
Hutan Perawan ...
Saat ini Kivandra, Farel dan juga Chiko telah sampai di hutan perawan. Mereka berdiri tepat di pintu masuk hutan dengan melihat ke arah hutan tersebut. "Tuan, sebelum kita memasukki hutan perawan, ada baiknya kita berdo'a terlebih dahulu," Farel mengingatkan Tuan Kivandra bersama Chiko untuk berdo'a lebih dahulu.
"Ya, ayo kita berdo'a."
Mereka bertiga berdo'a bersama-sama dengan khusyuk. Selesai berdo'a, mereka pun mulai melangkahkan kakinya memasuki hutan perawan. Farel berada di posisi paling depan. Sedangkan Kivandra berada di barisan kedua dan Chiko berada di paling belakang. Perjalanan mereka cukup pelan dengan masing-masing membawa tas carrier.
Wajar saja jika perjalanan mereka cukup lambat karena track-nya cukup sulit. Banyak bebatuan dan juga tanahnya merah serta cukup licin. Selain itu, Kivandra dan Chiko belum pernah masuk hutan ataupun semacam mendaki. Ini kali pertamanya. Meskipun Farel sudah berpengalaman, ia tetap setia menunggu Kivandra dan juga Chiko tanpa meninggalkan keduanya.
"Rel, lu yakin jalur yang kita lalui ini aman? Gimana kalau ada binatang buas tiba-tiba datang?" teriak Chiko dari belakang Kivandra.
Farel yang posisinya berada paling depan hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Matanya melihat ke kiri dan kanan mencari tempat yang nyaman, aman untuk mereka break. Tiba-tiba, matanya melihat ke arah kanan tepat ke arah pohon besar.
"Sebaiknya kita break dulu, ayo." Farel mengajak Kivandra dan juga Chiko seraya berjalan ke arah pohon besar.
"Aish! Gue tanya kagak dijawab sama sekali. Memang kagak ada akhlak tuh mayat hidup!" celetuk Chiko dengan wajah yang kesal.
"Ko, lu jaga omonganmu! Saat ini kita sedang ada di alam bebas. Jangan bicara sembarangan di sini," tegur Kivandra yang mendengar celetukan sahabatnya itu.
Sementara Farel, ia bukannya tidak mendengar celotehan Chiko. Melainkan, ia tidak ingin menggubrisnya sama sekali. Anggap saja angin lalu dan jangan terlalu dimasukkan ke hati. Ia tahu betul pria seperti apa Chiko itu. Baginya, caciannya itu hanyalah sebuah lelucon.
Kivandra dan Chiko duduk di sebelah Farel yang saat ini sudah duduk dan mengeluarkan biskuit. "Kalian makanlah, saya akan mencari sumber air terlebih dahulu," ujar Farel dengan beranjak dari duduknya.
"Ya udah. Kami tunggu di sini, kau jangan lama dan cepat kembali. Ingat! Kami sangat mengandalkanmu," sahut Kivandra dengan menatap Farel.
"Tuan jangan khawatir, saya akan segera kembali." Farel tersenyum sembari membawa 4 botol kosong berukuran 1,8 liter perbotolnya.
"Rel! Kabari gue jika di bawah ada bidadari lagi mandi," teriak Chiko disertai tawanya.
"Ngaco!" timpal Farel dengan menggelengkan kepalanya. Ia bergegas pergi menuju sumber air.
TAK!
Kivandra menyentil dahi Chiko. "Lu jadi orang ngeyel amat sih? Udah gue bilang, jaga omongan lu saat kita di hutan. Ingat, tujuan kita ke sini untuk mencari istriku. Jangan sampai kita kenapa-kenapa karena kesompralan lu itu!" lagi-lagi Kivandra menegur sahabat kecilnya.
"Udah lu tengang aja, parnoan banget jadi laki," ledek Chiko dengan tertawa kecil.
"Gue salah bawa orang. Seharusnya gue kagak bawa lu ke sini." Kivandra memicingkan matanya pada Chiko.
****
"Nona, apa kamu lapar?" tanya Pak Bayu pada Naya yang masih terdiam di dapur dengan api unggun yang masih menyala.
"Jangan cemaskan saya, Pak. Saya tidak lapar. Saya hanya memikirkan suami dan si kembar," jawab Naya dengan raut wajah yang sedih.
"Tenanglah, suamimu akan datang. Mungkin saat ini, dia sudah ada di hutan ini," ujar Pak Bayu dengan sedikit menenangkan Naya.
"Kalau boleh tahu, kira-kira butuh berapa lama untuk suamiku sampai ke rumah ini?"
"Saya tidak tahu, Nona. Karena sejujurnya, rumah ini sulit sekali di temukan."
