Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 79 > Siapa Penguntit Itu?


__ADS_3

Pagi hari ....


Sinar mentari menyinari kamar Naya begitu gorden dibuka olehnya. Sehingga membuat pria tampan tanpa tshirt mulai menutup kedua matanya dengan tangan kekarnya karena silau. Naya yang melihat suaminya telah bangun, segera menghampirinya.


"Selamat pagi, Mas. Bagaimana tidurmu malam ini?" tanya Naya dengan mengelus kepala suaminya.


Kivandra tersenyum seraya menatap istrinya. "Tidurku selalu nyenyak. Bagaimana denganmu?" Kivandra balik bertanya pada Naya sembari menarik tubuh Naya hingga jatuh ke dalam dekapannya.


"Aku juga nyenyak, Mas. Ya udah, yuk kita siap-siap, siang ini kita akan cek restoran yang Grandpa beli karena bulan depan restorannya akan dibuka," ujar Naya.


"Okay, Sayang. Kalau begitu aku mandi dulu. Muach!" Kivandra mengecup bibir istrinya dan bergegas ke kamar mandi.


"Ya, Mas. Aku akan siapkan pakaianmu." Naya beranjak dari ranjang menuju ruang pakaian dan aksesoris suaminya.


Selesai itu, Naya keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, begitu sampai di dapur, ia melihat Yumna sedang membuat sarapan. Naya tersenyum kecil melihat perubahan Yumna. Sebelumnya Yumna tidak pernah memasak sekalipun namun kali ini, entah apa yang membuatnya mau memasak seperti ini.


Perlahan, Naya berjalan mendekati Yumna. "Ekhem!" Naya berdehem setelah berada di belakang Yumna.


Yumna yang tengah fokus platting pun segera menoleh ke belakang. "Eh, Nyonya. Selamat pagi, Nyonya," sapa Yumna dengan senyuman yang ceria.


"Pagi, Yumna. Aku senang melihatmu seceria ini. Eumm ... apa yang membuatmu mau membuat sarapan seperti ini? Bukankah kamu sangat anti dengan dapur?"


"Entahlah, Nyonya. Aku juga merasa aneh dengan diriku. Akhir-akhir ini aku selalu melakukan sesuatu yang tidak aku sukai. Dan Nyonya tahu? Aku sekarang sudah tidak alergi seafood lagi. Kemarin aku membeli seafood dan memakannya cukup banyak. Bukankah itu aneh?" Yumna menjelaskan apa yang telah terjadi padanya.


"Lho, kok aneh sih? Bukannya itu bagus ya, karena sekarang kamu tidak alergi lagi dengan seafood?"


"Iya sih, Nyonya. Oh iya, hari ini Nyonya sangat cantik dan begitu rapi. Apakah Nyonya akan pergi?" tanya Yumna dengan mengubah topik pembicaraan.


"Ya, Yumna. Hari ini aku akan mengecek restoranku. Aku berencana akan membuka restoran khas Sunda. Apakah kamu mau ikut bersamaku?" Naya mengajak Yumna untuk ikut bersamanya.


"Bolehkah, Nyonya? Tapi, bagaimana dengan Tuan Kivandra?"


"Nanti akan kuberi tahu suamiku. Aku yakin suamiku tidak akan keberatan jika kamu ikut. Itung-itung biar aku ada teman," jawab Naya.


"Terima kasih, Nyonya. Oh iya, Nyonya ... mau enggak cicipi sarapan buatanku ini?" tanya Yumna dengan memperlihatkan sarapan buatannya.


"Tentu saja, dengan senang hati aku akan mencicipinya." Naya mengambil pisau dan juga garfu.


"Heumm ... ini enak, Yumna. Kamu coba ini. Aaa ...." Naya menyuapi Yumna.


Yumna membuka mulutnya dan mencicipi sendiri masakannya. Dan ekspresi Yumna sama seperti Naya. Ia benar-benar tidak menyangka jika masakannya akan seenak ini.


"Gimana? Enak 'kan?" tanya Naya dengan senyuman yang ramah.


Yumna mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak percaya ini, Nyonya."


"Sudah, sekarang bawa masakanmu ini ke meja makan. Biarkan kami semua mencicipinya," perintah Naya dengan suara yang lembut.


"Tapi, Nyonya--"

__ADS_1


"Sudah, hidangkan saja. Aku akan panggilkan suamiku untuk sarapan," sela Naya seraya pergi meninggalkan Yumna yang berada di dapur.


Sesampainya di kamar, Naya membuka pintunya dan masuk. Begitu berada di dalam kamarnya, ia melihat suaminya tengah mengenakan dasi di hadapan cermin. Melihat itu, Naya tersenyum sembari berjalan menghampiri sang suami.


Naya memeluk suaminya dari belakang. "Bolehlah istri kecilmu ini yang memakaikan dasinya?" Naya menawarkan diri kepada suaminya.


"Sure." Kivandra mengelus lembut tangan sang istri yang tengah melingkar di perutnya.


Naya segera melepaskan pelukannya. Kemudian dia menarik kursi rias dan menaikinya. Yup, saat ini Naya sedang berdiri di atas kursi. Melihat itu, Kivandra lagi-lagi selalu tertawa melihat istrinya yang selalu naiki kursi pada saat memakaikan dasi untuknya.


