
"Menghamili?" Naya terkejut bukan main disertai matanya yang membelalak menatap ke arah sang suami.
Tentu, melihat istrinya yang begitu terkejut membuat Kivandra tertawa terbahak-bahak. Ia menertawakan Naya sembari mengaduk-aduk minuman yang ia pesan. "Mas! Apakah ini hal yang lucu?" tegas Naya dengan tatapan yang serius.
"I'm sorry, honey. Aku hanya bercanda saja. Aku suka melihatmu terkejut seperti ini. Kamu terlihat begitu seksi ketika terkejut," kekeh Kivandra dengan menyentuh tangan kanan sang istri.
"Meuni pikaseubeuleun pisan! (Benar-benar, menyebalkan!) ...," gerutu Naya dengan bibir yang dikerucutkan.
"Ya udah, Aa nyuhunkeun di hapunten (Mas minta maaf)," balas Kivandra dengan beebahasa Sunda.
Sontak, kedua mata Naya kembali membola begitu mendengar suaminya bicara menggunakan bahasa Sunda. 'Lho, sejak kapan dia bisa berbahasa Sunda?' tanya Naya dalam batinnya.
Naya keheranan mendengar suaminya bicara menggunakan bahasa Sunda. Sebab, selama ini ia belum pernah mengajarkan bahasa Sunda kepada suaminya. Ini pertama kalinya Kivandra bicara menggunakan bahasa Sunda. Rasanya sulit dipercaya karena setahu Naya, Kivandra tidak begitu menyukai bahasa Sunda. Namun, malam ini ia mendengarnya secara langsung jika suaminya bicara bahasa Sunda.
"Ekhem!" Kivandra berdehem sambil melihat ke arah sang istri yang tengah melamun.
Monolog Naya buyar setelah mendengar suaminya berdehem. "Mas yakin cuma bercanda?" tanya Naya dengan tatapan yang masih serius.
"Ayolah, Sayang ... aku hanya bercanda. Tidak pernah terbesit sedikitpun untuk mengkhianatimu," jelas Kivandra, meyakinkan sang istri dengan menggenggam tangannya. Tentunya disertai tatapan yang penuh kejujuran.
Mendengar itu, Naya tersenyum sembari mengangguk kecil. "Naya percaya itu,"
"Baiklah, lupakan gurauan itu. Katakan, bagaimana bahasa Sunda yang aku ucapkan?" tanya Kivandra dengan mengalihkan pembicaraan.
"Very good. Kalau boleh tahu, Mas belajar bahasa Sunda dari mana? Bukankah Mas tidak menyukai bahasa Sunda?" tanya Naya dengan wajah yang penasaran.
"Tidak penting aku belajar dari mana, yang jelas aku sudah bisa bahasa Sunda. Lain kali kamu harus berhati-hati." Kivandra menaik-turunkan alisnya.
"Berhati-hati dalam hal apa?" Naya mengerutkan keningnya karena bingung.
"Dalam berbicara. Karena jika kamu marah dan mengata-ngataiku pakai bahasa Sunda, aku bisa memahami itu. Berhati-hatilah," jawab Kivandra disertai kedipan matanya.
"Kamu curang, Mas! Jadi, selama ini kamu sudah memahami bahasaku?"
"Sure. Oh iya, aku hampir lupa. Bukankah kamu bilang mau membicarakan sesuatu? Apa itu?" Kivandra tiba-tiba teringat tentang ucapan istrinya perihal yang ingin dibicarakan.
"Begini, Mas ... Mami dan Grandpa menginginkan Naya untuk belajar berbisnis," ujar Naya dengan menatap lekat sang suami.
"Berbisnis apa?" tanya Kivandra.
"Bilangnya sih kuliner gitu. Dan Grandpa sudah membelikan sebuah restoran untukku."
__ADS_1
"Wow, itu berita gembira, Sayang. Ya bagus dong jika Mami dan Grandpa ingin menantunya terjun ke dunia bisnis. Aku sangat menyetujui hal ini," ujar Kivandra dengan begitu antusias.
"Tapi, Mas ... kamu tahu sendiri 'kan kalau aku itu bukan wanita berpendidikan? Aku tidak yakin bisa menjalankan bisnis ini," timpal Naya dengan suara yang tidak yakin.
"Hei, ayolah ... kamu harus yakin. Ada suamimu ini yang akan membantumu. Aku akan mengajarimu, sampai kamu menjadi wanita berkelas walaupun kamu tidak berpendidikan. Ingat, Sayang ... keberhasilan itu selalu ada untuk orang yang mau berusaha. Maka yakinkan hatimu bahwa suamimu ini akan berhasil mengubahmu menjadi wanita berkelas," jelas Kivandra dengan penuh keyakinan.
"Heum ... okay." Naya menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, ayo kita makan. Setelah itu kita pulang,"
"Iya, Mas." Naya tersenyum sambil mengambil makanannya.
****
Cekrek!
Cekrek!