__ADS_1
"Jika seperti itu, bagaimana suami saya bisa sampai di rumah ini? Bagaikan jika dia tersesat?" tanya Naya dengan nada yang panik.
"Hanya ada satu cara agar suamimu bisa sampai di rumah ini." Pak Bayu menatap serius Naya.
"Bagaiamana caranya?" tanya Naya dengan memasang wajah yang penasaran.
"Aku bawa suamimu ke rumah ini. Tapi--"
"Tapi apa, Pak?"
"Apakah Nona berani sendirian di rumah ini? Sebab, saya harus pergi mencari suamimu kira-kira butuh 8-12 jam saya mencari suamimu."
GLEUK!
Naya tertegun mendengar jawaban Pak Bayu. "Selama itu, Pak?"
"Ya. Karena hutan ini masih perawan. Belum banyak orang yang berani memasuki hutan ini. Dan untuk menelusuri hutan ini butuh berhari-hari. Tapi, akan saya usahakan cari suamimu dan membawanya ke rumah ini. Dan, selama saya pergi kamu harus bisa mengatur makanan yang ada di sini untuk kamu bertahan. Dengarkan aku baik-baik, Nona ... jika dalam waktu 12 jam aku tidak kembali, maka kamu jangan mengharapkan aku akan kembali. Kamu keluar dari rumah ini dan ikuti jalur yang akan aku beri tanda agar kamu bisa keluar dari hutan ini."
"Baiklah. Saya mengerti, saya berharap Bapak berhasil membawa suami saya ke mari." Naya tersenyum.
"Kalau begitu, saya akan berangkat malam ini juga. Selain itu, ada yang ingin saya beri tahukan padamu, Nona."
Naya mengernyit alisnya. "Soal apa, Pak?"
"Pak Bagas. Nona pasti kenal dengan nama itu, benar?" terka Pak Bayu.
"Iya. Saya mengenal nama itu. Memangnya kenapa dengan Pak Bagas?"
"Apa? Bapak serius?" Naya terkejut bukan main. Kedua matanya terbelalak dengan sempurna.
"Ya. Asal Nona tahu saja, saat ini Pak Bagas sedang mengincar Tuan Liam. Nona tahu, siapa yang menyewa Pak Bagas untuk membunuh kakeknya suamimu itu?" Dengan Naya menggelengkan kepalanya.
"Tuan Nero. Dan Nona pasti tahu siapa dia." Pak Bayu menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Jj-jadi ... penyusup yang melukai Grandpa itu Pak Bagas?" tebak Naya dengan sedikit terbata-bata.
"Ya. Sayangnya, semua orang percaya padanya. Tidak ada yang mencurigainya ataupun mencari tahu tentang siapa itu Bagas. Dan kelemahan Tuan Liam adalah selalu mempercayai orang dengan mudah."
"Saya tidak mempercayai Pak Bagas sejak awal dan saya sedang mencari tahu siapa Pak Bagas. Tapi, semua itu gagal karena malam itu terjadi begitu cepat. Saya tidak pernah menyangka jika Tuan Nero akan menculikku seperti ini," Naya menyangkal ucapan Pak Bayu.
"Semua terjadi karena Tuan Nero dan Pak Bagas menyadari jika Nona tahu sesuatu tentang mereka. Selain itu, Nero ingin menjadikan Nona sebagai kelinci percobaan untuk dunia *3**-nya itu. Sebaiknya Nona berhati-hati pada mereka," jelas Pak Bayu dengan kembali memperingatkan Naya untuk lebih berhati-hati lagi.
"Kenapa Bapak lakukan ini? Kenapa Bapak membocorkan semua rahasia besar ini? Padahal Anda sendiri adalah anak buah Nero. Apa untungnya dengan memberi tahu saya seperti ini? Anda tidak akan mendapatkan apapun selain nyawamu yang akan melayang." Naya menatap Pak Bayu dengan ekspresi yang bingung.
Bagaimana bisa seorang anak buah yang bekerja pada Tuan Nero membocorkan semua rahasianya pada target mereka? Apa untungnya? Sebenarnya, siapa Pak Bayu ini?
"Asal Nona tahu saja, saya terpaksa melakukan ini demi membalaskan dendam saya. Beberapa tahun lalu, istriku dihabisi Pak Bagas atas perintah Tuan Nero. Dia bukan hanya membunuh istriku saja melainkan dengan bayi yang ada di dalam kandungan istriku," jelas Pak Bayu dengan menitikkan air mata.
DEG!
Seketika, jantung Naya terasa berhenti beberapa detik setelah mendengar penjelasan Pak Bayu. Saat ini Naya merasa bersalah. Ia tidak enak hati karena sudah berpikiran negatif pada Pak Bayu.
