Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 86 > Tercyduk Majikan


__ADS_3

"Apa yang membuatmu mencariku, Nona?" tanya Pak Bagas dengan terus berjalan menghampiri Yumna.


"Begini, tadi Tuan Liam mencari Pak Bagas. Tuan Liam sudah siap," jawab Yumna dengan nada bicara yang santai. Padahal ia tahu jika Farel sedang bersembunyi sehingga membuatnya memberanikan diri untuk menghampiri Pak Bagas.


Berbeda dengan Farel, ia justru semakin ketar-ketir pada saat langkah kaki Pak Bagas mulai mendekati tempat persembunyiannya. 'Jangan nengok! Jangan sampai dia memergokiku di sini,' batin Farel berbicara sembari memejamkan matanya.


"Baiklah, aku segera datang." Pak Bagas mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke arah Farel.


Yumna berjalan pelan di belakang Pak Bagas. Setelah ia tertinggal jauh Oleh Pak Bagas, dengan cepat ia menarik lengan Farel dan membawanya ke salah satu gudang. "Aarrgghh!" teriak Farel karena terkejut. Ia pikir yang menarik tangannya adalah Pak Bagas.


"Sstt!" Yumna menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Deg!


Seketika jantung mereka bergemuruh dengan debaran yang tak biasanya ketika kedua mata mereka sing bertemu dan bertatapan satu sama lain. Beberapa detik kemudian mereka sadar. Yumna dengan cepat menarik jari telunjuknya yang masih menempel di bibir Farel. Begitupun dengan Farel, ia juga mulai salah tingkah dengan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Saat ini mereka berdua sudah berada di gudang tak jauh dari lorong tersebut. "Lu ngapain ada di sini, Rel?" tanya Yumna tiba-tiba untuk mencairkan suasana yang terasa canggung.


"Gue ngerasa ada yang janggal sama gerak-geriknya Pak Bagas. Makanya gue ikuti dia sampai ke sini. Dan benar saja, saat gue sampai di sini, gue lihatĀ  Pak Bagas sedang bicara di telepon tapi entah siapa yang dia telepon," jelas Farel dengan mata yang menunjukkan kejujuran.


"Asal lu tahu aja, Rel ... bukan lu aja yang ngerasa janggal sama Pak Bagas. Tapi, gue juga ngerasain hal yang sama. Dan lu tahu, hal penting apa yang mau gue ceritain sama elu?" Yumna memandang Farel dengan tatapan yang penuh dengan teka-teki.


"Siapa?"


"Pak Bagas. Lu tahu, kenapa gue sampai lari pontang panting dengan wajah pucat disertai banjir keringat?"


"Lu itu gimana sih? Ngapa nanya gue, 'kan yang tahu cuma elu," celetuk Farel dengan wajah bete. Ia paling bete jika lawan bicaranya terlalu bertele-tele dalam menjelaskan sesuatu.


"Okay, gini deh. Intinya ... gue lihat Pak Bagas lagi bicara sama Tuan Nero," jelasnya to the point.

__ADS_1


"Apa?" Farel terkejut bukan main begitu nama Nero disebut oleh Yumna. "Lu yakin Pak Bagas bicara sama Tuan Nero? Lu salah orang kali?" Farel merasa tidak percaya sehingga ia mencoba untuk menyangkalnya.


"Enggak, Rel. Gue yakin seribu persen. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Kalau lu mau, gue ada buktinya," tawar Yumna.


"Mana?" Farel meminta bukti tersebut.


"Ikut gue!" Yumna lagi-lagi menarik lengan Farel dan membawanya pergi.


****


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Rupanya orang yang mengetuk pintu tersebut adalah Pak Bagas. Saat ini ia berada di kamar Tuan Liam.


"Masuk!" terdengar suara Tuan Liam yang mempersilakan masuk kepada Pak Bagas.


Begitu mendapatkan izin untuk masuk, Pak Bagas dengan cepat masuk. Seperti orang pada umumnya, setelah masuk kamar, ia selalu menutup kembali pintunya. Begitupun dengan Pak Bagas.