Mau bagaimana lagi, tubuh Naya cukup mungil dan sedikit kesulitan untuk memakaikan dasinya. "Kebiasaan deh," ucap Naya dengan mengerucutkan bibirnya karena bete ketika melihat suaminya tertawa.


"Gemesin deh." Kivandra menyomot bibir sang istri.


"Mas, jangan mulai deh. Ini masih pagi. TONG PIKASEUBEULEUN! (JANGAN NYEBELIN)!"


"Sudah, jangan marah. Ayo pakaian dasinya." ujar Kivandra dengan menarik pinggang ramping sang istri.


Dengan cepat, Naya memakaikan dasinya. Selesai itu, Naya hendak turun akan tetapi Kivandra menggendongnya. "Hei, Mas! Turunkan aku. Ayo kita ke bawah, sarapan sudah siap,"


"Kiss dulu dong. Pagi ini aku belum mendapatkan sarapan darimu," goda Kivandra.


"Ya udah, ayo kita turun dan sarapan."


"No. Aku tidak akan turun sebelum istri kecilku ini memberikan kiss-nya." Kivandra mengedipkan matanya pada sang istri.


Setelah itu, barulah Kivandra menurunkan tubuh istrinya dan keluar dari kamarnya.


****


Meja makan ....


Kini Kivandra, Naya, Mami Thalia dan Grandpa Liam sedang menikmati sarapan. Sembari sarapan, Naya tersenyum melihat semuanya karena terlihat begitu menyukai makanannya. "Mami, bagaimana makanannya?" tanya Naya sambil menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Enak, Sayang. Apakah kamu yang memasak makanan ini?" tanya Mami Thalia sembari melihat ke arah menantunya.


"Bukan, Mami. Ini masakan Yumna," jawab Naya sembari tersenyum.


"Yumna? Kamu yakin?" tanya Mami Thalia dengan wajah yang sedikit terkejut.


"Iya, Mami. Sekarang Yumna sudah banyak berubah, alhamdulillah."


"Benarkah itu, Sayang?"


"Iya, Mami."


"Syukurlah kalau begitu, Mami senang dengernya."


****

__ADS_1


Di mobil ....


Saat ini Naya, Kivandra dan juga Yumna sedang berada di mobil. Mereka hendak pergi ke lokasi restoran yang Grandpa Liam beli. Naya duduk di sebelah sang suami. Sedangkan Yumna duduk di kursi belakang.


"Yumna, saat ini saya percaya padamu. Tetap temani istriku dan jangan pernah mengecewakanku lagi karena jika itu terjadi maka aku tidak akan memaafkanmu bahkan melepaskanmu!" tegas Kivandra sembari melihat ke arah Yumna dari pantulan spion.


"Baik, Tuan. Saya mengerti. Terima kasih telah mempercayai saya. Saya akan pastikan kalau saya tidak akan pernah mengkhianati Tuan dan Nyonya," jawab Yumna dengan santun.


"Bagus! Itu yang ingin saya dengar darimu."


"Oh iya, Mas ... hari ini kamu ke kantor enggak?" tanya Naya.


"Hari ini aku tidak ke kantor. Aku ingin temani istriku sekaligus mengajarimu cara berbisnis. Hari ini kita pasti sibuk karena kita harus membuka lowongan pekerjaan untuk di pekerjakan di restoranmu nanti. Apakah kamu siap?"


"Aku siap asalkan Mas mau menemaniku. Eumm ... bagaimana kalau kita pekerjakan gadis-gadis desa saja, Mas?"


"Kamu yakin? Aku sih tidak masalah, tapi apa mereka bisa berbahasa Indonesia lancar?"


"Soal itu, aku bisa mengajarinya dulu, Mas. Aku hanya ingin mempermudah pekerjaan mereka saja. Mas tahu sendiri 'kan kalau gadis desa setelah lulus sekolah selalu mencari pekerjaan. Maka dari itu, aku ingin membantu mereka. Sekalian kita jengukin Nenek di kampung, bagaimana?" jelas Naya pada suaminya.


"Baiklah, atur-atur saja. Aku terserah kamu aja. Sudah lama juga kita tidak pulang kampung. Kasihan, Nek Aminah pasti sangat merindukanmu dan juga si kembar,"


"Iya, Mas. Eumm ... bagaimana kalau hari sabtu kita pulang ke kampung? Pulang lagi senin atau selasa?"


"Ide bagus, aku setuju." Kivandra tersenyum manis pada istrinya.


****


Di mobil yang berbeda, terlihat seorang pria tengah bicara di telepon seraya mengikuti mobil yang ada di depannya. Pria itu mengikuti mobil Kivandra. Sayangnya, Kivandra tidak mengetahui jika ia sedang diikuti.


Telepon terhubung!


"Hallo, Bos. Naya dan juga suaminya sedang menuju ke lokasi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?"


"Terus pantau mereka dan kabari saya! Jika sudah sampai, kabari saya!"


"Baik, Bos."


"Tutt!" telepon diakhiri oleh sang Bos dari pria tersebut.


Telepon terputus!


****


Siapakah pria yang membuntuti Kivandra dan Naya?


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2