu Kivandra melihat layar ponselnya, dia melihat nomor tidak dikenal menghubunginya.


Kivandra mengangkat telepon itu, karena takutnya ada hal penting dan bisa saja itu nomor keluarganya. Sebelum mengatakan apapun, Kivandra menempelkan ponsel di telinganya.


Telepon terhubung!


"Hallo," ucap Kivandra begitu telepon tersambung.


Tidak terdengar jawaban apapun. Kivandra menatap nomor teleponnya dan kembali bertanya lagi. "Siapa anda? Jangan main-main dengan saya!"


Sekali lagi, tidak ada jawaban apapun membuat Kivandra kesal sampai dia mematikan teleponnya.


Telepon terputus!


Selang beberapa detik, nomor yang sama kembali menghubunginya lagi. Namun, kali ini Kivandra tidak mengangkat teleponnya. Tak henti sampai di situ, hingga sebuah pesan singkat masuk. Kivandra membuka pesan singkat tersebut. Begitu dia membacanya, alangkah terkejutnya dia saat membaca isi pesan tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2