
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu kamar terdengar jelas di telinga Yumna. Wanita itu yang saat ini baru selesai memakai pakaian pun perlahan berjalan menuju pintu. Tanpa bertanya siapa yang datang, ia segera membuka pintu kamarnya.
Ceklek!
Setelah pintu terbuka, Yumna melihat ada seorang pria tampan namun, di wajahnya terdapat luka lebam. Tentu, Yumna sangat mengenali pria tersebut. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Farel, pria yang telah menyelamatkannya.
"Nyonya bilang, lu pengen ketemu gue?" tanya Farel setelah berhadapan dengan Yumna.
"Iya, ayo masuk." Yumna mengangguk sembari mempersilakan pria itu untuk masuk.
Tanpa menjawab ucapan Yumna, Farel pun masuk. Mereka duduk di ranjang bersebelahan. Awalnya mereka saling diam dan hanya saling menatap saja. Namun, Yumna memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
"Rel, gue mau tanya sesuatu sama lu," ujar Yumna dengan tatapan yang serius.
"Tanyakan saja," jawab Farel dengan singkat.
"Apa lu ingat, apa yang telah kita lakukan di kamar itu?" tanya Yumna dengan kedua matanya yang berkaca-kaca seakan mau menangis.
Farel menggelengkan kepalanya. "Enggak, gue enggak ingat apa-apa. Seingat gue, gue lagi bicara di telepon dengan Tuan Kivan tiba-tiba kepala gue dihantam sesuatu dari belakang sampai pandangan gue gelap dan setelah itu gue enggak ingat apa-apa," jelas Farel sembari mengingat kembali apa yang telah terjadi di kamar itu.
"Apakah kita melakukannya?" tanya Yumna dengan nada yang lirih disertai tatapan yang sendu.
"Gue enggak ingat apa-apa, Yum. Tapi, gue yakin kalau di kamar itu tidak terjadi apa-apa. Bisa jadi Alice hanya menjebak kita saja," jawab Farel dengan menepuk pelan pundak Yumna.
"Tapi, bagaimana jika hal itu terjadi?" Kini tangisan Yumna mulai pecah.
"Sstt!" Farel menempelkan jari telunjuknya di bibir Yumna. "Itu tidak mungkin. Kalau pun itu terjadi, maka gue akan tanggungjawab. Gue enggak bakalan lari, gue akan nikahin lu." Farel menangkup kedua pipi Yumna dengan tatapan yang lembut.
Deg!
Seketika Yumna yang awalnya menangis langsung terdiam. Ia menyeka air matanya dan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Wanita itu cukup terkejut dengan jawaban Farel. Ia tak pernah menyangka jika kata-kata itu akan keluar dari mulut seorang Farel.
Yumna hanya terdiam membisu. 'Lu serius mau nikahin gue, Rel?' batin Yumna bertanya-tanya.
Melihat Yumna yang tengah melamun, Farel pun menjentikkan jari tepat di depan wajahnya. Sehingga membuat wanita itu terkejut dan tersadar dari monolognya. "Ngapain bengong? Lu mikirin apa?" tanya Farel.
"Eh, enggak kok. Gue cuma bilang kalau gue mau--" ucapan Yumna terpotong oleh celetukan Farel.
__ADS_1
"Ya, gue juga mau kok. Kita siapkan saja hari yang pas untuk pernikahan kita," celetuk Farel dengan tawa kecilnya.
"Apaan sih lu, gak jelas. Gue cuma mau bilang, MAKASIH," timpal Yumna dengan menegaskan ucapan terima kasihnya sambil memutar kedua bola matanya malas.
"Haha, bercanda. Gue cuma bercanda biar lu enggak tegang amat. Lagian, buat apa lu bilang makasih?" Farel terkekeh.
"Usil banget sih lu. Pokoknya makasih aja karena lu udah mau nyelamatin gue. Gue enggak tau, apa jadinya gue tanpa elu," ucap Yumna dengan memalingkan wajahnya. Karena saat ini wajah Yumna sudah berubah merah muda bak kepiting rebus.
