
Tok! Tok! Tok!
Farel mengetuk pintu kamar tuannya dengan cukup keras. Wajahnya benar-benar terlihat cemas seakan sesuatu telah terjadi. Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Naya.
"Kak Farel? Ada apa? Kenapa terlihat cemas?" tanya Naya setelah melihat Farel ada di depan pintunya.
"Di mana Tuan muda?" bukannya menjawab, Farel malah balik bertanya.
"Tuan muda ada di dalam, masuklah." Naya mempersilakan Farel untuk masuk.
Farel langsung masuk, begitupun dengan Naya. Naya melihat Farel membisikkan sesuatu di telinga suaminya. Setelah itu, wajah Tuan muda Kivandra langsung berubah. Tak lama kemudian, Kivandra mengambil mantelnya dan hendak pergi bersama Farel.
"Naya, saya peringatkanmu untuk tidak keluar dari kamar ataupun pergi keluar tanpa sepengetahuanku! Saya ada urusan sebentar, dan satu lagi ... kuncilah pintunya dan jangan membuka pintu untuk sembarang orang, kau paham?" Kivandra memegang kedua bahu Naya disertai tatapannya yang dalam.
Naya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Setelah melihat respon istri kecilnya, Kivandra lngsung langsung pergi bersama Farel. Kivandra tidak mengatakan apapun pada Naya. Hanya kecemasan saja yang terlihat jelas di matanya.
"Kenapa aku menikahi suami yang aneh seperti Tuan muda? Kadang dia mengatakan Sayang, Aku, Saya, Kau ataupun Kamu. Sikapnya terus berubah-ubah bak bunglon. Apakah hari ini Tuan muda menyembunyikan sesuatu dariku? Tapi ... apa masalahnya jika dia memang menyembunyikan sesuatu? Toh, aku ini 'kan istri di atas kertas saja. Aku tidak mencintainya begitupun dengan Tuan muda. Lalu kenapa aku selalu ingin mengetahui semua tentangnya?" Naya berjalan perlahan menuju sofa. Dia terus memikirkan tentang suami palsunya itu.
Naya menjatuhkan tubuhnya di sofa yang empuk. "Aah, setiap hari aku semakin tidak waras? Dia selalu membuatku penasaran terus." Naya menghembuskan napasnya dengan tangan mengusap wajahnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. "Apakah itu Tuan muda? Apa dia meninggalkan sesuatu? Akan kubuka pintunya." Naya bergegas membuka pintu.
Betapa terkejutnya Naya pada saat membuka pintunya. Matanya terbelalak, langkahnya mulai mundur menghindari orang yang ada di hadapannya.
***
Di sebuah restoran, Kivandra menyewa sebuah ruang VIP untuk membicarakan masalah penting dengan Farel. Kivandra dan Farel saling melempar tatapan. "Katakan, bagaimana kau mendapatkan info itu?" tanya Kivandra yang tidak suka berbasa-basi.
__ADS_1
"Jadi, setelah saya pergi dari restoran itu ...." Farel menceritakan kejadian saat dia hendak pulang ke hotel.
{Beberapa jam yang lalu ....
Setelah membayar tagihan pesanannya, Farel keluar dari restoran itu. Setelah berada di luar, Farel melihat Alice dengan gerak-geriknya yang aneh. Tanpa sepengetahuan Alice, Farel sudah mengikutinya. Dia tidak ingin jika Alice mengusik kehidupan tuannya lagi.
Setibanya di hotel yang sama dengan Alice, Farel turun setelah melihat Alice turun lebih dulu. Kemudian dia melihat Alice masuk elevator, tanpa berlama-lama Farel pun masuk elevator yang berbeda. 'Aku takkan membiarkan wanita berbisa itu menyentuh Tuan muda apalagi menyakiti Nona muda.'
Ting!
Pintu Elevator terbuka, Farel keluar dengan hati-hati. Dia berjalan santai menuju kamarnya. Dia sengaja memperlambat langkahnya karena saat ini Alice sedang memasuki kamarnya. Kebetulan sekali kamar Alice dan Farel berhadapan.
Farel sedikit berlari kecil ke kamar Alice. Dia mencoba mengintip ke kamar Alice yang saat itu, Alice tidak mengunci pintunya dan pintu tersebut sedikit terbuka sehingga dia bisa leluasa melihat apa saja yang Alice lakukan. Betapa terkejutnya Farel pada saat Alice berbicara di telepon dengan seseorang dan menyuruhnya untuk datang. Dari situlah dia mulai curiga jika Alice akan merencanakan sesuatu.