"Betul. Saya cukup lama menungguku, Bagas. Sekarang juga kamu antar saya ke Buana Home!" perintah Tuan Liam pada sang supir baru.


"Baik, Tuan. Mari,"


"Ya." Tuan Liam bersama supir pribadinya pun keluar dari kamar dan berjalan menuju basement.


Mereka pergi ke basement melalui jalan pintas tanpa harus melewati ruang utama. Berbanding terbalik, disaat Tuan Liam akan pergi menuju kediamannya karena ada hal penting yang harus ia atasi. Kini cucunya yaitu Kivan telah sampai di rumah bersama sang istri. Kivandra dan Naya yang semalam telah membuat heboh satu rumah akibat sikap Bunglonnya itu.


****


"Assalamu'alaikum," ucap Naya dan Kivandra secara bersamaan pada saat mereka memasuki rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Mami Thalia yang berada dari dalam.


Kivandra dengan sang istri berjalan menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, mereka mendapati Mami Thalia sedang duduk dengan melipat kedua tangan di dada. "Bagus, Kivan! Semalaman kamu telah membuat Mami harap-harap cemas bersama Daddy. Dan sekarang, dengan beraninya kamu menunjukkan batang hidungmu seperti itu," Mami Thalia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri sang putra.


"Kivan minta maaf, Mi. Kivan tidak bermaksud buat Mami khawatir. Kivan hanya--" Kivandra mencoba mengelak, akan terapi ucapannya dipotong oleh sang ibu.


"Hanya apa, heumm? Jangan membuat alasan, Kivan. Sekarang kamu harus Mami hukum!" Mami Thalia hendak menjewer telinga sang putra.


Namun, diluar dugaan. Belum sempat tangan Mami Thalia menyentuh telinga Kivan dan menjewernya, pria itu langsung lari terbirit-birit menghindar dari hukuman maminya. "Ampun, Mami. Kivan khilaf, Kivan tidak akan mengulanginya lagi," teriak Kivandra dengan begitu jelas dan lantang.


"Enggak. Kali ini kamu harus dihukum! Jangan mentang-mentang ada istrimu yang akan membelamu, sehingga kamu tidak akan mendapatkan hukuman apapun. Tidak semudah itu menghindar dari Mami, Kivan. Mami akan tetap mengejarmu!" Mami Thalia tak mau kalah, ia berlari mengejar sang putra.


Sementara itu, Naya yang melihat aksi kejar-kejaran itu hanya menggelengkan kepalanya disertai tawa kecil. Terkadang, melihat Mami Thalia dengan Kivandra itu bukan seperti ibu dan anak melaikan adik dan kakak. Mereka selalu beradu argumen yang akhirnya akan saling mengejar. Tingkahnya begitu lucu bak film kartun tom & jerry.


Karena merasa haus, Naya berjalan menuju dapur. Ia berniat untuk mengambil air. Namun, sesampainya di dapur, ia melihat Yumna bersama Farel tengah membicarakan sesuatu yang agaknya terlihat begitu serius. Naya yang merasa penasaran pun mulai berjalan menghampiri keduanya.


Tanpa Farel dan Yumna ketahui, saat ini Naya sudah berada di samping keduanya. Naya menyimak serta melihat salah satu foto yang ada di ponsel. Entah itu ponsel Yumna atau Farel. "Astaga!" sontak Naya tiba-tiba terkejut pada saat memperhatikan foto tersebut.


Bagaimana tidak, foto yang ia lihat adalah foto Pak Bagas yang sedang berbicara dengan Pak Nero. Naya bingung, dari mana mereka bisa mendapatkan foto itu. Berbeda dengan Naya, Farel dan Yumna justru baru menyadari jika majikannya berada di sebelah keduanya.


"Nyonya? Ss-sejak kapan ada di sini?" tanya Yumna dengan sedikit terbata-bata.


"Sejak tadi. Boleh aku tahu sesuatu, tentang apa yang kalian bicarakan ini? Siapa yang telah memotret ini?" tanya Naya dengan tatapan yang kalem.


Deg!


'Mampusss! Kita ketahuan,' batin Yumna menggerutu seraya melemparkan tatapan yang berkode pada Farel.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2