Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 91 > Kivandra Murka!


__ADS_3

CKIIT!


Kivandra menginjak rem mobilnya begitu sampai di gerbang rumah papinya. Ia menunggu beberapa menit agar security membukakan gerbang tersebut. Namun, ditunggu punya tunggu, gerbang itu tak kunjung dibuka. Sehingga membuat si empunya mobil harus keluar dan menyuruh security tersebut untuk membuka gerbangnya.


Meski gerbang tersebut terbuka secara otomatis, tetap saja harus ditekan tombolnya oleh security. Jika tidak ditekan maka sampai malam pun gerbang itu tidak akan terbuka dengan sendirinya. Dengan raut wajah yang kesal, Kivandra menghampiri pos security yang berada di samping gerbang tersebut.


TOK! TOK! TOK!


Kivandra mengetuk kaca pos tersebut sebanyak tiga kali hingga membuat kedua security yang berada di dalam menoleh ke arah Kivandra. "Buka gerbangnya!" perintah Kivandra kepada kedua security tersebut.


Mendengar itu, kedua security itu bukannya menekan tombol untuk membuka gerbangnya, mereka justru saling melempar pandangan dengan kode yang aneh. Kivandra yang dasarnya adalah orang tidak sabaran dan sangat benci bertele-tele, ia kembali mengetuk kaca tersebut dengan keras. "Saya bilang, BUKA!" bentak Kivandra dengan tegas disertai dadanya yang bergemuruh menandakan kalau ia sedang marah.


"Maaf, Tuan muda. Tuan Nero sedang tidak ada di rumah," ucap salah satu security.


"Saya tidak peduli. Saya bilang buka gerbangnya!" Kivandra masih keras kepala ingin memeriksa kediaman Nero.


"Tapi, Tuan muda ... kami ditugaskan Tuan Nero untuk tidak membukakan gerbang kepada siapapun, termasuk Tuan muda."


Kini amarahnya sudah memuncak sehingga tak ada cara lain selain menggunakan cara kasar. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya dan menodongkan ke arah kedua security tersebut. "Cepat buka gerbangnya! Kalau tidak ... saya akan menghancurkan otak kalian sekarang juga!" Kivandra mengancam kedua security tersebut sambil menyunggingkan senyuman.


Namun, kedua security itu masih terdiam. Tampaknya mereka sedikit merasa ketakutan melihat aksi Kivandra yang tak gentar mengancamnya. Tangannya yang kekar dan menonjolkan urat-urat hijau disertai tatapan yang menyeramkan membuat kedua security itu bergidik ngeri sambil tertegun beberapa kali. Posisi mereka saat ini benar-benar dalam bahaya. Ibarat kata, maju kena dan mundur pun juga kena.


"Dalam hitungan ke-tiga kepala kalian akan tert*mbak. Maka putuskan dengan cepat, mau membuka gerbangnya atau nyawa kalian melayang?" Kivandra memberikan pilihan yang sulit disertai dengan ancamannya.


"Satu ... dua ... pikirkan keluarga kalian! Karena setelah kalian m*ti, saya akan mencari keluarga kalian dan menghabisinya satu persatu!" lanjut Kivandra dengan ancaman yang sering dipakai oleh para mafia.


"Tii ... g--"


"Tunggu! Saya akan bukakan!" teriak salah satu security dengan tubuh yang bergetar.


"Bagus. Sekarang, lakukan!" Kivandra menarik kembali tangannya dan kembali menyimpan pistolnya ke tempat semula.

__ADS_1


Dengan cepat security itu menekan tombolnya. Dan secara otomatis, gerbang terbuka lebar. Melihat itu, Kivandra menyunggingkan senyuman kepada mereka. Setelah itu, barulah Kivandra masuk mobil dan melajukannya.


Secara otomatis, gerbang kembali tertutup begitu mobil Kivandra masuk. Kedua security itu merasa dirinya dalam bahaya. Sebab, jika Tuan Nero tahu kalau putranya memaksa masuk ke kediamannya maka sudah bisa dipastikan jika mereka akan pulang babak belur.


"Cepat, beri tahu Tuan Nero kalau Tuan Muda memaksa masuk," perintah salah satu rekannya.


"Tidak. Apa kau sudah tidak waras? Jika kita beri tahu soal ini, kita akan pulang dengan babak belur."


"Pikirkan juga kalau Tuan Nero tiba-tiba tahu dari CCTV, kita juga akan kena masalah. Setidaknya kita sudah berkata jujur. Kalau kau tidak mau, biar saya yang hubungi Tuan." Rekannya itu mengambil sebuah telepon dan menghubungi Tuan Nero.


Awalnya telepon tidak diangkat oleh Tuan Nero. Namun, setelah beberapa detik kemudian, Tuan Nero mengangkatnya. Dengan cepat, ia menempelkan gagang telepon ke telinganya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Tuan. Maaf mengganggu," ucapnya begitu telepon telah tersambung.


"Ada apa?" terdengar suara Tuan Nero dari saluran telepon.