Suara jepretan kamera. Terlihat seseorang tengah memotret Naya dan Kivandra di pojokan. Setelah itu dia merogoh ponsel di dalam sakunya. Tak lama setelah itu, orang itu menghubungi seseorang yang saat itu juga panggilannya diangkat.
Telepon terhubung!
"Katakan!" ucap seseorang yang berada di seberang telepon.
"Kivandra dan keluarga berencana akan membuka sebuah restoran untuk Naya. Dan Bos tahu, Kivandra sendiri yang akan mengajari istrinya. Sepertinya Kivandra sudah sangat menyayangi istrinya itu," jelas orang itu dengan mata yang masih tertuju pada Kivandra dan Naya.
"Si*lan! Entah apa yang dilakukan wanita kampung itu pada putraku! Sehingga putraku, Kivan mau repot-repot membantu wanita itu. Lihat saja, akan kupastikan bisnis mereka hancur. Semua ini gara-gara si tua bangka Liam! Ingat, tujuanmu! Tetap buntuti mereka dan hubungi aku jika ada kabar lain!" Terdengar suara pria tengah marah di seberang telepon.
"Baik, Bos."
"Tutt!" Panggilan berakhir.
Telepon terputus!
Tak selang berapa lama, orang itu melihat Kivandra dan juga istrinya pergi meninggalkan restorannya. Dengan cepat ia beranjak dari duduknya dan menaruh dua lembar uang ratusan di meja. Kemudian ia mengikuti Naya dan Kivandra.
****
Di titik yang berbeda tepatnya di kediaman yang begitu mewah dan besar. Di halaman rumah tersebut terpampang jelas nama CHALONDRA HOME. Benar, rumah mewah tersebut adalah milik seorang duda yang bernama Nero Chalondra. Usut punya usut, Nero adalah seorang pria yang sudah menduda sekitar belasan tahun.
Yang paling mengejutkan, ternyata Nero Chalondra adalah mantan suami Thalia Valeska Norabel. Yup, pria duda ini adalah papinya Kivandra. Tak pernah ada yang tahu kenapa pernikahan Nero dan Thalia kandas. Karena pernikahan mereka tidak pernah diumbar ke media.
__ADS_1
Berpindah ke kamar seorang Nero ....
Kini sang duda yang memiliki paras rupawan tengah terduduk di ranjangnya dengan pakaian berjasnya. Kedua tangannya mengepal disertai bola mata yang berubah merah pekat. Bisa dipastikan jika amarah sang duda tersebut sedang memuncak.
Bagaimana tidak, Nero baru saja mendapat kabar jika sang putra kebanggaannya telah mencintai wanita yang sudah jelas-jelas tidak sepadan dengan status sosialnya. Selama ini Nero tidak pernah tahu mengenai pernikahan putra kesayangannya dengan Naya, gadis kampung yang dijodohkan dengan Kivandra. Sang duda ini tahu dari mantan tunangan putranya yang bernama Alice.
Yup, wanita yang sering dikatakan toxic oleh putranya sendiri. Meski ia mengetahui kesalahan Alice dalam mengkhianati putranya, Nero tidak pernah menyalahkan kesalahan itu sepenuhnya pada Alice. Ia justru sangat mengharapkan jika Alice bisa menjadi menantunya dengan menikahi putranya. Namun, harapannya harus musnah ketika ia mendapatkan kabar dari Alice bahwa Kivandra sudah dinikahkan dengan gadis kampung yang merupakan cucu dari pembantunya sendiri.
Itulah, kenapa amarahnya semakin memuncak dan membuat dirinya harus bertindak sesuatu untuk menyelamatkan putranya dari Naya. Nero memang tidak pernah mengenal siapa Naya sebenarnya. Meski Naya berasal dari kampung, akan tetapi attitudenya sangat baik. Hal itu yang membuat mantan ayah mertuanya, Liam menjodohkannya dengan Kivandra.
Namun, tetap saja Nero tidak menyetujui pernikahan mereka. Baginya perbedaan status sosial yang begitu jauh tidak akan membuat pernikahan bahagia. Perbedaan status hanya akan mempermalukan putranya dan akan mencemari nama baik Nero sebagai Lawyer. Nero yang sudah tidak bisa menahan amarahnya itu pun segera menghubungi Alice, mantan tunangan putranya. Sehingga tak lama kemudian, Alice mengangkat teleponnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Om Nero," sapa Alice dari seberang telepon.
"Alice, apakah kamu ada waktu sekarang?" tanya Nero.
"Iya, Om. Kenapa memangnya?"
"Bisakah kita bertemu sekarang? Ada hal yang harus Om bicarakan denganmu,"
"Okay, Om mau ketemu di mana? Apa Alice yang datang ke rumah Om?"
"Tidak perlu, biar Om saja yang datang ke rumahmu."
"Okay, Om. Alice tunggu."
"Sampai jumpa, tutt!" Nero mengakhiri pembicaraannya.
Telepon terputus!
Selesai menghubungi Alice, Nero bergegas pergi menuju kediaman Alice.
****
Apa yang akan Nero lakukan sekarang?
****
Stay tune :)
__ADS_1