Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 18 > Siapakah Bule Lokal Itu?


__ADS_3

Di kamar yang cukup luas, terlihat seorang wanita dengan kemarahan di wajahnya. Wanita itu tidak lain adalah Alice, mantan tunangan Kivandra. Saat ini dia tengah memarahi bodyguard-nya.


"Dasar bodoh! Bagaimana Kivandra bisa tahu jika di mobilnya ada alat pelacak? Memangnya kau simpan di mana alat itu?" Alice melipat kedua tangan di dada beserta bertumpang kaki.


"Maafkan saya, Nona Alice. Saya sudah menyimpannya di bawah kursi tapi entah siapa yang telah memberi tahu tentang alat pelacak itu. Saya akan kembali menaruh alat pelacak yang baru di mobil Tuan Kivandra," jawab pria bernama Denison.


Denison adalah seorang bodyguard serta orang kepercayaan Alice. Usia Denison 32 tahun, dia memiliki tubuh yang kekar membuat Denison sangat cocok dengan pekerjaannya sebagai bodyguard. Denison sudah cukup lama bekerja bersama Alice.


"Tidak ada gunanya menaruh alat pelacak itu lagi, Kivandra akan lebih waspada lagi mulai sekarang. Aku hanya ingin tahu, di mana keberadaan Kivandra saat ini. Aku tidak bisa menghubunginya. Tolong kau cari tahu di mana Kivandra!" perintah Alice pada Denison.


"Baik, Nona Alice. Saya akan mencari tahu sekarang. Saya permisi." Denison menundukkan kepalanya sebelum pergi sebagai tanda hormat.


***


"Naya teh tidak habis pikir, bagaimana bisa Tuan muda menyuruh Naya turun di jalanan seperti ini. Naya tidak tau, sekarang Naya ada di mana? Naya bingung, ke mana Naya harus pergi? Dasar pria robot! Tidak punya hati!" gerutu Naya seraya menghentak-hentakkan kakinya.


Kini Naya berada di sebuah jalanan yang cukup ramai orang berlalu lalang. Naya terus berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba Naya melihat seorang anak kecil yang merupakan pengamen jalanan. Naya segera menghampiri anak itu. Dia berniat untuk membantunya.


"Hallo, Dek. Apa yang sedang kamu lakukan di sini sendirian?" tanya Naya.


Anak kecil itu hanya menatap Naya dengan wajah yang kebingungan. Pasalnya, anak itu tidak memahami apa yang Naya katakan. Seharusnya Naya bertanya dengan bahasa Inggris atau enggak bahasa Perancis, tapi karena Naya tidak bisa berbahasa Inggris apalagi bahasa Perancis. Naya pun bertanya dengan bahasa Indonesia.


"Qu'est-ce que vous avez dit? (Apa yang kamu bicarakan?)" anak kecil itu bertanya menggunakan bahasa Perancis.


'Aduh, ieu bocil teh nyarios naon? (Aduh, apa yang anak kecil ini katakan?) Naya harus jawab apa ya?'


"Apakah kamu berasal dari Indonesia?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di belakang Naya.


"Astaghfirullah, bikin kaget aja." Naya terlonjak kaget seraya menoleh ke belakang.


"Hai," sapa pria itu dengan senyuman di bibirnya.


"Hehe, hai." Naya membalas senyuman pria itu sembari cengengesan.


"Kamu dari Indonesia?" tanya pria itu lagi.


"Euh ... iya, Aa. Naya teh dari Indonesia. Aa bisa bahasa Indonesia?" Naya menatap tajam pria itu.


"Tentu saja, saya ini orang Indonesia," jawab pria itu disertai tawa kecilnya.

__ADS_1


"Jadi, nama kamu Naya?" tebak pria itu.


Naya mengangguk pelan membenarkan tebakan pria itu. "Perkenalkan, saya Chiko Adrian Bart. Panggil aja Chiko." Chiko mengulurkan tangannya.


"Saya Asti Kanaya." Naya berjabat tangan dengan pria itu.


"Oh iya, apa yang mau kau katakan pada anak kecil ini? Sepertinya kau kesulitan sekali untuk bicara dengannya?" Chiko menoleh ke arah anak kecil yang memegang gitar kecil.


"Tadi Naya mau membantu anak ini, tapi Naya tidak bawa uang. Jadi, Naya ingin membantunya dengan bermain gitar dan anak kecil ini yang bernyanyi. Siapa tahu dengan bantuan Naya bisa sedikit meringankan beban anak ini." Naya mengelus lembut kepala anak itu.