"Ciie ... ada yang malu nih," goda Farel seraya mencolek dagu Yumna.
"Apaan sih, lu. Udah sana, gue mau istirahat!" Saking malunya, Yumna sampai mengusir Farel dari kamarnya.
"Idih, tadi bilangnya mau ketemu. Sudah ketemu malah diusir gue. Dasar cewek enggak ada akhlak, lu!" omel Farel seraya beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Yumna.
Sementara Yumna hanya tersenyum kecil melihat celotehan Farel. Entah apa yang sudah terjadi padanya sehingga jantungnya mulai bergemuruh dan berdegup kencang tak biasanya. Apakah ini perasaan cinta? Apakah Yumna jatuh cinta pada seorang Farel? Pertanyaan itu sempat terbesit di benaknya.
"Konyol banget kalau gue naksir tuh cowok setelah insiden memalukan itu. Aahh, mau ditaruh di mana ini muka gue," gumam Yumna sembari menepuk-nepuk pipinya.
****
Singkat cerita, setelah beberapa hari kemudian, Yumna akhirnya terbebas dari Alice. Yumna sudah tidak pernah diteror lagi oleh Alice karena orang tuanya sudah aman di bawah naungan keluarga Buana. Jelas, semua orang tahu siapa itu Tuan Liam. Benar, dia adalah kakeknya Tuan Kivandra.
Yumna berpikir, setelah terlepas dari Alice, kehidupan keluarga kecil Kivandra akan baik-baik saja dan kembali normal. Tapi, semua itu salah besar. Tanpa diketahui oleh siapa pun, Alice sudah merencakan sesuatu yang akan membahayakan kedua putri Kivandra dan Naya. Benar, kali ini Alice tidak menargetkan Naya lagi, melainkan putri kembarnya.
****
Naya dan kedua pengasuh putrinya sedang tertawa bersama melihat Adeela dan Adeena sedang belajar berjalan. Naya melihat dengan kedua putrinya dengan wajah yang gembira. Tidak terasa putrinya tumbuh begitu cepat.
Tin!
Tin!
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Sontak, mata Naya teralihkan dan melihat ke arah mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Terlihat jelas jika suara klakson itu berasal dari mobil kakeknya, Tuan Liam.
"Dew, Ayu. Aku titip Adeela dan Adeena dulu ya. Grandpa dan Mami sudah datang," ujar Naya kepada kedua pengasuh tersebut.
"Baik, Nyonya," jawab kedua pengasuh itu secara bersamaan.
Naya pergi meninggalkan Adeela dan Adeena dengan kedua pengasuhnya. Sesampainya di halaman rumah, Naya menyambut kedatangan Mami Thalia dengan Grandpa Liam. Ia mencium punggung tangan keduanya dengan penuh hormat.
"Grandpa, Mami," sapa Naya disertai dengan senyuman yang lembut.
"Ke marilah, Nak. Mami sangat merindukanmu dan juga putri kembarmu itu." Mami Thalia memeluk menantunya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Naya dan si kembar juga rindu sama Mami." Naya membalas pelukan hangat sang ibu mertua.
Begitu puas melepas rindu, Mami Thalia melepaskan pelukan tersebut. "Oh iya, Sayang. Si kembar mana?" tanya Mami Thalia.
"Si kembar lagi di belajar jalan di taman, Mami. Nanti Naya panggil si kembar. Sekarang, mari kita masuk terlebih dahulu. Mami sama Grandpa pasti lelah. Biar Naya bantu bawakan," ujar Naya seraya membantu koper ibu mertuanya.
"Tidak perlu, Sayang. Ada Pak Bagas yang akan membawa koper kita,"
"Pak Bagas? Siapa beliau, Mami?" Naya mengerutkan keningnya ketika mendengar nama itu. Sebab, nama itu sangat asing di telinganya.
"Sebentar, Mami perkenalkan padamu." Mami Thalia menghampiri kembali mobilnya dan meminta seseorang keluar dari mobilnya.