Tak lama kemudian Farel mulai mendengar suara langkah kaki menuju kamar Alice. Dia segera memasuki kamarnya, agar orang yang menemui Alice tidak melihatnya. Setelah aman, Farel keluar dari kamar, dia mulai menguping pembicaraan Alice dan seorang pria. Pria yang tengah bicara dengan Alice tidak lain adalah kaki tangannya, Denison.
"Jadi, maksudmu ... orang yang ingin Alice celakai adalah Naya?"
Farel mengangguk cepat. "Benar. Saat ini orang suruhan Denison sedang menyusul ke mari. Kita harus lakukan sesuatu, jangan sampai Nona muda dicelakai oleh wanita berbisa itu. Walaupun saya tidak begitu menyukai Nona muda, tapi bagaimana pun juga Nona muda tidak terlibat dalam hal ini," jelas Farel.
"Kau benar, Rel. Kita harus melakukan sesuatu. Sekarang aku memberimu tugas untuk mengantar Naya pulang dengan selamat. Sementara itu, aku akan tetap di sini sebagai alat pemancing untuk Alice. Malam ini juga kau harus membawa Naya pulang. Satu hal lagi yang harus kau lakukan ... jangan beri tahu Naya tentang masalah ini. Aku tidak ingin gadis 19 tahun mengenal masalah yang begitu mengerikan ini, kau mengerti!" Kivandra menatap dengan tatapan yang serius.
"Baik, Tuan muda. Tapi ... bagaimana jika orang suruhan Denison melukai Tuan muda? Haruskah saya mengantarkan Naya sampai bandara saja? Saya akan tetap di sini untuk melindungi Tuan muda."
"Jangan bodoh! Jika kau tetap di sini, mereka bisa melukai Naya kapanpun. Mereka akan curiga jika kau tetap di sini. Coba kau pikirkan! Jika kita membiarkan Naya pulang sendiri itu akan sangat menguntungkan bagi mereka karena mereka bisa leluasa untuk mencelakai Naya dan beranggapan jika aku tidak peduli pada Naya. Alice akan terus mengganggu kehidupanku karena hubunganku dengan Naya hanyalah pura-pura. Kau mengerti maksudku 'kan! Kau ini cerdas, kau pasti paham. Cepat lakukan tugasmu! Aku akan menemui Naya." Kivandra beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Farel.
Sementara itu, Farel tampak kebingungan. Bagaimana mungkin dia membiarkan tuannya sendirian. Bagaimana jika hal tak diinginkan terjadi? Tapi, di satu sisi dia juga harus melindungi Nona muda Naya. Pilihan yang berat.
__ADS_1
***
"Mm-mau apa Nona ke mari? Suamiku sedang keluar, Nona bisa menemuinya nanti." Naya hendak menutup pintunya. Namun, kaki wanita itu menghalangi pintunya.
Wanita itu tidak lain adalah Alice. Dia menahan pintunya agar tidak ditutup. "Biarkan saya masuk! Ada hal yang ingin saya beri tahu padamu. Ini tentang suamimu." Alice melipat kedua tangan di dada.
Naya tampak kebingungan, hingga akhirnya dia mempersilakan Alice masuk. Alice menyunggingkan senyumannya dengan berjalan memasuki kamarnya. Belum sempat Naya mempersilakan untuk duduk, Alice sudah duduk duluan.
"Katakan, apa yang ingin Nona beri tahu pada saya?"
"Ternyata kau gadis yang tidak sabaran rupanya. Tenanglah, sebelum aku beri tahu padamu ... ada beberapa pertanyaan yang harus kau jawab." Alice tersenyum licik.
"Tanyakan saja, saya pasti menjawabnya."
"Apa kau mencintai suamimu?"
Naya tertegun mendengar pertanyaan Alice. Mau tidak mau Naya harus kembali berakting di hadapan Alice. "Tentu saja, aku sangat mencintainya. Itu tidak perlu ditanyakan lagi," jawab Naya diakhiri dengan hembusan napas.
"Baik, pertanyaan kedua ... apa kalian sudah melakukan malam pertama?"
Naya membulatkan matanya. Apa yang akan dia jawab, sementara dia dan Kivandra belum pernah melakukannya. Lalu, dia terpikirkan untuk bertanya sesuatu untuk mengalihkan pembicaraannya.
"Sebelum saya menjawabnya, saya ingin tahu ... Siapa Nona? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk Nona?"
"Tentu saja, saya mantan tunangan suamimu. Apakah suamimu tidak pernah memberi tahumu? Oh iya, saya dan Kivandra sudah pernah melakukan hubungan badan." Alice tersenyum licik melihat ekspresi Naya.
Deg!
__ADS_1
***