__ADS_1
"Maafkan saya, Pak. Seharusnya saya tidak meragukan Anda dan bertanya seperti itu."
"Tidak masalah. Semua itu sudah terjadi. Sekarang, tujuan saya hanya satu ... saya harus membalaskan dendam saya pada Tuan Nero dan Pak Bagas. Tapi, sebelum itu, saya harus membantu Nona keluar dari hutan ini dan mempertemukanmu pada suamimu. Ingat, begitu Nona keluar dari sini, Nona harus memberi tahu semua orang kalau Pak Bagas adalah seorang pembunuh bayaran. Jangan sampai sesuatu yang pernah saya sesali terjadi pada keluargamu."
"Kalau begitu, ayo kita keluar dari sini dan hari suamiku bersama-sama?"
"Tidak, Nona. Ini terlalu bahaya untukmu. Sebaiknya Nona tunggu di sini."
"Tidak masalah. Aku akan melewati kematian setiap hari demi bisa bertemu keluargaku. Jika suamiku saja rela membahayakan dirinya, kenapa Naya tidak bisa?" Naya menatap tajam Pak Bayu dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, kita akan berangkat malam ini. Sebelum itu, pikirkan kembali keputusanmu ini." Pak Bayu berjalan beberapa langkah dan mengambil sebuah senjata berupa panah dan juga tombak untuk ia bawa nanti malam.
****
Di titik yang berbeda, tepatnya ruangan VVIP di salah satu rumah sakit terkenal. Saat ini Thalia masih setia merawat sang ayah yang masih dalam tahap penyembuhan. Thalia tidak sendirian, ia ditemani oleh Yumna.
Ia duduk di sofa bersebelahan dengan Yumna. "Yumna, gimana si kembar? Apakah para pengasuh itu merawat kedua cucuku dengan baik?" tanya Thalia pada Yumna.
"Alhamdulillah, Non Adeela dan Non Adeena baik-baik saja, Nona. Hanya saja mereka sering memanggil nama Mamanya. Si kembar begitu merindukan Nyonya Naya," jawab Yumna.
"Sudah berhari-hari Naya tidak berhasil ditemukan. Apakah sampai saat ini putraku belum mengabari apapun tentang perkembangan pencarian Naya?"
"Belum, Nyonya. Saya juga sedang menunggu kabar dari Farel."
"Sepertinya, saya harus melakukan sesuatu agar si DS (Daily *3**) itu mau memberi tahukan di mana dia menyembunyikan menantuku. Sudah cukup, Nero membuat kami susah. Kali ini, saya tidak akan membiarkan dia memisahkan Naya dari putraku dan si kembar. Sudah cukup! Saya akan menemuinya. Sekarang, saya titip Daddy padamu. Rawat dia dengan baik dan hubungi saya jika ada apa-apa." Thalia beranjak dari duduknya dan hendak pergi.
"Tapi, Nyonya ... bagaimana jika Tuan Nero menyakiti Nyonya?" Yumna berusaha mencegah majikannya.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."
"**-tha-lia!" panggil Tuan Liam dengan terbata-bata.
Thalia dan juga Yumna sontak menoleh ke arah Tuan Liam yang masih terbaling lemas dengan alat-alat medis yang terpasang ditubuh sang ayah. Thalia yang merasa namanya dipanggil segera berlari kecil menghampiri sang ayah. Kemudian ia duduk di kursi sebelah ranjang ayahnya.
"Iya, Dad. Thalia di sini," ucapnya dengan meneteskan air mata terharu.
Bagaimana tidak, selama berhari-hari ini ayahnya tidak bicara apapun. Pandangannya kosong, kondisinya sangat lemah. Dan hari ini, ia mendengar dengan jelas bahwa sang ayah memanggil namanya. Tentu, itu semua membuatnya sangat senang. Thalia menggenggam tangan kanan Daddy Liam dan menciumnya dengan lembut.
"Maafin Thalia, Dad. Seharusnya malam itu Thalia pulang bersama Daddy." Thalia menangis menyesali semua yang telah terjadi.
"Tenanglah, Putriku. Daddy baik-baik saja. Semua terjadi begitu cepat," ujar Tuan Liam dengan suara yang berat dan kesulitan mengatur napasnya.
"Daddy, sebenarnya siapa yang melakukan ini padamu? Apakah Daddy mengenalnya? Beri tahu Thalia, bila perlu Thalia akan melaporkan kejadian ini pada polisi,"
Mendengar pertanyaan itu, Tuan Liam terdiam. Ia hanya menatap lekat putrinya seakan tatapan itu mengandung arti yang begitu dalam. "Daddy, ayo katakan. Siapa yang melakukan semua ini? Beri tahu Thalia," bujuk Thalia dengan berlinang air mata.
"...."
****
Stay tune :)
__ADS_1