Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 15 > Si Konyol & Si Jahil


__ADS_3

"Grandpa yang menyuruhku untuk tinggal di kamar ini, jika bukan karena Grandpa ... mana mau Naya teh tinggal sekamar sama Tuan muda!" Naya membalikkan badannya untuk menghindari tatapan menakutkan Kivandra.


"Kau bisa menolaknya! Kenapa kau tidak mencari alasan untuk menolaknya?"


"Naya ingin menolak tapi--"


"Sudahlah, jangan kebanyakan tapi! Aku tau kalau kau ingin terus berdekatan denganku 'kan? Jangan harap! Kau bukan seleraku, gadis kocak!"


Naya mengepalkan tangannya. Dia berbalik dan hendak melayangkan sebuah pukulan pada Kivandra. Namun, sebelum itu terjadi Kivandra sudah menghindar lebih dulu. Tubuh Naya oleh dan hendak jatuh telungkup, akan tetapi tangan kekar Kivandra menopang tubuh Naya agar tidak terjatuh.


Naya yang saat ini tengah memejamkan matanya karena sudah membayangkan akan seperti apa sakitnya jika terjatuh telungkup. Setelah tubuhnya tidak merasakan sakit dan hanya merasakan sentuhan tangan kekar di perutnya membuat kedua matanya mengerjap. Naya menoleh ke samping tepat wajah Kivandra berada.


Naya seperti terhipnotis melihat ketampanan wajah Kivandra. Alisnya yang hitam dan tebal, bibirnya yang lembab, rahangnya yang tegas, matanya yang indah berpadu dengan bulu matanya yang lentik membuat debaran jantung Naya kembali beraksi. Entah karena kagum atau mungkin dia mulai tertarik kepada suaminya, semua itu tidak tahu. Naya tidak tahu apa arti debaran jantungnya itu.


"Sadarlah, gadis kocak! Tubuhmu berat!" ujar Kivandra yang menyadarkan lamunan Naya dengan sedikit berbohong jika tubuh Naya berat.


"Euh ... maafkan saya, Tuan muda." Naya langsung bangun.


Namun, sebelum dia berhasil berdiri, tiba-tiba rambutnya tersangkut di kancing kemeja suaminya. 'Apalagi ini, Tuhan. Aku bisa mati jika terus berdekatan dengan Tuan muda,' Naya mengeluh dalam hatinya. 


"Maafkan saya, Tuan muda." Naya berusaha membenarkan rambutnya yang tersangkut.


"Biar saya bantu." Kivandra menepis pelan tangan Naya dan membantu Naya untuk melepaskan rambutnya yang tersangkut itu.


Setelah beberapa menit, rambut Naya masih tersangkut. Tidak ada cara lain, Kivandra tanpa berlama-lama langsung membuka kemejanya agar Naya bisa menjauh dari tubuhnya. Berbeda dengan Naya, dia justru ketar-ketir melihat roti sobek di perut suaminya.


"Kk-kenapa Tuan muda membuka kemejanya?" tanya Naya dengan polos.


"Agar kau bisa menjauh dari tubuhku! Minggirlah! Betulkan rambutmu sendiri, aku mau mandi." Kivandra menyenggol tubuh Naya.

__ADS_1


"Ih, siapa juga yang mau berdekatan dengan tubuh Tuan muda. Nyebelin banget jadi suami," celetuk Naya. Tanpa Naya sadari dia telah kelepasan dengan memanggil Kivandra suaminya.


Kivandra yang saat ini sedang mengambil handuk bersih langsung membalikkan badan dan berjalan menghampiri Naya. "Apa maksud perkataanmu, Gadis kocak?" Kivandra berkaca pinggang dengan handuk ditaruh di lehernya.


Naya tertegun. 'Bodoh sekali! Kenapa aku bisa kelepasan segala sih? Lagian kenapa aku mengakui kalau dia suamiku,'


"Woyy! Kalau di tanya itu jawab bukan malah bengong, dasar TELMI!" cibir Kivandra dengan sedikit berteriak.


Naya terlonjak kaget. "Euh ... maaf, Tuan muda. Tadi Tuan muda bilang apa? Cumi? Kenapa Tuan muda panggil saya Cumi? Tuan muda mau dimasakin Cumi sama Naya?" bukannya menjawab kebiasaan Naya selalu menjawab pertanyaan Kivandra dengan pertanyaan juga. Dia benar-benar gadis polos, dia dengan santainya memasang wajah yang polos tanpa dosa.


"Oh, astaga!" Kivandra menepuk jidatnya sendiri. Dia benar-benar geram melihat tingkah istrinya itu.


