
Satu hari kemudian ...
"SAH," ucap semua orang yang menyaksikan pernikahan Tuan Muda Kivandra dan Naya.
Naya dan Kivandra terlihat merasa tidak bahagia dengan pernikahan dadakan ini. Namun, meski begitu mereka tetap tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya. Naya menyalami tangan Kivandra dan Kivandra mencium kening Naya dengan terpaksa. Setelah itu, mereka menandatangi buku pernikahannya.
"Kenapa aku harus menikahi pria arrogant sepertinya? Kenapa?" teriak Naya dalam hati.
"Bisa-bisanya Grandpa menginginkan menantu kampungan sepertinya, sampai kapanpun pernikahan ini hanyalah diatas kertas! Aku tidak akan mengakuinya sebagai istriku!" ucap Kivandra dalam hatinya.
Acara pernikahannya hanya dihadiri oleh keluarga dan tetangga dekatnya saja. Kivandra menolak untuk menggelar pesta pernikahan karena dia malu jika teman-temannya mengetahui dirinya menikah dengan gadis kampung seperti Naya. Namun, jika diperhatikan baik-baik wajah Naya tak kalah cantik dengan gadis kota.
Hanya dengan sedikit polesan saja Naya akan menjadi wanita yang paling cantik. Sayangnya, Kivandra tidak menyadari kecantikan alami Naya. Kebencian yang membuatnya buta akan kecantikan dan sikap tulus Naya. Setelah acaranya selesai, Naya dan Kivandra memeluk Ibu Thalia secara bersamaan. Lalu mereka memeluk Grandpa dan juga nenek Aminah.
"Nenek." Naya meneteskan air matanya menatap mata Nenek Aminah. Dia seakan memberikan sebuah kode kalau dia tidak menyukai pernikahannya itu namun, Nek Aminah menganggap air mata Naya adalah sebuah kebahagiaan.
"Berbahagialah, Nak. Seandainya orang tuamu ada di sini, maka orang tuamu akan sangat bahagia melihat anak perempuannya menikah. Nenek mendo'akan yang terbaik untuk pernikahanmu, jadilah istri yang penurut dan berbakti kepada suamimu. Rawat dan jagalah rumah tangga kalian." Nenek Aminah menasehati Naya seraya mengelus lembut kepala Naya.
"Terima kasih, Nek." Naya kembali memeluk neneknya. "Nek, seandainya Nenek tahu kalau Naya sangat sedih. Naya benar-benar terpaksa, Naya tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Tuan Liam," batin Naya menangis.
"Naya, Kivan. Kemarilah," panggil Tuan Liam.
Naya melepaskan pelukannya. Dia menghampiri Tuan Liam dan duduk di sebelah Kivandra. "Iya, Tuan."
"Mulai sekarang Naya jangan memanggilku Tuan, panggil Grandpa saja. Sekarang kamu bukan hanya menantu dari keluarga besar Buana, kamu sudah Grandpa anggap seperti cucu Grandpa sendiri. Jangan canggung seperti ini lagi. Anggaplah keluarga suamimu ini keluargamu sendiri, mengerti, Nak?" Tuan Liam menjelaskan dengan lembut.
"Naya mengerti, Grandpa." Naya tersenyum.
"Kivan, Grandpa titip Naya! Jaga dan bimbing Naya, jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab untuk Naya. Grandpa tidak ingin melihat Naya menangis karena sikapmu, paham!" tegas Grandpa.
"Kivan paham, Grandpa." Kivandra memutar bola matanya malas.
"Bagus. Kalau begitu, Grandpa punya hadiah untuk pernikahan kalian. Thalia, berikan hadiahnya," ucap Tuan Liam kepada Ibu Thalia.
__ADS_1
"Baik, Dad." Ibu Thalia mengeluarkan sesuatu dalam tasnya. "Ini, Dad." Ibu Thalia memberikan hadiah yang Tuan Liam pinta.
Tuan Liam mengambil dan memberikannya kepada Kivandra. "Ini tiket untuk bulan madu kalian ke negara S, Grandpa ingin kalian berangkat malam ini juga!" tegas Tuan Liam.
Gleuk!
Kivandra dan Naya tertegun mendengar kata bulan madu. "Grandpa! Kenapa harus jauh-jauh sih, di rumah juga sudah cukup. Kivan malas pergi jauh-jauh, Kivan gampang lelah. Kivan nggak mau!" tolak Kivandra secara terang-terangan di hadapan Naya, Ibu Thalia, Tuan Liam dan Nenek Aminah.
"Bagus! Apa Mami pernah mengajarimu melawan seperti ini, hah?" Ibu Thalia menjewer kuping Kivandra di hadapan Naya.