"Maksudmu, kau akan ikut mengamen dengan anak ini?" Chiko membelalakkan matanya.


Naya mengangguk cepat. Sementara pria itu hanya tertegun melihat respon gadis yang ada di hadapannya. 'Baru pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang tulus seperti dia'


***


"Hei, Farel! Mau ke mana kau?" tanya Kivandra pada saat melihat Farel hendak keluar dari kamarnya.


Farel yang saat ini tengah berdiri di depan pintu, langsung membalikkan badan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Anu Tuan Muda, saya mau keluar sebentar," jawab Farel.


Farel terpaksa berbohong, dia tidak mungkin mengatakannya dengan jujur jika dia akan pergi untuk mencari Naya. "Jangan bohong! Katakan, kau mau pergi ke mana? Jangan bilang kalau kau mau pergi mencari gadis kocak itu?" tebak Kivandra dengan sorotan matanya yang begitu tajam.


Farel hanya menunduk, dia tidak pernah bisa menang melawan tuannya. "Farel!" Kivandra memanggil Farel lagi.


"Kau ini keras kepala sekali, Rel! Biarkan saja gadis kocak itu, anggap saja itu pelajaran untuknya karena telah berani mengotori pakaianku!"


"Tapi, Tuan muda ... ini terlalu keterlaluan untuk seorang gadis. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nona muda? Apalagi saat ini kita ada di negara asing,"


"Farel cukup! Kau terlalu banyak bicara! Saya tidak akan pernah mau mencari gadis kocak it--"


Tiba-tiba ponsel Kivandra berdering. Kivandra berjalan menuju meja nakas untuk mengambil ponselnya. Begitu ponselnya ada di tangannya, terlihat jelas nama Grandpa di layar ponselnya. Matanya membola dengan sempurna menatap ponsel yang tengah dia pegang.


'Gawat, untuk apa Grandpa telepon disaat seperti ini?' Mau tidak mau, Kivandra mengangkat telepon dari Tuan Liam. Dia menempelkan ponsel di telinga kanannya setelah telepon terhubung.


Telepon terhubung!


"Hallo, Grandpa," ucap Kivandra.


"Hallo, Kivan. Apakah kalian sudah sampai?" tanya Tuan Liam.

__ADS_1


"Kivan baru saja sampai di hotel, Grandpa."


"Bagaimana dengan Naya? Di mana istrimu? Berikan ponselnya pada Naya!"


Uhuk! Uhuk!


Kivandra langsung tersedak begitu mendengar nama gadis kocak itu disebut. "Minumlah, Tuan muda." Farel dengan cepat memberikan segelas air pada tuannya.


"Terima kasih, Rel." Kivandra mengambil segelas air itu dan meneguknya sampai habis.


"Kivan! Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu dari Grandpa?"


"Grandpa ngomong apa sih? Tidak ada yang Kivan sembunyikan dari Grandpa."


"Baiklah, kalau begitu berikan ponselnya pada istrimu!"


"Naya sedang di kamar mandi, Grandpa. Nanti setelah dia selesai, Kivan akan telepon Grandpa lagi." Kivandra menatap ke arah Farel.


"Ya sudah, nanti kau telepon Grandpa jika Naya sudah selesai. Tutt!" Tuan Liam memutuskan sambungan teleponnya.


Telepon terputus!


"Huft, selamat!" Kivandra menghela napasnya lega.


"Ayo, Farel. Kita harus cari gadis kocak itu sekarang, jangan sampai Grandpa marah besar." Kivandra meraih mantel tebalnya dan pergi dengan terburu-buru.


Sementara itu, Farel hanya menggelengkan kepala seraya menyusul kepergian tuannya.


***


"Cuaca semakin dingin, apakah kau akan tetap di sini? Di mana keluargamu?" tanya Chiko pada Naya.


"Tuan muda udah ninggalin Naya di jalanan, Naya tidak tahu hotel mana yang Tuan muda tinggali saat ini." Naya menundukkan kepalanya.


"Jika kau tidak keberatan, aku bisa membantumu. Kalau boleh tau siapa nama Tuan mudamu itu?"


"Tuan muda Kivandra," jawab Naya.


"Kivandra? Apa namanya Kivandra Galaxy Dharmendra?" tebak Chiko dengan menatap tajam Naya.

__ADS_1


"Hah? Bb-bagaimana Aa bisa tau nama lengkap Tuan muda?" Naya membelalakkan matanya.


***


__ADS_2