Naya melihat seorang pria bertubuh cukup kekar dan berkulit gelap keluar dari mobil. Melihat dari pakaiannya sudah bisa ditebak jika pria itu adalah supir pribadi Tuan Liam. Setelah melihat pria itu, entah kenapa Naya merasa sedikit takut. Apalagi melihat wajahnya yang sangar.
"Sayang, perkenalkan ... ini Pak Bagas. Dia adalah supir pribadi Daddy untuk menggantikan Farel. Setelah kami pikir-pikir, akan lebih baik jika Farel menjadi supir pribadimu saja. Bukan begitu, Dad?" Mami Thalia menoleh ke arah Tuan Liam.
"Iya, Putriku. Farel lebih baik menjadi supir sekaligus bodyguard untukmu." Tuan Liam membenarkan ucapan putrinya sambil tersenyum ramah pada Naya.
"Ya Allah, Grandpa. Naya tidak membutuhkan itu, lagi pula Naya sudah bisa menyetir sekarang. Bodyguard untuk apa? Toh Naya bukan orang penting. Sepanjang hari Naya selalu berada di rumah," jawab Naya dengan sedikit tertawa.
"Siapa bilang kamu akan selalu di rumah?" Mami Thalia tersenyum penuh misteri.
"Maksud, Mami?" Naya mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan ucapan ibu mertuanya.
"Mulai besok, kami ingin kamu belajar berbisnis. Kamu 'kan masih muda, sangat disayangkan jika hari-harimu dihabiskan hanya di rumah saja. Akan lebih baik jika kamu beraktivitas di luar rumah. Maka dari itu, kami sudah membelikan sebuah restoran untukmu membuka usaha. Terserah kamu mau membuka restoran apa, mau makanan luar atau mau makanan Sunda pun terserah kamu. Yang jelas, kami ingin melihat menantuku ini sukses," jelas Mami Thalia dengan penuh antusias.
"Berbisnis? Tapi, Mami tahu sendiri 'kan kalau Naya itu tidak berpendidikan seperti Mas Kivan. Lagi pula Adeela dan Adeena masih sangat membutuhkan Naya. Naya enggak mau jauh dari si kembar," jawab Naya dengan nada yang sedikit sedih.
"Jangan khawatir, kamu bisa ketemu si kembar kapan pun kamu mau. Untuk soal berpendidikan atau tidaknya, kamu bisa belajar dari suamimu. Tidak ada yang tidak mungkin selama kamu mau belajar dan berusaha. Dan untuk si kembar, Naya tidak perlu cemas sebab si kembar akan selalu Mami jaga dan ada dia pengasuh juga, 'kan. Percaya deh kalau putraku, Kivan akan sangat senang mendengar kabar ini." Mami Thalia terus meyakinkan Naya sembari mengelus kepalanya.
Naya tidak bisa menjawab apa pun selain menuruti permintaan ibu mertuanya. 'Aku tidak tahu, apakah aku bisa menjalankan bisnis kuliner ini? Semoga aja ini menjadi pilihan terbaik untukku dan keluarga kecilku,' Naya bermonolog dalam hatinya.
"Hallo, Non Naya. Saya Pak Bagas," ujar Pak Bagas seraya mengulurkan tangannya.
Sontak Naya terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Eh, iya. Saya Naya, Pak. Salam kenal," jawab Naya dengan senyuman tipis seraya berjabat tangan.
Gleuk!
Naya menelan salivanya ketika melihat tatapan misterius Pak Bagas. Ia semakin takut melihat Pak Bagas, dengan kasar Naya melepaskan tangannya dari genggaman Pak Bagas. Entah ia sedang halu atau memang ada sesuatu di diri Pak Bagas sehingga membuat seorang Naya ketakutan. Sebelumnya wanita itu belum pernah merasa takut terhadap siapa pun, tapi setelah melihat Pak Bagas, Naya seperti mendapatkan feeling kalau ada sesuatu pada Pak Bagas. Tapi, apa itu?
****
Stay tune :)
__ADS_1