"Selain bodoh kau juga tuli, Naya! Entah aku harus bicara pakai bahasa apa lagi agar kau memahami perkataanku. Haruskah aku memakai bahasa alien?" Kivandra menatap lekat Naya. Wajahnya begitu dekat, Kivandra benar-benar dibuat kesal oleh Naya.


"Ih, kenapa marah-marah Tuan Muda teh? Naya teh salah apa? Kenapa Tuan muda selalu marah kalau bicara sama Naya?" Naya menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedih. Dia benar-benar tidak mengerti, apa yang membuat suaminya begitu kesal.


"Kau mau tau, apa yang membuatku kesal?"


"TANYAKAN PADA RUMPUT YANG BERGOYANG!" Kivandra kembali menjahili istrinya dengan jawaban konyolnya.


Kivandra pergi ke kamar mandi. Sementara itu, Naya malah asyik memikirkan jawaban Kivandra. Rupanya Naya menanggapi perkataan suaminya dengan serius. 'Tanyakan pada rumput yang bergoyang? Tapi, bukankah rumput tidak bisa bicara ya? Apa Tuan muda menjahiliku? Wah, sepertinya Tuan muda memang menjahiliku, awas saja. Akan Naya balas!" Naya menatap ke arah kamar mandi dengan wajah yang sebal.


Naya keluar dari kamar, dia berniat menemui Grandpa untuk mengetahui semua tentang suaminya. Sedangkan Kivandra, asyik bermain busa dengan tawanya yang menggelegar. "Haha, konyol sekali gadis kocak itu! Bisa-bisanya dia mempercayai ucapanku. Haha, gadis itu membuatku terus tertawa." Kivandra memegangi perutnya.


***


Tok! Tok! Tok!


"Masuklah!" terdengar suara Tuan Liam dari dalam kamar.

__ADS_1


Pintu terbuka dan masuklah Naya. "Assalamu'alaikum, Grandpa."


"Wa'alaikumsalam, Nak. Kemarilah," jawab Tuan Liam sembari tersenyum ramah.


Naya berjalan menghampiri Grandpa yang tengah duduk dan membaca sebuah dokumen. "Duduklah, Nak." Tuan Liam mempersilakan Naya untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya.


Naya pun duduk. Dia ingin menanyakan sesuatu namun, dia gugup. "Apa yang membawamu kemari? Apakah kalian sudah siap untuk berangkat?" Tuan Liam menyimpan dokumennya dan menatap Naya.


"Naya mau menanyakan sesuatu,"


"Katakan saja, apa yang mau kau tanyakan? Apa ini tentang cucuku, Kivan?" tebak Tuan Liam.


Naya mengangguk cepat. "Iya, Grandpa. Naya ingin mengetahui semua tentang Tuan muda, Naya tidak berani bertanya pada Tuan muda. Tuan muda galak, Naya takut. Jadi, Naya menemui Grandpa. Apa Naya mengganggu Grandpa?" Naya menatap Tuan Liam.


Tuan Liam tersenyum gemas melihat tingkah cucu menantunya. "Kau ini, kenapa sungkan? Jadi, kamu ingin mengetahui semua tentang suamimu?"


Naya mengangguk lagi. "Iya, Grandpa. Naya ingin mengetahui semua tentang Tuan muda."


Tuan Liam beranjak dari duduknya, dia mengambil sesuatu di rak buku. Dia mengambil sebuah buku mini cukup tebal, lalu dia memberikan buku mini itu pada Naya. "Ini, bacalah!" Tuan Liam memberikan buku mini tersebut pada Naya.


"Apa ini, Grandpa?" Naya mengerutkan keningnya.


"Semua jawaban ada di dalam buku ini. Pastikan kau membacanya, Grandpa sudah menuliskan semua tentang Kivandra dalam buku ini. Satu lagi, pastikan Kivandra tidak tau mengenai buku ini karena jika dia tau, mungkin dia akan mengambil buku ini dan membuangnya, Naya mengerti 'kan maksud Grandpa?"


"Iya, Grandpa. Naya mengerti, Naya akan membaca buku ini disaat Tuan muda tidak ada. Naya akan menyimpan buku ini baik-baik, kalau begitu Naya permisi. Terima kasih atas waktunya." Naya tersenyum seraya beranjak dari duduknya.


"Iya, nanti jika kalian sudah mau berangkat, temui Grandpa terlebih dahulu!" perintah Grandpa.


"Baik, Grandpa."

__ADS_1


***


__ADS_2