"Begini, Tuan ... sebelumnya kami minta maaf karena kami tidak berhasil mencegah Tuan Muda untuk masuk ke rumah. Kami sudah memberi tahu bahwa Tuan tidak ada di rumah, akan tetapi Tuan Muda bersikeras untuk tetap masuk," jelas salah satu security.


"Tuan muda mengancam kami, jika kami tidak membukakan gerbang maka dia akan men*mbak kepala kami. Dia men*dongkan pistol ke kepala kami begitu dekat. Bukan hanya itu, Tuan muda juga mengancam akan melukai keluarga kami, Tuan. Saya mohon ampun,"


"Ya sudah, biarkan saja dia masuk. Beri tahu dia, saya akan segera datang. Tutt!" Tuan Nero menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban security-nya.


Telepon terputus!


"Bagaimana, apakah Tuan marah?" tanya rekannya.


"Aneh sekali. Biasanya Tuan sangat marah tapi kali ini Tuan tidak menunjukkan kemarahannya sama sekali."


"Syukurlah kalau begitu. Nyawa kita masih aman." Rekannya itu mengelus dadanya merasa lega.

__ADS_1


****


BRAKK!


Kivandra mendobrak setiap pintu ruangan yang ada di rumah Tuan Nero. "Naya! Kamu di mana? Aku datang untukmu. Keluarlah!" teriak Kivandra dengan lantang membuat seluruh pelayan berhamburan datang.


Melihat itu, Kivandra mendekati semua pelayan itu seraya men*dongkan pistol. "Katakan! Di mana istriku?"


"Ii-stri? Dd-di sini tidak ada istrimu, Tuan muda," jawab kepala pelayan dengan terbata-bata karena takut.


"BOHONG! Cepat, beri tahu saya! Di mana Tuanmu itu menyembunyikan Naya, istriku!" bentak Kivandra dengan mata yang sudah berubah merah pekat.


"Saya berkata jujur, Tuan muda. Papimu tidak membawa perempuan mana pun."


Mendengar itu, Kivandra semakin naik pitam. Ia berjalan beberapa langkah ke arah kepala pelayan tersebut seraya terus men*dongkan senjatanya. "Jika sekali lagi kau mengatakan dia Papiku ... maka, akan saya pastikan detik ini juga kau m*ti di tanganku!" Kivandra mengancam perempuan itu dengan tatapan penuh kemarahan.


DORR!


Satu tembakan melayang ke arah lampu yang tergantung di ruang utama, membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut berteriak ketakutan. Para pelayan tersebut reflek menutup kedua telinganya dengan kedua tangan dan berjongkok serta menutup matanya. "Jangan pikir saya tidak berani melakukannya. Jika kalian bermain-main denganku maka, saya akan men*mbak kepala kalian satu persatu. Saya beri kesempatan untuk bicara 10 menit! Jika kalian tidak mau memberi tahu di mana istriku berada maka, persiapkan diri kalian untuk m*ti di tanganku!" Kivandra mendorong tubuh kepala pelayan dan pergi meninggalkan mereka.


Sambil menunggu semua pelayan membuka mulut, ia berkeliling untuk memeriksa setiap sudut ruangan yang ada di kediaman Tuan Nero. Tak terasa, Kivandra sudah berjalan-jalan selama kurang lebih lima belas menit. Menyadari hal itu, ia pun segera kembali ke ruang utama untuk mendengar jawaban dari para pelayan.


Benar saja, begitu Kivandra menunjukkan batang hidungnya, semua pelayan seketika berdiri dengan tubuh yang gemetar. Mereka yakin jika detik ini juga Tuan Muda akan men*mbak mereka satu persatu. "Saya sudah terlalu baik pada kalian, saya memberikan kelonggaran waktu untuk membuat kalian bicara. Maka pikirkan baik-baik, dan jawab pertanyaanku tadi. Di mulai dari, KAU!" Kivandra menunjuk ke arah kepala pelayan untuk bicara lebih dulu.


Dengan tubuh yang gemetar, wanita itu melangkah beberapa langkah ke hadapan Tuan Muda. Setelah itu, tubuhnya merosot ke lantai disertai tangisan. "Saya tidak tahu di mana istrimu, Tuan Muda. Kami semua tidak tahu," ucapnya dengan penuh rasa takut.


Kivandra kembali menodongkan pistol tepat di ubun-ubun kepala pelayan tersebut. Ia sudah berniat akan menembaknya saat itu juga. Namun, ia ingin melihat reaksi semua pelayan. Terlihat jelas ketakutan yang luar biasa di mata semua mata pelayan. Berbeda dengan kepala pelayannya. Ia sudah pasrah jika detik ini juga ia harus m*ti.


"Baiklah, jika kau memilih untuk mati dari pada menjawab pertanyaanku. Maka bersiaplah!" Kivandra bersiap untuk menarik pelatuknya. Namun ....


"HENTIKAN!" teriak seseorang yang baru saja datang.

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2