Naya yang melihat drama ibu dan anak itu langsung tertawa. Dia belum pernah melihat orang dewasa seperti Kivandra dijewer oleh ibunya. "Naya!" panggil Nenek Aminah. Dia mengingatkan cucunya untuk berhenti menertawakan suaminya.
Naya langsung menutup mulutnya. "Ampun, Mami. Lepasin, Mami! Telinga Kivan sakit," ucap Kivandra sembari memohon kepada Maminya untuk melepaskan jewerannya.
Thalia pun melepaskan jewerannya. "Kivandra Galaxy Dharmendra!" panggil Tuan Liam.
"Iya, Grandpa Liam Buana Darel," Kivandra balik memanggil Grandpa dengan nama lengkapnya.
"Apa kamu masih mau menolak permintaan Grandpa?" Tuan Liam menatap tajam Kivandra.
Kivandra menghela napas panjang. "Baiklah, Kivan dan Naya akan pergi bulan madu malam ini," ucap Kivandra. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Grandpa.
"Nah gitu dong, ini baru cucu kesayangan Grandpa. Ya sudah, sekarang kamu pergi beristirahatlah. Sedangkan Naya, kamu pergilah bersama Mami Thalia," ucap Tuan Liam kepada Naya.
Mendengar itu, Kivandra langsung nyelonong pergi. Sementara Naya pergi bersama Mami Thalia.
***
Di dalam mobil ...
"Mami, kita akan pergi ke mana?" tanya Naya sembari melihat ke arah ibu mertuanya yang sedang menyetir.
"Kita akan pergi ke butik teman Mami," jawab Mami Thalia disertai senyuman.
__ADS_1
"Tapi, Mami. Naya teh malu, apa Mami tidak malu pergi bersama Naya?" Naya merasa insecure. Dia sadar diri dengan penampilan kampungnya.
"Malu kenapa? Kamu adalah menantuku, kamu cantik. Kenapa harus malu?" timpal Mami Thalia.
"Penampilan kampung Naya yang akan membuat Mami malu. Naya takut," ucap Naya dengan jujur.
"Udah, jangan bicara seperti itu lagi. Ayo turun, kita sudah sampai," ajak Mami Thalia.
"Mami," panggil Naya pada saat Mami Thalia hendak keluar dari mobil.
"Iya, Sayang." Mami Thalia menoleh ke arah Naya.
"Naya teh enggak bisa buka sabuk pengamannya," ucap Naya, jujur.
"Apa?" Mami Thalia membulatkan matanya. "Seriusan Naya enggak bisa membuka sabuk pengaman?" Mami Thalia rasanya tidak percaya dengan ucapan Naya.
"Iya, Mami. Naya enggak bisa buka sabuk pengamannya, saat Aa kasep jemput Naya juga Naya dibantuin Aa kasep buat bukain sabuk pengamannya," jawab Naya dengan polos. Menurutnya hal ini bukan hal yang memalukan, lebih baik berkata jujur dari pada pura-pura bisa padahal tidak bisa.
"Siapa Aa kasep?" Thalia mengernyitkan alisnya.
"Aa Farel, Mami. 'Kan Aa Farel yang menjemput Naya," jawab Naya.
"Oh, Farel. Ya sudah, sini Mami ajarin cara buka sabuk pengamannya." Thalia mengajarkan Naya cara membuka sabuk pengamannya.
"Oh gini cara bukanya itu, sekarang Naya sudah tau cara membukanya. Terima kasih ya, Mami. Mami teh meuni bageur pisan (Mami benar-benar baik banget)," puji Naya dengan senyuman menggemaskannya.
"Sama-sama, Sayang. Ya udah, ayo kita keluar," ajak Thalia. Sebenarnya dia tidak begitu mengerti apa yang Naya katakan tapi, dari cara penyampaian dan tatapan mata Zoya yang tulus Thalia bisa tahu apa maksud dari ucapannya.
"Iya, Mami." Naya dan Thalia keluar dari mobilnya.
Mereka berjalan memasuki butik. Langkah Naya terhenti saat melihat pintu masuk berputar, dia sedikit takut dan tidak tahu cara masuknya. Dia takut terjepit oleh pintu masuk itu. Thalia yang menyadari kalau Naya masih berdiam diri di belakangnya langsung menoleh ke belakang.
"Eh, Sayang. Ngapain diam di situ? Ayo sini." Thalia meminta Naya untuk segera menghampirinya.
__ADS_1
"Iya, Mami." Naya pun berjalan dengan pelan. Dia benar-benar gemetar melihat pintu berputar itu. Jujur, Naya baru pertama kali melihat ada pintu yang bisa berputar seperti itu.
***